
Kedatangan Erlan membuat Yoona segera berlari ke arah suaminya, ia ingin memberitahukan tentang kebenaran yang sedang terjadi. Tetapi lebih cepat, Alice berdiri di depan dengan berusaha menentangnya.
"Mau ngapain lagi kamu? Sudah belum puas menghancurkan hidup Erlan? Setelah kau membuat tunangannya tiada, lalu sekarang kau berniat untuk membunuh Jerrol. Lalu nanti siapa lagi yang akan menjadi korbannya, Yoona? Bahkan aku sangat heran saat kamu berpura-pura menangis di depan kami berdua," geram Alice dengan tegas.
Yoona terdiam sampai tidak menduga bahwa Alice berusaha membalikkan cerita. "Kebohongan apa yang sedang kamu katakan, Alice? Mas Erlan, tolong jangan percaya dengan semua ucapannya itu. Aku sama sekali tidak berniat untuk membunuh Jerrol, tapi sebaliknya Alice sendiri yang sudah merencanakan semua ini."
"Yoona, apa maksudmu?! Bagaimana mungkin aku melakukan rencana ini sedangkan sejak tadi aku hanya bersama dengan Erlan? Kamu lihat istrimu ini, kan? Dia benar-benar kurang ajar sampai menuduhku seperti itu. Padahal jelas-jelas ini ulah mu, Yoona. Apalagi saat itu aku melihatmu pergi bersama dengan Jerrol," bantah Alice demi mencari pembenaran.
"Dia yang berbohong, Mas Erlan. Aku sama sekali tidak melakukan apapun. Justru dia yang mengancam diriku, Mas. Tolong percayalah padaku." Yoona memohon dengan menggenggam tangan suaminya, tetapi dengan cepat Erlan gelap mata karena amarah.
"Berhentilah untuk memohon atas apa yang sudah kau lakukan sendiri, Yoona. Aku sudah terlalu membiarkan dirimu tenang dengan berkeliaran di rumahku setelah kasus kematian tunanganku, tapi sekarang kau justru menjadikan Jerrol sebagai korban barumu lagi. Apa kau ini seorang iblis? Yoona, kau tahu bagaimana pentingnya Jerrol bagi pekerjaanku, kan? Benar-benar tidak bisa aku bayangkan," sahut Erlan yang lebih memilih percaya sebelum melihat bukti apapun.
"Mas, kamu juga tidak mempercayai diriku? Sekali lagi tolong, jangan biarkan wanita itu merasuki pikiranmu. Dia hanya menginginkan dirimu. Maka dari itu, dia berusaha untuk menyingkirkan diriku sekarang."
"Hentikan omong kosong mu itu, Yoona. Alice tidak akan mungkin melakukan hal itu, bahkan ketika aku bersama Fiona, dia masih tetap baik kepada kami berdua. Sekarang ikut denganku. Kita akan ke penjara," ajak Erlan seraya menggenggam erat tangan Yoona.
"Penjara? Ti-dak, Mas Erlan. Aku tidak ingin ke sana. Tolong, jangan lakukan semua itu. Aku sama sekali tidak bersalah."
"Jangan membantah diriku."
"Mas, aku mohon jangan ...," pinta Yoona sembari menggelengkan kepalanya. Melihat Erlan yang sama sekali tidak mendengar, dengan cepat ia mengigit pergelangan tangan suaminya agar bisa terlepas.
Yoona berlari dengan cepat demi bisa menghindar dari kejaran Erlan dan Alice, namun saat itu perutnya kembali merasa sakit, dan sudah tidak kuat untuk bergerak. Membuat Yoona memilih untuk bersembunyi ke dalam toilet rumah sakit, hingga membuat mereka tidak lagi menemukan dirinya.
"Kita harus bertahan, Nak. Jangan buat Mama pingsan di sini, tolong!" batin Yoona saat penglihatannya mulai terlihat buram. Hingga perlahan ia tergeletak di tempat.
Berbeda dengan Erlan dan Alice yang masih berusaha mencari keberadaan Yoona, namun wanita itu tidak lagi terlihat.
"Sepertinya Yoona berusaha bersembunyi dari kita, Erlan. Dia tidak akan mungkin keluar dari sini dengan begitu cepat," ucap Alice sembari melihat ke sekelilingnya.
"Ya sudah, kita tidak perlu lagi mencarinya. Ayo kita kembali. Aku harus mengurus pemakaman Jerrol lebih dulu."
"Lalu apa kau ingin menunda agar Yoona tidak jadi masuk penjara?"
"Ya karena memang aku tidak berniat untuk memasukkan dirinya ke penjara, Alice. Meskipun Yoona bisa saja bersalah, tapi aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang kebenarannya. Lagi pula kematian Jerrol bisa saja karena memang kecelakaan yang terjadi, tidak akan mungkin ada motif pembunuhan di sini. Apalagi apa untungnya bagi Yoona untuk harus melakukan semua itu? Aku rasa, ini hanya sekedar kesalahpahaman. Tapi, biarkan Yoona berpikir aku percaya dengan kasus ini. Dengan begitu Yoona akan tersadar dengan semua yang sudah ia perbuat kepada tunanganku dulu," sahut Erlan yang masih memiliki rasa kasihan.
"Sejujurnya aku pun tidak akan percaya kalau kau pelakunya, Yoona. Terlebih Jerrol denganmu sudah seperti teman, bukan musuh. Tapi, aku tidak tahu caranya untuk bersikap baik di depanmu apalagi saat melihat wajahmu yang terus membuatku terbayang dengan tunanganku dulu," batin Erlan.
Melihat Erlan yang bersikap santai, membuat Alice sama sekali tidak suka. "Sial! Aku sudah bersusah payah untuk melakukan rencana ini, tapi Erlan sama sekali tidak berkutik untuk membawa Yoona ke dalam penjara. Baiklah, biarkan aku yang melakukan tugas ini sendirian. Tanpa perlu orang lain yang tahu."
"Ya sudah kalau memang kamu tidak mau, maka tidak apa-apa. Sekarang sebaiknya kita kabarkan Pak Agra tentang kematian Jerrol."
"Tentu, ayo."
***
Yoona masih belum sadarkan diri, tetapi seseorang sudah menemukan keberadaannya. Wanita itu berteriak keras saat berpikir jika wanita itu telah tiada. Hingga teriakannya terdengar ke luar.
Para penjaga rumah sakit mulai menghampirinya sembari memberikan perawatan intensif.
"Apa wanita ini sudah tiada?"
"Tidak, dia masih bernafas."
__ADS_1
"Syukurlah dia masih bernafas. Sepertinya dia sedang hamil, kasihan sekali," sahut Linda Veeary, seorang pengusaha roti yang sudah berumur kepala tiga, dan sudah menjadi seorang ibu tunggal selama lima tahun.
Perjuangannya menjadi seorang ibu, membuat Linda begitu tidak tega ketika melihat sesama wanita tersakiti. Ia begitu berharap agar wanita yang baru ia selamatkan bisa kembali pulih.
Menunggu sampai Yoona tersadar kembali, lalu dokter mendekat ke arah Linda.
"Apa dia baik-baik saja? Sepertinya dia sedang mengandung, Dok."
"Benar, Bu. Wanita ini memang sedang mengandung, tapi dia dalam keadaan stress berat. Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak bebas dan hilangkan stress. Jika tidak akan berdampak buruk untuk bayinya nanti. Ini resep obat untuknya nanti."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Berarti wanita ini tidak perlu dirawat, kan?"
"Tidak perlu. Dia bisa langsung pulang."
Tersenyum perlahan sembari mengusap bahu Yoona, lalu Linda bertanya. "Apa kau sudah merasa lebih baik? Aku tadi tidak sengaja menemukanmu pingsan di toilet."
"Jadi, kau sudah menolong ku? Terima kasih atas bantuannya. Aku akan membalas semua kebaikanmu ini. Siapa namamu sebenarnya?"
"Namaku Linda Veeary, dan aku ada di sini bersama anakku yang juga sedang di rawat. Ngomong-ngomong di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang sambil sekalian."
"Tidak usah, Mbak. Aku sudah terlalu banyak merepotkan dirimu. Sebaiknya pergilah. Lagi pula aku tidak tahu harus pulang ke mana," sahut Yoona yang kembali mengingat bahwa dirinya telah diusir oleh Erlan.
"Apa kamu tidak punya rumah atau baru pergi dari rumah suamimu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Ya, aku pergi dari rumah suamiku. Lebih tepatnya kami sedang bertengkar."
"Ya ampun. Baiklah begini saja, kalau memang kamu tidak keberatan, untuk sementara waktu tinggallah bersamaku. Lagi pula aku juga hanya tinggal berdua dengan anakku."
"Tidak apa-apa, jika tidak mau tinggal di mana selain denganku? Yoona, kita bisa berbagi tempat, itu tidak masalah. Saat suamimu nanti datang, kau bisa pulang. Daripada berkeliaran tidak jelas di tengah kondisimu seperti ini, kan? Lebih baik ikut denganku." Linda terus memaksa karena ia benar-benar merasa kasihan.
"Tapi, Mbak-"
"Sudah, jangan menolak. Aku hanya akan mengajakmu sekali. Lalu di mana barang-barang mu? Apa masih ada di rumah suamimu?"
"Ya, sebenarnya memang aku tidak berniat untuk pergi darinya. Terlebih semua barang ku masih di sana. Mungkin kau bisa membantuku untuk mengambilnya."
"Tentu saja, tidak masalah. Aku bersedia mengambilnya," sahut Linda seraya tersenyum kecil.
"Kamu sudah banyak membantuku, Linda. Aku berjanji akan membalas semua bantuanmu ini."
"Santai saja, Yoona."
"Um, ngomong-ngomong siapa nama suamimu, Yoona?"
"Mas Erlan. Mungkin kau mengenalnya."
"Erlan? Maksudnya CEO yg kaya raya itu, kan? Ya, aku sering mendengar tentangnya terlebih di surat kabar. Apalagi perusahaannya cukup besar. Jadi, siapa yang tidak tahu dengannya. Tapi ngomong-ngomong, bukankah setahuku suamimu sangat mencintaimu? Maaf, tapi aku tidak bermaksud untuk bertanya. Hanya saja ... ini sedikit membingungkan untukku saat melihatmu sedang hamil muda berjalan sendirian seperti sekarang."
"Entahlah, semuanya terjadi begitu saja, dan mungkin sudah menjadi takdirku," sahut Yoona dengan sekedarnya. "Lebih baik aku tidak menceritakan masalah rumah tanggaku kepada orang lain, apalagi orang asing seperti wanita ini. Meskipun dia terlihat sangat baik, tapi aku tidak boleh sepenuhnya percaya begitu saja."
"Oh ... ya aku mengerti sekarang. Ya sudah ayo kita pergi. Apa kau mau mengambil pakaianmu sekarang juga?"
"Tentu saja, jika memang kau tidak keberatan membantuku."
__ADS_1
"Santai lah. Itu hal yang mudah, ayo!"
Berbeda dengan di kediaman Erlan yang baru saja pulang dari pemakaman Jerrol. Mereka semua bersedih atas kepergian pria itu, terlebih orang yang paling dipercayai.
Papa Agra terduduk dalam diam ketika merasa heran dengan kematian Jerrol yang terlihat seperti disengaja, tepat ketika mereka melihat rekaman dari jalanan tempat kejadian.
"Erlan, aneh sekali, bukan? Kondisi ini sangat mustahil terjadi kecuali ada dua faktor saat supir truk tersebut mabuk atau mengantuk. Tapi sayangnya, pengemudi truk itu juga kabur di tempat," ucap Papa Agra dengan begitu serius.
"Ya, aku juga berpikir sama denganmu, Pa. Memang di sini sangat aneh sekali. Terlebih kita semua tahu kalau Jerrol selalu waspada dalam segala keadaan."
"Memang di sini Yoona tidak bersalah meskipun kejadian Jerrol terjadi setelah mengantarkannya pergi. Sepertinya tadi aku sudah terlalu kasar dengannya, bahkan sekarang aku tidak tahu dia pergi ke mana," batin Erlan yang sadar akan kesalahannya sendiri ketika melihat buktinya.
"Seperti ada kasus kesengajaan di sini, Erlan. Akan lebih baik kita harus mencari tahu supir truk tersebut. Mungkin dengan begitu, kita bisa tahu siapa dalang di balik semua ini," ucap Papa Agra.
"Um ... maaf jika aku tiba-tiba bicara. Tapi, sejak tadi aku tidak melihat Kakak Yoona di sini? Lagi pula, kalian baru pulang honeymoon kan? Terus sekarang di mana istrimu, Kak?" tanya Emma yang tersadar lebih dulu. Sampai ke pemakaman tidak terlihat.
"Emma benar! Di mana istrimu sekarang, Erlan? Papa juga tidak melihatnya sejak tadi. Apa kalian sedang bertengkar? Lalu kenapa Alice yang berada di sini?" Papa Agra mulai melihat kejanggalan yang baru.
"Um, maafkan saya, Pak. Tetapi saya ke sini karena masih ingin membahas tentang proyek tersebut kami bersama Tuan Erlan," jawab Alice yang berusaha untuk tetap santai.
"Yoona ada di sini, Pa." Terdengar suara Yoona yang tiba-tiba muncul. Membuat mereka semua menatap kearahnya. "Memang aku pergi sedikit terlambat untuk mengunjungi makamnya Jerrol. Maaf karena sudah membuatmu cemas, Papa."
"Loh? Suamimu ada di sini, lalu darimana saja kamu, Nak? Apa kalian berdua memang sedang bertengkar? Sepertinya Papa melihat tidak saling berbicara. Bahkan sama sekali Erlan hanya berdiam diri melihatmu. Masuklah, Nak."
"Baik, Pa."
Tiba-tiba Erlan bangkit dari duduknya, lalu menatap ke arah Yoona. "Tunggu dulu!"
Langkah kaki Yoona perlahan berhenti saat mendengarnya. Ia merasa jika Erlan akan mengusirnya kembali.
"Mas Erlan, aku tidak akan lama karena memang hanya untuk mengambil bajuku saja. Tolong! Biarkan aku mengambilnya dulu, baru setelah itu kita bicara," ucap Yoona.
Semakin membuat Papa Agra dan Emma terheran saat mendengarnya. Mereka saling menatap, lalu ikut mendekat.
"Baju? Apa maksudnya, Kak? Memangnya kamu mau pergi ke mana?" tanya Emma dalam kebingungan.
Merasa sudah tidak pantas lagi untuk berada di tempat itu, terlebih ketika Erlan sudah memintanya untuk segera pergi. Menarik nafasnya perlahan sembari menggenggam erat tangan Linda yang sejak tadi berada di sampingnya.
"Maaf jika membuat Papa dan Emma terheran, tapi ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian mengenai pernikahanku dan Mas Erlan," ucapnya setelah mengumpulkan kebenarannya.
"Tentu saja, Nak. Sebaiknya ayo kita bicara di sini saja. Duduklah dulu, apalagi kau dan Erlan baru pulang honeymoon. Jadi, pasti sangat kelelahan. Mari, Yoona."
Emma membawa tangan kakaknya sembari duduk berdekatan. Namun berbeda dengan Erlan yang sejak tadi terus menatap ke arah istrinya.
"Sebenarnya apa yang ingin Yoona bicarakan dengan Papa Agra? Apa mungkin dia ingin membongkar tentang aku yang sudah meminta cerai? Padahal, aku ingin meminta maaf atas tuduhan ku yang sudah salah paham," batin Erlan.
Begitupun dengan Alice yang diam-diam mencolek tangan Erlan dengan perlahan, sembari membisikkan sesuatu. "Sayang, sepertinya waktu untuk kita bersama akan semakin mudah. Mungkin setelah ini papamu akan sangat memarahinya, apalagi setelah kepergian Jerrol."
"Berhenti bicara, Alice. Jangan membuat Papa Agra dan Emma curiga dengan kedekatan kita sekarang," sahut Erlan dengan kembali berbisik.
"Baiklah."
"Aku harap kalau Yoona benar-benar menjadi bahan amarah di dalam keluarga ini. Dengan begitu, posisiku akan semakin mudah berganti menjadi seorang istri, bukan kekasih gelap," batin Alice dengan penuh harap.
__ADS_1