Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Kepergian Alice Dan Ernio


__ADS_3

Seketika Erlan dan Yoona sangat terkejut, dan mereka mulai menyaksikan saat sebuah acara mulai memberitakan tentang sebuah kecelakaan yang terjadi pada orang lain. Terlebih yang semakin tidak mereka pahami ketika kedua nama orang tersebut disebutkan.


"Apa? Alice dan Ernio? Mereka ... Mas Erlan, itu tidak mungkin terjadi, kan?" tanya Yoona yang begitu sangat tidak menduga.


"Aku tidak tahu hal ini benar atau tidak, Yoona. Tapi, kita bisa memastikan bahwa kebenarannya benar setelah melihat langsung. Kita sebaiknya ke sana, aku ingin memastikan tentang adikku," sahut Erlan yang begitu mencemaskan tentang Ernio.


"Aku ikut denganmu, Kak," timpal Emma dengan tiba-tiba.


"Baiklah kita akan pergi bersama."


"Mas Erlan, tunggu. Apa tidak sebaiknya kita mengajak Mama Sania juga? Bagaimanapun Alice itu tetaplah putrinya. Aku akan memanggilnya dulu."


"Tentu saja, Yoona. Panggil ibumu, aku akan menunggu di mobil."


Semua orang bergegas pergi begitupun dengan Mama Sania yang sejak tadi terus menangis tanpa hentinya, ia terlalu takut jika memang itu putrinya.


Tiba di tempat kejadian, tidak semua orang bisa melangkah ikut melihat secara langsung, namun hanya keluarga yang diperbolehkan untuk ikut masuk. Melihat dua jenazah yang sudah terbungkus di dalam kertas, terutama dengan sebuah mobil yang begitu dikenali.


"Itu memang benar mobil Ernio, aku sendiri yang membelikan untukku sebelum ia berangkat ke Kanada dulu," ucap Erlan.


"Aku semakin tidak mengerti kenapa semua ini terjadi? Meskipun aku begitu tidak suka dengan Alice, tapi dia masih berhak untuk hidup. Namun, berbeda dengan Ernio yang baru saja membuat Erlan tersadar akan kepeduliannya padaku, tapi justru dia pergi secepat ini. Semoga saja itu bukan mereka berdua," batin Yoona.


Pihak keluarga masih menunggu sampai pihak kepolisian memberikan izin untuk segera membuka kertas jenazah tersebut. Papa Agra sebagai perwakilan untuk melihat putranya, dan Mama Sania yang menjadi perwakilan untuk melihat Alice.


Meskipun wajah mereka masih belum begitu terlihat jelas, tetapi beberapa bagian mata, hidung, dan mulut masih memperlihatkan jika memang mereka berdua. Terutama ada identitas yang menyatakan memang benar mereka. Pihak kepolisian pun mulai menerangkan jika kecelakaan ini murni kecelakaan tunggal tanpa terdengar atau lebih jelasnya lagi karena niat bunuh diri, bukan karena kecelakaan yang direncanakan.

__ADS_1


Termasuk pihak kepolisian juga menemukan sebuah rekaman suara dari dalam mobil milik Ernio. Mereka segera memberikannya kepada Erlan. "Pak, ini yang juga kami temukan. Lebih baik di lihat oleh keluarga, namun kami juga harus mendengarnya sebagai bukti dari kasus ini."


"Baik, Pak. Lakukanlah yang terbaik."


Papa Agra berusaha kuat setelah ia memastikan tentang kebenaran Ernio. Sedari tadi Erlan terus berusaha menguatkan ayahnya. Berbeda dengan Mama Sania yang sama sekali tidak ingin ketika Yoona ingin memeluknya, justru menjauh dan menyendiri setelah mengetahui kebenaran tentang Alice.


***


Acara pemakaman telah selesai, namun Mama Sania masih memiliki tempat untuk pulang ke rumah Erlan. Yoona bergerak mendekat sembari berniat membawa cover milik ibunya, namun ternyata Mama Sania segera merampas kembali covernya.


"Jangan berusaha bersikap baik apalagi setelah kepergian putriku lagi. Kau pasti sangat bahagia, bukan? Setelah Fiona—kakakmu lalu sekarang Alice—putri kesayanganku. Tidak cukup bagimu untuk membuat mereka semuanya tiada? Lalu setelah ini siapa lagi yang akan kau matikan? Apakah aku, begitu?" tuduh Mama Sania yang langsung melampiaskan amarahnya.


"Kenapa selalu saja Mama berpikir buruk tentang diriku? Padahal jika waktu berulang, aku pun tidak akan mau kalau seandainya saja aku menggantikan posisi Kak Fiona. Ini sudah takdirnya, Ma, dan aku bukanlah penyebab atas kepergian Alice. Sekarang bukan aku yang bersalah, jadi tolong berhentilah untuk memikirkan hal itu," bantah Yoona.


"Lihatlah kalian berdua. Belum genap satu hari pemakaman putriku, tapi kalian sudah sangat bersemangat sekali. Sepertinya aku memang tidak pantas untuk tinggal di rumah ini, maka aku akan segera pergi karena di sini tidak lebih baik dari sebuah neraka," ketus Mama Sania sampai menatap tajam tanpa memikirkan perasaan Yoona.


Ingin segera membuat Yoona menghentikan ibunya, tetapi Erlan berusaha menggelengkan kepalanya sampai tidak berniat untuk melepas rangkulan.


"Jika memang keputusannya seperti itu, maka tidak perlu menghalangi jalannya, Yoona. Biarkan dia seperti ini, karena cepat atau lambat, dia juga sendiri yang akan melihat kebenarannya," bisik Erlan.


"Entah ini benar atau tidak, tapi membiarkan mama pergi dari rumahku sekarang menjadi sebuah keputusan buruk di dalam hidupku. Apalagi ketika Alice sudah tidak bisa menemaninya lagi," batin Yoona yang masih sangat bimbang dengan keputusan suaminya.


"Mas Erlan, biarkan aku membuat mamaku percaya denganku, tolong." Tiba-tiba Yoona memohon.


"Aku tidak suka jika istriku di hina, apalagi kalau sampai direndahkan dan tidak hargai setiap waktu seperti ini. Yoona, kita sudah berkeluarga, dan keputusan ku menjadi sebuah perhitungan bagimu. Kalau kau memang ingin membawa ibumu tinggal di sini lagi, maka aku yang akan ke luar dari rumah kita. Pikirkan saja tentang hubungan ini, jangan sampai kehancuran kedua kembali hadir di sini," saran Erlan dengan sangat tegas.

__ADS_1


Tanpa menunggu Yoona menjawab, Erlan segera melangkah pergi. Membuat Yoona semakin tidak ingin jika harus mendapatkan masalah yang jauh lebih besar bersama suaminya.


Tepat ketika Yoona ingin menyusul Erlan, terdengar suara bel berdering dari arah luar. "Sepertinya ada orang yang datang, tapi siapa?"


Yoona segera melihat, ternyata seorang tukang pos yang datang. "Nona, saya memberikan surat kepada nama penerima Yoona Adelia. Ini suratnya, dan tolong tanda tangan di sini."


"Apa ada nama pengirimnya, Pak?"


"Tidak ada, Nona. Pria itu tidak menyebutkan namanya."


"Baiklah."


"Terima kasih banyak, Nona."


Yoona terheran karena sebelumnya tidak pernah ia mendapat surat seperti ini. "Aku jadi tidak sabar ingin membacanya."


Dengan perlahan Yoona membuka surat tersebut sembari setelah ia tiba di dalam kamarnya. Namun justru sebuah kunci mobil terjatuh saat di dalam amplop surat ternyata juga di titipkan sebuah kunci.


Membuat Yoona teringat dengan benda tersebut. "Ini kan hadiah dari Ernio. Apa maksudnya surat ini?"


"Hai Yoona ... jika kau membaca surat ini, maka sudah aku pastikan jika aku telah tiada. Mungkin kau bingung, tapi itulah kenyataannya. Aku sengaja ingin menuliskan surat tersebut karena tidak ingin membuat kau dan keluargaku menjadi rasa bersalah karena kepergian diriku dengan tiba-tiba. Sebelum aku memutuskan untuk bunuh diri, maka aku sudah lebih dulu mengirimkan surat ini untukmu. Di sini aku hanya ingin minta maaf atas semua kesalahan dan pemaksaan yang telah aku perbuat, jujur aku melakukan itu karena aku merasa kau tidak bahagia dengan Kak Erlan. Tapi sekarang tidak lagi, saat aku menyadari tatapan mata suamimu terlihat begitu tulus. Maka karena itulah, aku memutuskan pergi daripada aku harus mati di tangan kakakku sendiri, dan membahayakan kondisimu, maka lebih baik aku pergi dengan caraku. Oh ya, hadiah mobil yang sudah kau tolak tetap aku berikan kembali karena itu sebuah kerja keras yang aku lakukan selama ini. Aku sangat mencintaimu, Yoona, tapi aku tahu jika dirimu jauh mencintai kakakku. Berbahagialah dengannya karena aku ingin kau tidak lagi menangis. Kecantikan saat kau tersenyum yang membuatku sangat senang. Satu lagi, Alice lah yang sudah memintaku untuk menjebak mu, kau tahu bagaimana dia? Dia sungguh buruk sampai melakukan banyak demi bisa menyingkirkan dirimu. Tapi jangan khawatir, Yoona. Aku sendiri yang akan mengatasi Alice bersama denganku. Sebelum kita berpisah, tolong jagalah cintamu juga anakmu. Keguguran yang sudah aku perbuat sampai kau harus merasa kehilangan calon masa depan, maka sekarang aku akan membalasnya dengan kepergianku. Yoona, aku mencintai, dalam cinta dariku—Ernio."


Sebuah isi surat yang sedang Yoona bacakan. Tetesan air mata mulai turun saat Yoona sadar jika kebaikan Ernio pernah ia ragukan. Namun pada akhirnya, pria itu melakukan semua tindakan bodoh hanya untuk dirinya seorang.


"Ernio, kau benar-benar nekat. Bahkan sampai harus seperti itu demi diriku. Semoga di atas sana kau bisa mendengar ku, dan semoga di kelahiran selanjutnya aku bisa menjadi sahabat terbaikmu," gumam Yoona dengan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2