Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Sama-sama Memaafkan


__ADS_3

Sikap perlawanan Yoona membuat Mama Sania merasa kesal, walaupun wanita paruh baya itu tahu jika Yoona adalah putrinya, tetapi tetap saja rasa benci masih terus bersemayam dalam hatinya.


Tepat ketika Yoona ingin melangkah pergi, dengan cepat Mama Sania menarik tangan putrinya, lalu memberikan tamparan keras. "Mulutmu ini sudah begitu tajam padaku. Seharusnya setelah kau lahir dulu aku langsung membunuhmu saja. Saat kau besar malah semakin tidak tahu diri. Harusnya kau tidak perlu kembali lagi ke sini, seperti yang sudah kau perbuat pada saudara kembarmu sendiri."


"Apa salahku jika memang aku kembali, Ma? Kau tidak bisa menyalahkan takdir atas diriku, tapi seharusnya aku yang merasa malu karena memiliki ibu dengan hati pendendam sepertimu. Memang seharusnya kau tidak perlu memberitakan kehidupan padaku, Ma. Jika tidak, semua rasa sakit ini tidak pernah aku pikirkan."


"Jika saja Alice di sini, dia pasti sudah memberikan pelajaran padamu, Yoona. Harusnya kau belajar banyak hal dari kakak tirimu itu, bukan menjadi seorang perebut dan sekaligus pembunuh kakak kembarmu sendiri. Rasanya aku semakin menjijikan mengingat pernah melahirkan anak sepertimu," ejek Mama Sania yang semakin bertubi-tubi.


Kembali membuat air mata Yoona terjatuh saat kebencian selalu ia terima dari ibu kandungnya sendiri hanya karena sebuah kesalahpahaman. Ingin segera melangkah pergi tanpa berniat untuk terus meneruskan rasa kesal, namun dengan cepat Mama Sania mengambil pecahan kaca dan langsung menggoresnya di tangan Yoona.


"Luka ini saja bahkan tidak bisa mengembalikan putriku yang sudah kau habisi, Yoona. Seharusnya pergi saja kau dari sini." Sembari ikut menangis, Mama Sania semakin memperkuat goresan tangan Yoona, namun Yoona sendiri tidak bergerak pergi melainkan menerima perlakuan buruk dengan lapang dada.


"Aku pun iklhas dengan kebencian mu ini, Ma. Walau aku tidak pernah berpikir untuk menghabisi saudara kembarku sendiri, tapi meskipun begitu, tidak apa. Aku akan jauh merasa senang dengan penganiayaan ini. Setidaknya rasa sedihmu bisa jauh lebih berkurang," batin Yoona sembari memejamkan matanya saat darah segar perlahan terjatuh dari jarinya.


Melihat darah yang mulai menetes dengan semakin banyak, Erlan yang sedang berjalan kembali ke dalam kamarnya sampai terkejut. Pria itu segera berlari dan langsung menghentikan perlakuan buruk dari Mama Sania.


"Apa kau sudah gila, Bu? Dia ini anakmu!" bentak Erlan sembari menarik tubuh Yoona dalam perlindungannya.


"Aku masih sangat waras, tapi istrimu ini sudah begitu membuatku marah. Jangan hentikan aku."


"Sepertinya kau terlalu banyak mendengarkan ucapan Alice sampai ikut-ikutan bersikap buruk sepertinya. Aku menghormati dirimu karena kau mertuaku, tapi jika menyakiti istriku, maka aku tidak akan tinggal diam. Sekarang ambil semua barangmu, dan pergilah dari rumahku. Sudah aku izinkan untuk tinggal di sini, tapi seharusnya balas budi, justru menganiaya istriku," tegas Erlan dengan penuh amarah.

__ADS_1


Betapa tidak pernah Mama Sania pikirkan, bahwa sikap Erlan terlihat begitu berubah bahkan sampai menyalahkan Alice atas semua sikapnya.


"Nak, kau ini yang kenapa? Alice itu kekasihmu, Nak. Kalian seharusnya sudah menikah, bukan justru memintaku pergi dari sini. Bagaimana kalau nanti Alice kembali, dan dia tahu aku tidak ada di sini?"


"Itu bukan menjadi urusanku, Bu. Kau memang di sini, tapi aku tidak akan membiarkan dirimu melakukan segala hal. Bahkan kalau Alice menentang keputusanku, dia sendiri yang akan aku usir dari sini. Jadi pergilah, jangan sampai aku sendiri yang menyeretmu. Waktumu hanya tiga puluh menit untuk berkemas, Bu. Tolong mengertilah!"


Tanpa rasa kasihan Erlan membuat keputusan dengan tegas, lalu ia membawa Yoona duduk di ruang tamu sembari mengambil kotak obatnya. Lagi-lagi Yoona terpukau saat melihat perubahan sikap Erlan yang terus membuat hatinya merasa bahagia.


Erlan mengobati jari Yoona dengan perlahan sembari meniupnya agar tidak merasa sakit. "Hari ini saja aku sudah mengobati luka mu dua kali, Yoona. Jangan lagi terluka, kuatkan dirimu."


Perban kecil mulai terbalut, Erlan tersenyum sembari menatap wajah Yoona. "Sudah. Kalau begitu nanti malam kamu mau ke mana, Yoona? Kita bisa pergi ke mall atau kemanapun yang kau mau."


"Kenapa tidak menjawab mau ke mana nanti malam, Yoona? Aku tahu kalau dirimu bingung dengan sikapku, kan? Tapi percayalah, bahwa aku sudah memikirkan segalanya, dan keputusan ku sudah bulat."


"Memangnya apa keputusan mu, Mas Erlan?"


"Aku tahu kalau pasti saat ini kau juga heran, bukan? Tapi, semua yang sudah terjadi tidak sepenuhnya salahmu. Melainkan karena keegoisan diriku yang terus tidak bisa menerima takdir bahwa Fiona pergi bukanlah karena dirimu, melainkan karena kehendak Tuhan. Tapi justru, aku menyulitkan pernikahan kita, dan aku tidak lagi kau jauh dariku," jelas Erlan dengan tatapan yang sama sekali tidak berpaling dari pandangan Yoona.


"Tapi, aku sudah merusak janji suci pernikahan kita karena Ernio telah melecehkan diriku, Mas Erlan. Aku merasa malu jika kau masih menerima diriku di sini, biarkan kita bercerai saja agar dirimu bisa mendapatkan wanita yang baik-baik, tidak sepertiku."


"Jangan bicara begitu, Yoona. Ini hanyalah kesalahpahaman, dan bukan salahmu sepenuhnya. Ernio lah yang bertanggung jawab atas segalanya, tapi justru sekarang dia tidak kembali ke rumah. Mungkin ... dia takut kalau aku akan memukulinya, tapi kau sendiri tidak bisa seperti ini. Akulah yang salah, Yoona. Sampai-sampai membawa wanita lain masuk ke dalam rumah kita, dan menjadikan mu seperti sebuah barang pajangan semata. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak terpancing emosi dan keegoisan hanya karena rasa obsesi setelah kehilangan Fiona."

__ADS_1


Erlan menangis sembari menundukkan kepalanya. Membuat Yoona tidak tahan melihat pria yang begitu ia sayangi sampai harus menangis seperti itu, ia segera membawa Erlan masuk ke dalam pelukannya sampai keduanya menangis bersama.


Usapan lembut yang Yoona berikan ketika Erlan masih terus merengek seperti bayi besar, dan memeluk tubuh Yoona dengan erat.


"Tidak akan aku biarkan kau merasakan penderitaan yang lebih berat dari semua ini, Yoona. Akulah yang bersalah, aku ingin sekali memintamu pergi agar kau bahagia, tapi itu sama saja seperti aku ingin kau menjauh dariku. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, apa ingin menetap denganku di sini atau pergi dengan penuh bahagia. Aku berikan jawaban, tapi jika ingin kembali kau bisa melakukan sesuka hatimu padaku," pinta Erlan tanpa melepaskan pelukannya.


"Jangan bicara begitu, Mas Erlan. Keputusan ku tetap tidak akan meninggalkanmu. Bahkan aku bersyukur karena kau sudah mau menerima kenyataan tentang kejadian buruk yang Ernio lakukan padaku. Harusnya aku yang berterima kasih."


"Kau tidak salah, Yoona."


"Kamu juga tidak salah, Mas Erlan."


"Jadi ... kita sama-sama tidak salah, begitu?" tanya Erlan dengan tiba-tiba sembari tersenyum manis.


Senyuman itu dapat membuat Yoona ikut tersenyum bersama. "Ya, tentu saja kita berdua tidak ada yang bersalah."


"Karena kesalahan dan kesempurnaan bukanlah milik kita berdua, Mas Erlan. Aku menerima semua pengkhianatan rumah tangga, dan kau menerima diriku kembali setelah kau tahu adikmu sendiri yang telah melecehkan diriku. Itu artinya ... hati kita berdua telah tercipta begitu kuat, meskipun sama-sama merasakan pahit. Aku mencintaimu, Mas Erlan," batin Yoona dengan penuh rasa syukur sembari terus memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


Keduanya saling memeluk mesra, tanpa menyadari jika di acara televisi sedang memberitakan sebuah kejadian paling tragis. Emma yang baru saja masuk ke rumah seraya membawa beberapa barang belanjaannya. Namun, Emma begitu terkejut hingga membuat semua barang miliknya terjatuh.


"Oh tidak! Kak Erlan! Lihat di TV, Kak!" Emma berteriak keras sampai membuat lututnya terasa lemas.

__ADS_1


__ADS_2