
Setelah mengoles penghangat tubuh, masih membuat Yoona belum merasa begitu nyaman. Sejak tadi Malvin dengan setia menemani. Tiba-tiba saja terdengar suara kapal yang sepertinya mendekat.
"Yoona, mungkin mereka kembali untuk kita. Kau harus bertahan, ya. Aku akan melihat ke luar sebentar."
"Tentu, Malvin."
Perkiraan Malvin memang benar, kapal tersebut tiba untuk menjemput mereka berdua. Selama di dalam perjalanan, Yoona diminta untuk segera istirahat, tidak dengan Malvin yang duduk bersama para awak kapal.
"Apa temanku Jerrol yang meminta kalian untuk datang?" tanya Malvin dengan rasa penasaran.
"Benar, tapi bukan Jerrol, melainkan Erlan."
"Erlan?" Malvin terdiam sembari batinnya berkata. "Jadi, dia masih mengingat tentangku dan Yoona di sini."
"Lalu bagaimana keadaannya, Pak? Apa kalian tahu sesuatu?"
"Ambulance langsung datang saat mereka tiba di daratan, dan ini kunci mobilnya. Dia juga meminta agar kami memberikan ini padamu."
"Oh baiklah, terima kasih banyak, Pak."
"Bahkan dia memberikan kunci mobilnya juga. Apa mungkin Erlan ingin Yoona kembali atau karena diriku di sini? Sepertinya tidak mungkin, terlebih dia sudah meninggalkan Yoona sendirian di hutan," batinnya.
Perlahan Yoona terbangun saat Erlan mulai mengusap pipinya. "Kita sudah tiba di rumah sakit, Yoona."
"Kau langsung membawaku ke sini?"
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
Dokter segera memeriksa kesehatan Yoona, namun tiba-tiba dokter tersebut tersenyum.
"Pak, Buk. Akan lebih jika pergi ke dokter kandungan saja. Sepertinya istri Anda sedang hamil, dan sebaiknya minta obat serta vitamin untuk perkuat janin dan ibu hamilnya."
"Apa, Dok? Saya hamil?" Membuat Yoona terkejut sampai melotot sempurna.
"Tentu saja, Bu. Anda sedang hamil sekitar dua Minggu, tapi di sini obat-obat saya untuk ibu hamil tidak lengkap karena sebaiknya periksa ke dokter kandungan terlebih dahulu."
"Baik, Dok. Jika begitu terima kasih banyak."
"Sama-sama, Bu, Pak."
Betapa tidak pernah Yoona duga dengan kabar terbaru tentang dirinya, membuatnya terdiam seribu bahasa. Namun, berbeda dengan Malvin yang masih teringat dengan perkataan sang dokter tentang 'istrinya'.
"Andaikan saja itu benar kalau Yoona benar-benar istriku, pasti sekarang aku sangat bahagia mendengar kabar ini. Tapi sayangnya tidak, aku malah kecewa karena Yoona lebih terasa nyaman dan telah melakukan hubungan segalanya bersama pria itu," batin Malvin dalam rasa kecewa yang berusaha ia pendam, namun tetap terlihat biasa saja di depan banyak orang.
"Jika memang kamu keberatan dengan kabar ini, maka aku bisa menemanimu untuk melakukan pengguguran. Yoona, jangan dipaksa kalau kau tidak suka, aku berkata demikian hanya untuk kebaikanmu seorang," sahut Malvin dengan berpihak sepihak.
"Malvin, apa aku seperti ibu yang sangat kurang ajar sekali? Jika aku menuruti perkataan dirimu ini, maka aku menjadi ibu yang paling jahat sedunia. Sebaiknya kita mencari tempat untuk berbicara berdua saja."
"Baiklah, Yoona. Lebih baik kita sekarang ke taman rumahku. Kau pun bisa beristirahat, jika mau."
"Baiklah."
"Ya sudah, kita sebaiknya tunggu mobilku di antar terlebih dahulu. Karena aku tidak bisa membawa mobil milik Erlan terus-menerus seperti ini."
"Tentu saja boleh, Malvin."
__ADS_1
Sembari menunggu sampai membuat Yoona melamun banyak hal, ia bahkan tidak peduli dengan Malvin yang terus menatapnya.
"Apa ini? Solusi yang buruk untuk diriku, Tuhan. Kenapa aku harus hamil?"
"Kau baik-baik saja, Yoona? Ayo kita pulang, mobilku sudah sampai," ajak Malvin dengan tiba-tiba sembari mengulurkan tangan untuk menggandengnya.
Gandengan tangan tidak Yoona terima, namun wanita itu memilih berjalan seorang diri.
Tiba di kediaman Malvin. Dengan sibuknya ia menyusun dua buah bantal sofa agar Yoona bersandar dengan nyaman. Seketika membuat Yoona merasa bahagia ketika melihat Malvin yang terus mencari kesempatan demi bisa mendapat sebuah pujian karena telah peduli dengannya.
"Aku tidak apa-apa, Malvin. Bahkan bisa duduk santai seperti dirimu. Sudahlah, jangan banyak bertingkah," ucap Yoona seraya menarik tangan Malvin untuk segera duduk dekat tanpa kesibukan.
"Hei, santai saja, Yoona. Aku hanya ingin kau tidak kelelahan. Lalu sekarang katakan apa yang ingin kau lakukan?"
"Entahlah, Malvin. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Terlebih kau pun sudah tahu dengan sifat buruk Mas Erlan yang terkadang melakukan semua hal yang ia sukai tanpa memikirkan tentang perasaanku," ucap Yoona yang mulai curhat kepada mantan kekasihnya. Entah mengapa, ia merasa lebih nyaman dan leluasa berbicara banyak hal dengan Malvin setelah kejadian di hutan.
"Ya, aku pun tidak ingin kau menanggung beban sendirian tanpa berpikir panjang tentang kebahagiaan dirimu sendiri. Apalagi memiliki pernikahan yang tidak pernah bisa membuatmu bahagia. Sekarang katakan dengan sejujurnya padaku, kenapa tidak langsung bercerai saja dengan Erlan setelah melihat semua keburukannya itu, Yoona?" tanya Malvin yang memiliki harapan lebih.
"Tidak bisa secepat itu, Malvin. Mas Erlan sudah terikat perjanjian dengan Papa Agra, dan selama dua tahun kami harus terlihat bahagia seperti pasangan pada umumnya. Namun aku tahu, jika Mas Erlan akan sulit sekali berubah, dan sebab lainnya karena aku sudah ... terlalu mencintainya," jawab Yoona dengan penuh kejujuran.
Seketika membuat Malvin menarik nafasnya dengan perlahan saat ia harus mencoba menahan rasa sakit ketika wanita yang ia sayangi berkata dengan begitu jujur tentang mencintai orang lain. Meskipun begitu, ia tetap tenang.
"Lantas, karena cinta kau tidak ingin kebahagiaan atas dirimu sendiri, Yoona? Aku rasa jika pernikahan kalian terbuka, mungkin bukan saja Papa Agra yang akan murka, namun seluruh keluarga bisa merasa malu karena mungkin saja mereka merasa telah di bohongi. Maka sekarang, aku hanya berharap untuk memikirkan dirimu sendiri. Daripada harus menunggu dua tahun ke depan untuk berpisah, tapi luka di hatimu sudah terlalu sakit. Apalagi aku yakin, jika bayi ini lahir tidak akan dianggap oleh Erlan," saran Malvin dengan kebaikan untuk sepihak.
"Aku pun merasa begitu, Malvin. Pasti Mas Erlan tidak akan membiarkan bayi ini lahir, dan mungkin saja jika pun bisa dia pasti tidak akan mengakuinya. Walaupun begitu, aku tidak akan mungkin bisa membunuh nyawa anak tidak bersalah ini dengan tanganku sendiri, bukan? Entahlah, hatiku merasa bimbang sekarang." Yoona terlihat begitu lesu dan tidak bertenaga, ia seperti kehilangan energi di saat memikirkan beban yang berat.
"Percayalah padaku, Yoona. Kau tidak seharusnya melakukan semua kebaikan untuk orang lain, kecuali jika itu membuatmu bahagia dan kau diakui. Lantas buktinya sekarang, Erlan bahkan dengan teganya meninggalkanmu sendirian di hutan. Jika saja dia bukan atasanku di tempat kerja, maka sudah pasti sekarang aku akan membunuhnya," kesal Malvin.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, Malvin. Mas Erlan tidak sepenuhnya salah padaku karena memang yang seharusnya di salahkan lebih dulu memang diriku ini. Terlebih aku sudah membuat pernikahan Mas Erlan dengan Kak Fiona gagal. Lalu sekarang bagaimana takdir bayiku ini? Argh! Semakin membuatku tidak tenang!" Yoona berteriak keras, namun Malvin berusaha membiarkan teriakan itu terdengar demi mengurangi beban di pikiran wanita itu.