Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Episode 142 : Terlalu baik.


__ADS_3

Episode 142 : Terlalu baik.


.


.


Aluna yang sadar suaminya benar-benar akan menjadi seorang pembunuh jika ia setuju langsung menggelengkan kepalanya.


Dia menarik nafasnya agar bisa bernafas dengan teratur, sembari sesenggukan dia menggenggam lengan suaminya yang mendekap nya erat sekali.


"Ja ... jangan, aku tidak mau suami ku jadi pembunuh, aku hanya ingin mereka menyesal karena menjebak ku dengan cara yang tidak manusiawi,"


"Aku mau mereka dipenjara dan mendapatkan hukuman yang berat ... tapi jangan sampai tangan mu kotor karena menghukum mereka," balas Aluna tidak mau suaminya akan menjadi penjahat hanya karena dua orang itu.


Edgar yang mendengar jawaban istrinya menghela nafas dalam-dalam.


"Kenapa kau baik sekali? terlalu baik dan lembut! apa boleh buat, aku harus benar-benar menjaga mu seumur hidupku! agar kau tidak ditipu dan ditindas lagi!"


Gerutu Edgar sekarang sudah berkacak pinggang dan seperti tengah menasehati istrinya.


Aluna yang mendengar itu kembali menangis, dia sesenggukan dan menundukkan kepalanya.


"Aku ... aku hanya tidak ingin suamiku jadi pembunuh, aku tidak ingin ayah bayiku jadi pembunuh, apa itu salah?" seru Aluna menundukkan wajahnya dan menangis tersedu-sedu.


Mungkin karena kehamilan mudanya, dia menjadi lebih cengeng dari biasanya, apalagi saat lalu dia baru saja dijebak dengan cara yang mengerikan.


Dengan panik Edgar langsung mendekap istrinya lagi dan mengusap rambutnya.


"Tidak ... tidak, maafkan aku sayang, aku hanya sedikit kesal karena kau terlalu baik, jadi aku jadi ingin menjaga mu lebih baik lagi! jangan menangis lagi, maafkan aku ya!" bisik Edgar memeluk istrinya lagi lebih erat.


Camelia yang melihat adegan itu berubah menjadi sangat dramatis sampai geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Dia saja tidak pernah meminta maaf kepadaku, sedangkan kepada wanita itu dia meminta maaf dan terlihat sangat lembut!"


Benak Camelia yang lagi-lagi untuk kedua kalinya tidak dihiraukan keberadaan nya segala datang mendekat.


"Hei ... bawa kedua orang ini pergi, lakukan hukuman sesuai dengan yang dikatakan istri putraku, buat meraka menderita sampai menyesal seumur hidup!" seru Camelia dimana sejak tadi ada bawahannya di tempat itu yang baru saja sampai tadi.


Ya, Camelia membawa orang kepercayaan nya akan tetapi sampai lebih lama karena Camelia terburu-buru dari bandara menuju kediaman putranya.


"Siap Nyonya besar!" seru bawahannya itu menyeret Marin dan Freya pergi dari keluar.


"Tidak! tidak! aku tidak mau dipenjara!"


"Tidaaaakkk!"


"Aluna, tolong Aluna ... tolong!"


Mereka masih saja berteriak dan sama sekali tidak merasa bersalah sampai pada saat mereka diseret sekalipun.


.


.


Camelia sudah berada di dekat putranya dan menantu nya.


Tetapi suaranya sama sekali tidak didengar oleh Edgar, yang mendengar hanyalah Aluna.


Dan menyadari itu, Aluna dengan sigap melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.


"Ibu mertua, maafkan aku ... sebenarnya aku bukan orang yang cengeng, hanya saja aku sedih saat mereka tidak menyesal karena sudah menjebak ku, sebenarnya aku ini orang yang gigih dan rajin, tidak cengeng dan ..."


Aluna langsung sibuk memberitahu pada Ibu mertuanya jika dia sebenarnya tidak cengeng, hanya sedikit sedih mengetahui Marin dan Freya sama sekali tidak menyesal.

__ADS_1


"Ehem ... sudah sudah tidak perlu dijelaskan, aku lapar karena putraku sepertinya tidak memberikan aku makan sedikitpun, apakah disini ada yang mau memberikan aku makanan?"


Seru Camelia sembari melihat kearah Edgar yang saat ini bahkan hanya menatap ke arah istrinya.


Aluna yang mendengar itu langsung berbinar dengan wajah yang langsung bersemangat.


"Ibu mertua, aku sudah memasak, makan masakan ku saja, kalau Ibu mertua masih ragu aku bisa memakan nya dulu agar Ibu mertua percaya jika di makanan itu tidak ada racun sama sekali ..."


Seru Aluna bersemangat membawa Ibu mertuanya ke ruangan makan meninggalkan suaminya yang matanya tetap tertuju kepada istrinya itu.


"Ehem, tidak perlu, aku mau makan saja!" seru Camelia mengikuti Aluna.


Camelia entah mengapa senang, saat Aluna sama sekali tidak sakit hati atas perkataan nya tadi, yang mengatakan di air minum yang di berikan ada racun.


Itu menunjukkan jika Aluna memang memiliki hati yang terlalu baik dan sabar.


.


.


Sedangkan Edgar yang ditinggalkan begitu saja ...


"Apa-apaan istri itu? dia hanya mengajak Ibuku pergi, sedangkan suaminya dibiarkan Sendiri!"


"Hmmm, sepertinya Hukuman nya belum cukup!" gerutu Edgar dengan wajah nya angkuh itu melangkah mengikuti istrinya dan Ibunya ke ruangan makan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2