
"Hei apa-apaan kau, Emma? Ayolah tidak ada yang sedang hamil. Kami dari rumah sakit bukan karena itu, tapi karena memang istriku-" Ucapan Erlan terhenti saat ia melihat kedatangan ayahnya.
"Memangnya kenapa? Jika bukan kalian ke rumah sakit untuk mengecek tentang kondisi kehamilan, lalu karena apa juga, Erlan? Kalian berusaha menyembunyikan sesuatu dari keluarga?" Papa Agra bertanya dengan penuh curiga.
"Gawat! Kalau sampai Papa Agra tahu jika Yoona sakit di saat hari kedua pernikahan kami. Pasti dia akan menuduhku telah menyakiti Yoona. Sebaiknya aku mencari cara lain agar bisa menghindar pertanyaan bodoh ini," batin Erlan yang mulai terlihat sedikit panik.
Belum sempat menjawab, namun Erlan berusaha merangkul tubuh Yoona sembari tersenyum manis, lalu berkata. "Pa, kami hanya pergi ke rumah sakit untuk mencari vitamin yang bagus agar bisa memberikan pewaris di keluarga ini. Bukan karena kehamilan. Lagi pula kenapa Papa harus terlalu mendengar ucapan Emma, mana ada yang baru dua hari menikah langsung bisa hamil. Sudahlah, Pa, jangan lagi diperpanjang. Biarkan istriku sekarang istirahat."
"Baguslah. Jika kalian sudah memutuskan untuk bisa memberikan pewaris kepada perusahaan kita, tapi jangan terlalu paksakan kalau memang istrimu belum siap. Tanyakan saja padanya terlebih dahulu. Oh ya, Papa sekarang harus segera pergi, kekasihku sudah menunggu."
"Mau ke mana buru-buru sekali, Pa? Ajaklah kekasihmu ke sini sesekali."
"Nanti saja setelah adikmu yang satu lagi pulang. Ya sudah, jaga istrimu baik-baik, Erlan."
"Mas Erlan, aku mau langsung ke kamar dulu, ya."
"Ya, pergilah."
Yoona melangkah pergi tanpa kembali menyapa adik iparnya. Membuat Emma Beatrice Agra merasa semakin aneh ketika menatap kakak iparnya. Gadis sembilan belas tahun itu sampai memilih berjalan mengikuti Yoona secara diam-diam, tidak dengan Erlan yang ikut mengikutinya dari belakang.
Tepat ketika pintu kamar Yoona tertutup, dan Emma tidak bisa masuk ke dalam. Tiba-tiba Erlan membalikkan tubuh adiknya sembari bertanya. "Mau ngapain?"
"Ya ampun, Kak Erlan. Membuatku kaget saja."
"Terus jawab aku, mau ngapain kamu sampai ikuti istriku segala? Lagian kenapa langsung pulang ke sini? Kenapa tidak menungguku di rumah papa saja?" tanya Erlan yang merasa sedikit risih.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Emma cemberut, terlebih baru kali ini ia melihat sikap kakaknya yang banyak mengatur.
"Aku langsung ke sini karena aku sangat merindukanmu, Kak Erlan. Memangnya apalagi? Haruskah kita tidak bertemu, begitu? Jadi, selama satu tahun aku tidak ada di sini, kamu sama sekali tidak ingin melihat adikmu yang cantik ini? Dasar kejam sekali," celetuk Emma sembari melipat kedua tangan di dadanya.
"Bukan itu maksudku, Emma. Dulu aku belum menikah, dan sekarang aku sudah memiliki keluarga. Alangkah baiknya kau datang ke sini beritahukan dulu padaku. Apalagi sampai mengajak Papa Agra segala. Bagaimana jika tiba-tiba aku dan istriku sedang bermesraan? Kau juga ingin melihatnya, begitu?" Erlan membalas tanpa ingin mengalah, terlebih karena tidak ingin rahasianya terbongkar.
"Ayolah, kakak mesum! Siapa juga yang ingin melihat kalian bermesraan? Dasar menjijikkan. Aku datang tiba-tiba karena aku ingin tinggal di sini denganmu, Kak. Jika di rumah papa, yang ada aku stress karena kesepian. Kau tahu sendiri bagaimana Papa Agra sibuk dengan calon mama baru kita," jelas Emma dengan penuh harap.
"Tinggal di sini? Enggak boleh, titik. Emma, ini bukan penginapan, aku juga harus pergi berbulan madu, jadi kau juga akan tinggal sendirian di sini," bantah Erlan.
"Enggak mau tahu. Aku cuma mau tinggal di rumah barumu ini, Kak. Ayolah, aku ingin bermain dengan kakak iparku di sini. Jika kau tidak mengizinkannya, maka aku akan mengadu sama papa," ancam Emma yang terlihat seperti gadis remaja, meskipun ia sudah beranjak dewasa.
"Dasar gadis manja. Baiklah terserah dirimu saja," ketus Erlan sembari melangkah pergi masuk ke dalam kamar yang Yoona masuki.
Yoona yang baru memejamkan mata, melihat Erlan masuk ke kamarnya. Ia pun terheran, lalu beranjak mendekat.
"Mas Erlan, kenapa kau masuk ke kamar ini?"
"Memangnya kenapa? Ini juga kamarku karena semuanya milikku." Erlan menjawab dengan cepat, namun ia lupa bahwa telah membuat aturan untuk tidak tidur sekamar.
"Aku tahu, Mas. Tapi, bukannya kemarin kau berpesan agar kita berpisah kamar? Jadi, aku akan memakai kamar tidurku yang ini saja. Meskipun sedikit sempit, cocok untukku tidur sendiri."
Dengan cepat Erlan menarik tangan Yoona untuk mendekat, lalu ia menatap wajah lugu istrinya dengan tatapan yang tajam.
"Hei, jangan besarkan suaramu. Di luar sedang ada Emma. Sekarang dengarkan aku, Yoona. Kau memang tahu jika aku tidak ingin kita sekamar, bukan? Tapi, selama adikku tinggal di sini kita tidak ada pilihan yang lain. Jangan sampai adikku tahu jika kau bukanlah tunanganku. Terlebih sikapmu yang terlihat dingin membuat Emma merasa bingung. Sebab dulu kakak kembarmu itu tidak pernah bersikap tak acuh dengan adikku. Mereka berteman sangat baik. Mungkin karena itu dia ingin meminta tinggal di sini, padahal biasanya dia kesal karena aku sering membuatnya marah," jelas Erlan.
__ADS_1
Membuat Yoona mulai mengerti dengan pertanyaan Emma sebelumnya. "Itu artinya, jika Emma tinggal di sini berarti dia akan selalu melihatku setiap waktu, Mas. Bagaimana jika sampai dia curiga kalau aku bukanlah Kak Fiona?"
"Jangan sampai kau berbuat bodoh. Aku tidak ingin kalau sampai Emma mengadu tentang kejanggalan pernikahan kita ini kepada Papa Agra. Bisa habis semua kesuksesan diriku. Jadi, berhati-hatilah dengan adikku. Dia terkadang sangat cerdik menjebak seseorang. Kau pastikan supaya dia tidak mengenali dirimu, Yoona."
"Baik, Mas. Akan aku coba. Jika kau yang memintanya akan aku lakukan." Yoona memilih untuk tetap pasrah.
"Bagus. Kalau begitu kau bisa beristirahat sekarang, tapi nanti malam kita harus segera ke luar. Ada hal penting yang ingin aku tunjukkan padamu. Kita pergi ke perusahaan ku."
"Memangnya ada acara apa, Mas?"
"Tidak perlu banyak bertanya. Kau hanya perlu mengikuti setiap hal yang aku inginkan. Oh ya, satu lagi. Selama adikku tinggal di sini, jangan libatkan perasaanmu jika aku berbuat manis. Karena kapanpun, aku tidak akan mencintaimu, Yoona," tegas Erlan dengan keyakinannya sendiri.
"Ya, aku mengerti, Mas," sahut Yoona dengan sangat berat hati. "Andaikan kau tahu, Erlan. Bahwa sekarang pun aku sudah menaruh hati padamu. Entah sampai kapan rasa ini aku pendam hanya karena aku tahu, jika kau tidak ingin kehadiranku ada bersamamu. Tetapi baiklah, aku akan coba selama kesabaranku masih ada," batinnya.
"Kalau begitu tidurlah. Aku akan ke luar dulu."
"Tunggu, Mas Erlan. Memangnya kau ingin ke mana?" tanya Yoona yang langsung memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan suaminya.
Melihat sikap Yoona yang seperti ingin diperhatikan, Erlan segera melepaskan genggaman.
"Aku pergi kemanapun, itu bukanlah urusanmu."
"Ya, aku tahu, Mas Erlan. Meskipun kamu mengatakan hal ini, tapi aku masih berhak untuk mengetahuinya, kan?"
"Yoona, cukup. Sebaiknya kamu sadar diri, dan aku tidak memiliki waktu untuk melayani seorang pengkhianat sepertimu, mengerti?"
__ADS_1