Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Semakin Memburuk


__ADS_3

Malvin bergegas kembali, namun ucapannya membuat Mama Sania berpikir. "Meskipun dia memang putriku, tapi kelakuan buruknya sudah membuatku tidak ingin mengakuinya lagi seperti putriku sendiri, Malvin."


Berbeda halnya dengan Erlan yang merasa tidak tenang ketika Yoona belum kembali. Terlebih sejak tadi Malvin mencari istrinya, namun di dalam hati kecilnya, ia ingin agar istrinya tetap di sini.


Raut wajah kecemasan itu membuat Alice ikut-ikutan merasa penasaran, hingga ia bertanya. "Kau baik-baik saja, Sayang? Katamu ingin istirahat, lalu sekarang kenapa malah bangun lagi?"


"Aku sedang memikirkan tentang Yoona, bagaimanapun juga tidak akan mungkin dia bisa pulang larut malam seperti sekarang. Apalagi tidak ada acara apapun di luar sana setahuku," jawab Erlan tanpa ingin menyembunyikan apapun.


"Jadi, kau sudah mulai mengkhawatirkan dirinya, ya? Aku pikir kau hanya akan peduli padaku." Berusaha agar mencari perhatian dengan membuat wajahnya cemberut.


Namun sayangnya, Erlan sama sekali tidak tertarik dengan sifat Alice yang sedang berpura-pura ingin diperhatikan. Justru dirinya bangkit sembari berdiri di depan jendela kamar yang bisa melihat ke arah pintu gerbang utama.


Berharap agar Yoona terlihat kembali, namun ternyata tidak. "Ke mana kau pergi? Kenapa tidak mengabari ku sedikitpun."


Rasa perhatian Erlan yang semakin berlebihan, membuat Alice semakin tidak rela. "Lagi-lagi kau terus memikirkan dia padahal aku berada di dekatmu, Erlan."


"Lalu apa maumu? Kau ingin berjauhan dariku, begitu? Ya sudah silahkan pergi saja jika memang kau ingin jauh," bantah Erlan tanpa memikirkan perasaan Alice.


"Kenapa malah sekarang kau ingin mengusir ku dari sini, Erlan? Aku ini kekasihmu, dan aku di sini karena kakimu terluka. Tapi justru kamu mencemaskan wanita itu lagi," ketus Alice yang semakin tidak tahu diri.


"Aku memikirkan tentang Yoona atau tidak itu bukanlah masalah bagimu, Alice. Kau hanyalah kekasihku, tapi bukan istriku. Istriku tetap Yoona, kau dengar? Memang beberapa waktu kau terlalu perhatian denganku, tapi aku ingin jujur akan satu hal bahwa sekarang aku sudah mencintai istriku. Maaf, jika kebenaran ini menyakitkan, tapi itulah kebenarannya," jelas Erlan dengan berusaha begitu jelas.


Rasanya seperti tertusuk duri yang tajam, saat semua jiwa dan perasaan telah terhubung oleh cinta untuk Erlan, namun sekarang Alice baru menyadari bahwa kekasihnya telah berbagi hati.


Meskipun begitu, Alice tidak ingin melanjutkan perdebatan, namun ia berusaha untuk tetap tenang, namun batinnya berucap. "Kemenangan tidak akan dimenangkan oleh orang-orang yang berkoar-koar, tapi kecerdasan pikiran. Lebih baik aku pergi dari sini, dan kembali besok pagi supaya Erlan tidak terus memarahiku. Jika tidak, maka hubunganku bisa saja berakhir sampai di sini."

__ADS_1


"Ya sudah. Jika memang kamu sangat mencemaskan dia, maka baiklah aku yang akan pergi dari kamarmu, Erlan. Sepertinya kau butuh waktu sendiri, dan tidak apa-apa. Aku akan mengalah demi dirimu, Sayang. Jika nanti kau butuhkan sesuatu, maka segera hubungi aku, ya," ucap Alice sembari memeluk Erlan dari belakang dengan sendirinya.


Tidak ada jawaban apapun dari Erlan, dan itu membuat Alice merasa semakin kesal. Kembali ke dalam kamarnya dengan raut wajah yang sangat buruk, namun hal itu membuat Mama Sania merasa terheran.


"Ada apa denganmu, Nak? Kau baik?" tanya Mama Sania yang tidak ingin putri kesayangannya terluka.


"Ma, Erlan sekarang sedang memikirkan wanita itu. Aku sendiri sampai harus berdebat dengannya, padahal sebelumnya hubungan kami masih baik-baik saja," curhatnya.


"Kamu jangan langsung gegabah seperti itu dong, Nak. Wajar saja jika Erlan mencemaskan Yoona karena bagaimanapun mereka masih tetap suami dan istri, jadi itu masih sering terjadi. Hanya saja ... Mama datang ke sini setelah mendengar langsung dari Malvin kalau Yoona belum kembali, sepertinya dia memang sedang ada di luar. Namun, Mama yakin anak itu akan baik-baik saja."


"Lalu sekarang Mama juga akan mulai menyayanginya daripada aku, begitu?"


"Tidak, Alice. Jangan dulu salah paham, Mama memang mencemaskan Yoona walaupun tidak begitu terlihat. Karena dia tetaplah putriku sendiri, tapi juga di sini Mama tidak rela kalau sampai putri yang lainnya terluka, Alice. Akan lebih baik jika kau semakin memperkuat kekuatan hubunganmu bersama Erlan, jika tidak dengan mudahnya pria itu akan pergi darimu," saran ibunya.


Alice sedikit kebingungan. "Apa maksudnya, Ma?"


"Jadi ... Mama setuju kalau misalnya aku menikahi Erlan sekarang?"


"Tentu saja, Alice. Kau putriku, dan sudah bertahun-tahun aku tidak memberikan kasih sayang padamu, tapi kau masih berusaha menyayangiku dan mencari ku, Nak. Itu sebabnya agar suatu hari kau juga bisa bahagia bersama pria yang kau sukai. Erlan pantas untukmu, apalagi kau ini wanita karir, dan juga cantik," puji ibunya sampai membuat telinga Alice naik sebelah saat mendengar pujian manis untuknya.


"Ya baiklah, Ma. Sebenarnya aku juga sudah memikirkan hal ini baik-baik, tapi aku masih belum bisa mendapatkan kesempatan karena Erlan terlalu sibuk. Namun sekarang, tidak lagi karena aku akan memperjuangkan cinta kami."


"Terlebih Ernio sudah kembali untuk Yoona, maka akan lebih baik jika wanita itu pergi dari hidupnya Erlan. Saat ini, aku jadi penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada mereka berdua. Terlebih sejak tadi Ernio sama sekali tidak menghubungiku," batin Alice.


"Kalau begitu Alice ke luar sebentar ya, Ma."

__ADS_1


"Loh? Mau ke mana lagi malam-malam begini, Nak?"


"Ada sedikit keperluan, Ma. Tidak akan lama, dan aku akan membawa mobil Erlan. Percayalah hanya sebentar."


"Ya sudah kalau kamu memaksa, berhati-hatilah."


"Tentu, Ma."


Ingin segera bergegas pergi, namun ternyata Alice menyadari kalau Malvin masih berjaga di luar rumahnya.


"Sepertinya dia masih menunggu Yoona kembali. Jangan sampai dia melihatku pergi dari sini, dan aku takut dia bisa mengikuti ku."


Mengambil jalan pintas sampai membuat Alice tidak terlihat dari pintu depan, namun ia tidak jadi membawa mobil Erlan, justru menggunakan sepeda motor.


Berlaju dengan sedikit kecepatan sampai akhirnya ia tiba di rumah sewaan milik Ernio. Berusaha menunggu sampai menelpon berkali-kali, hingga akhirnya pria itu ke luar dengan raut wajah yang seperti baru bangun tidur.


"Hei ... kau terlihat nyenyak sekali, Ernio," sapa Alice sembari terkekeh kecil saat melihat Ernio yang hanya keluar dari celana pendek tanpa atasannya.


"Ya, aku sedang tidur, dan kau terus saja menelpon ku. Memangnya ada apa sampai harus datang ke sini segala?"


"Aku sengaja datang agar besok pagi kau tidak langsung membawa Yoona kembali."


"Lalu aku harus apa, Alice? Bagaimana mungkin kalau Yoona tidak kembali?"


"Mungkin saja bisa, terlebih Yoona tidak tahu alamat di sini, bukan? Sebaiknya lakukan saja, dan tunggu sampai aku berhasil menikahi Erlan baru Yoona kembali."

__ADS_1


"Kau serius? Aku harus menyekapnya di sini? Alice, ini sangat berlebihan sekali, dan aku juga tidak ada persiapan apapun tentang ini. Ayolah jangan bergurau."


__ADS_2