
Tepat ketika Erlan kembali pulang ke rumahnya, ia tidak melihat siapapun ada di rumah, melainkan kedua pelayan.
"Bi, di mana semua orang?"
"Tadi Nona Yoona dan Nona Emma sudah pergi, Tuan Muda. Saya tidak tahu ke mana."
"Ya sudah lanjutkan kerjamu." Erlan mencari ke dalam kamar, namun tidak ada tanda-tanda istrinya di sana. "Ke mana dia keluyuran? Apa dia sengaja ingin mengabaikan permintaanku malam ini? Awas saja kalau dia pulang nanti."
Menunggu di depan rumahnya sembari bermain ponsel. Terlihat sebuah taksi yang berhenti di depan. Erlan langsung berpikir jika itu istrinya.
"Hei, darimana saja kamu?" tanya Erlan dengan raut wajah yang datar. "Kau tahu ini jam berapa? Apa kau sengaja pergi dari hukuman mu?"
"Dari rumah sakit, Mas Erlan. Memangnya kau menungguku pulang, Mas?"
"Lalu menurutmu, apa aku sedang menunggu kera datang, begitu?"
"Tidak-tidak, maksudku. Kau sangat lucu malam ini, Mas. Sampai rela menungguku di luar begini. Apa diam-diam kau sudah mencintaiku?" tanya Yoona dengan sangat percaya diri. Ia langsung menyodorkan wajahnya lebih dekat.
"Apa katamu? Cinta? Hei, pergilah! Sebelum aku benar-benar menghukum mu di sini. Cepat berkemas karena kita akan ke kantorku."
"Malam-malam begini ke kantor? Mas Erlan, apa kau tidak tahu jalan pulang? Ini sudah malam. Kerja apalagi sampai larut begini?"
"Kenapa kau cerewet sekali? Ayolah sekarang berkemas," paksa Erlan.
"Iya-iya!"
Yoona melangkah pergi, namun ia berpapasan dengan Jerrol yang ingin berkencan. Membuat mata Jerrol kembali menatap ke arah istri atasannya itu dengan penuh semangat.
Entah mengapa Jerrol tiba-tiba ingin terus menatap wajah Yoona, padahal ia sudah memiliki janji dengan orang lain. Pandangannya yang tidak teralihkan, membuat Erlan merasa heran.
"Heh ngapain lihat-lihat begitu?"
"Emangnya kenapa kalau lihat Nona Yoona? Dia itu cantik dan seksi," sahut Jerrol tanpa terduga. Sedetik kemudian, ia baru tersadar telah mengucapkan kata yang salah.
__ADS_1
Buru-buru Jerrol memejamkan matanya untuk bisa bergegas pergi dari hadapan Erlan. Namun Erlan menarik bajunya dari belakang.
"Mau ke mana? Coba ulangi lagi tadi bilang apa?" tanya Erlan dengan sengaja.
Bukannya menjawab, tetapi Jerrol justru tersenyum tanpa bersalah. Ia lalu melepaskan tangan Erlan.
"Anu, Tuan. Saya harus segera pergi berkencan. Sampai jumpa ...." Erlan berlari cepat, ia terlalu tidak berniat untuk meladeni amarah dari atasannya sekarang.
"Dasar. Tapi, kenapa bisa Jerrol berkata seperti itu? Apa benar Yoona secantik itu di matanya?" Membuat Erlan terus bertanya-tanya sampai ia tidak sabar menunggu Yoona datang.
Hampir satu jam lebih Erlan menunggu di depan pintu kamar, hanya untuk membuktikan ucapan dari Jerrol. Meskipun ia tahu kalau istrinya memang cantik, tetapi ia akui tidak terlalu memperhatikan istrinya.
Pintu kamar terbuka, Yoona ke luar dengan memakai gaun biru sedada. Memperlihatkan tubuhnya yang putih bersih serta dada yang sangat menantang. Rambut tersusun ke atas, namun poni ia turunkan.
Mata lentiknya saat menatap Erlan di depan, membuat Yoona sedikit terkejut. "Loh, kok tunggu di sini?"
Tidak bisa membuat Erlan berkata-kata saat melihat Yoona dengan gaun memukau. Penampilan Yoona layaknya ingin berkencan meskipun ia belum tahu ke mana arah tujuannya.
Erlan mengakui bahwa ia merasa terpesona saat melihat Yoona memakai riasan yang natural, namun tubuh mulusnya lebih terekspos bebas. Semakin memperlihatkan kecantikan Yoona di depan matanya.
"Mau ke mana sampai rapi begitu?" tanya Erlan sembari menarik dasinya ke bawah karena rasa gugup yang tiba-tiba ia rasakan.
"Bukannya Mas Erlan mau ajak keluar, ya? Jadinya aku bersiap-siap."
"Tentu, tapi kau seperti ingin pergi ke pesta. Sudah sana ganti baju." Erlan merasa kesal saat menyadari lekukan tubuh istrinya begitu terlihat sempurna. Ia merasa tidak ingin keindahan itu menjadi pusat perhatian.
"Memangnya kenapa dengan tampilanku sekarang, Mas Erlan? Inikan lebih menarik, dan salah satu gaun kesayanganku juga."
"Aku bilang ganti, ya sudah ganti. Udah deh nurut aja bisa enggak?"
"Iya-iya. Mendingan Mas Erlan sendiri yang pilih gaun untukku sekarang."
"Baiklah." Erlan segera masuk ke dalam kamar istrinya, namun sikapnya itu tidak ia duga membuat Yoona tersenyum.
__ADS_1
"Entah ada angin apa denganmu malam ini, Mas. Tetapi, aku senang saat kau memberikan perhatian untukku sekarang. Meskipun kecil, tapi aku suka," batin Yoona sembari mengikuti langkah suaminya dengan senyuman yang tidak ia hentikan.
Mulai mengeluarkan semua gaun yang Yoona miliki, rata-rata gaun terindah itu semuanya menampilkan lekukan yang sempurna. Terlihat begitu singkat dan padat. Erlan melewati semua pakaian yang bagus, tetapi tidak dengan yang satu ini.
"Pakai ini saja cepat," pinta Erlan sembari melemparkannya begitu saja.
"Piyama? Yang benar saja, Mas Erlan? Memangnya kita akan tidur di kantormu pakai piyama segala? Ayolah, Mas Erlan. Ini sudah malam, dan bagusnya kita seperti pasangan yang lain. Berkencan, ke bioskop, naik wahana. Itu sangat menyenangkan sekali. Aku pikir kau ingin mengajakku ke sana." Yoona mengeluh tanpa ia tahan untuk mengatakan segalanya.
"Jangan berisik. Cepat pakai piyama itu lalu di luar pakai jaket ini, kau cocok memakai pakaian seperti ini. Ayo cepat, aku berikan waktu satu detik," paksa Erlan tanpa ingin penolakan.
"Astaga ... kau membuatku takut saja, Mas." Yoona langsung buru-buru memakai pakaiannya sampai membuat rambutnya berantakan.
Menatap penampilan Yoona seperti ingin pergi ke pasar ikan, sungguh membuat Erlan bahagia sampai tersenyum manis.
"Nah gitu kan bagus. Ya sudah ayo kita ke luar. Sekalian ambil kunci mobil dan juga dompetku."
Yoona menatap tubuh Erlan dari belakang dengan sangat kesal, ingin rasanya ia mendorong suaminya.
"Dasar nyebelin! Dia hanya ingin aku terlihat seperti orang gila begini," batinnya sembari melakukan perintah Erlan dengan paksaan.
Tiba di dalam mobil, Yoona langsung duduk di kursi penumpang. Membuat Erlan berhenti untuk naik ke dalam.
"Hei, kau pikir aku ini supir pribadimu? Sini duduk di depan, dan bawa mobilnya."
"Bawa mobil? Mas Erlan, aku tidak bisa menyetir." Yoona berusaha menolak karena ia masih begitu merasa trauma yang berat.
"Kau bisa, aku tahu itu. Cepatlah kemari. Aku tidak ingin mengemudi karena selama kita pergi bersama, kau yang menyetir mobil untukmu. Cepat lakukan, jangan terlalu manja," desak Erlan tanpa ingin tahu.
Tidak ada pilihan lain yang dapat Yoona lakukan selain dengan mematuhi segalanya. Pelan-pelan ia memegang kendali mobil, namun bayangan tentang kecelakaan itu kembali menyerang dirinya.
Tangan Yoona bergetar, namun Erlan masih berusaha untuk tidak membuat Yoona menyerah.
"Ada apa? Kau ingin membuat drama apalagi sekarang? Ayo cepat segera nyalakan mesinnya dulu."
__ADS_1
"Mas Erlan, tanganku bergetar. Sepertinya aku tidak bisa melakukan hal ini. Aku sangat takut."
"Jika sekali saja kau menolak dan turun dari mobilku, maka aku pastikan setelah pulang nanti kau akan mendapatkan hukuman yang berat. Sekarang hidupkan mesinnya, aku tidak mau tahu akan rasa takutmu itu" perintah Erlan dengan penuh amarah.