Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Pulang


__ADS_3

"Siapa yang ingin begitu? Tidak ada sama sekali. Ernio, jangan terlalu berdekatan, dan kapan kau akan membawaku pulang?" tanya Yoona dengan baik-baik.


"Rencanaku beberapa hari lagi, tapi melihatmu sangat ingin pulang sekarang, maka hari ini aku akan membawamu pulang, Yoona. Terlebih tidak akan lama lagi perayaan pesta Papa Agra bersama wanita itu. Tentu saja kita harus ada di sana, bukan?"


"Ya, itu harus. Aku pun tidak ingin pergi terlalu lama seperti sekarang. Lagi pula siapa yang akan mencari ku? Pasti tidak ada. Ya sudah kita pulang sekarang saja, bagaimana? Jangan lagi menunggu sore ataupun malam, aku ingin sekarang, Ernio," paksa Yoona sampai raut wajahnya terlihat merajuk.


Membuat Ernio menghembuskan nafasnya lalu berkata. "Baiklah kalau begitu, kita akan pulang hari ini. Tapi, bagaimana dengan lukamu? Kau tidak bisa memaksa untuk berjalan sekarang."


"Aku tahu itu, tapi setelah kau obati bisa membuatku berjalan dengan perlahan. Setidaknya perban ini bisa membuatku lebih nyaman. Ya sudah, bisa kita pulang, kan?"


"Jika kamu memaksa, maka aku tidak memiliki pilihan lain. Baiklah, Yoona. Ayo kita pulang," ajak Ernio sembari mengulurkan tangannya untuk bergandengan.


"Kita tidak bisa terlihat sedekat ini di depan banyak orang, Ernio. Pulanglah tidak denganku, kau bisa pulang lebih dulu. Aku mohon ... supaya mereka semua tidak curiga," pinta Yoona.


"Aku setuju, baiklah. Aku akan mengemas barang-barang ku dulu."


Keputusan yang sudah bulat, membuat Yoona dan Ernio pulang kembali. Namun di dalam perjalanan, keduanya tidak saling berkomunikasi, bahkan Yoona lebih memilih untuk diam sembari menatap ke setiap gedung tinggi dan perumahan dinas yang sedang ia lewati. Tanpa Yoona sadari, begitu banyak gambar wajahnya yang terpampang di beberapa tempat beserta lengkap dengan nomor telepon.


"Jadi, mereka sudah menyebar untuk mencari ku? Tapi sepertinya itu nomor telepon milik Malvin, itu artinya hanya Malvin yang berusaha mencari ku. Memang aku tahu, bahwa Mas Erlan sudah pasti bahagia setelah kepergianku ini," batin Yoona yang merasa sangat bersedih.


Hati kecilnya merasa sangat tidak nyaman sampai ia menarik kaca mobil demi membuat dirinya lebih tenang. Keadaan itu membuat Ernio terheran.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba wajahmu cemberut begitu? Kau takut?"


"Bukan, tapi aku hanya sedang tidak enak badan saja."


"Benarkan?"

__ADS_1


"Ernio, tolong. Jangan terus bertanya, aku sedang tidak ingin menjawabnya. Biarkan aku tidur sebentar, dan jika sudah tiba tolong bangunkan aku. Tapi aku mohon, jangan sampai kau menurutkan diriku di depan rumah secara langsung, mengerti?"


"Oke." Ernio menjawab dengan santai tanpa ingin membuat Yoona semakin kelelahan.


Setelah melihat wanita itu tertidur dengan pulas, ia mengusap tangan Yoona dengan perlahan. Usapan penuh cinta, membuat Ernio begitu senang melihatnya.


"Seperti di dalam mimpi, saat aku sekarang bisa bersama denganmu, Yoona. Kau adalah milikku, dan setelah itu akan aku tunjukkan bahwa kau tetap harus menjadi milikku," gumamnya sembari tersenyum tipis.


***


Erlan merasa tidak berdaya saat ia terbangun dari tidurnya, tidak biasanya ia terbangun kesiangan seperti sekarang. Rasa ia ingin terus rebahan sembari menunggu keajaiban kepulangan Yoona. Meskipun sudah memutuskan beberapa anak buahnya untuk terus mencari Yoona, tetapi mereka belum sama sekali memberikan keterangan.


Hingga membuat Erlan menunggu kabar di teras rumah sembari terus memegang ponselnya.


Begitupun dengan Malvin yang juga terus berlalu lalang demi bisa menunggu Yoona kembali. Ia berharap anak buahnya juga dapat membawakan kabar terbaik, namun sayangnya mereka kembali dengan raut wajah yang datar.


"Maafkan kami, Tuan. Semua tempat sudah kami buatkan poster agar Yoona bisa ditemukan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu, bahkan sudah kami janjikan uang banyak, tapi tetap saja tidak ada hasilnya," sahut salah satu dari mereka.


"Aku tidak mau tahu, kalian harus kembali mencari Yoona-ku sampai ditemukan. Jika tidak, uang yang sudah kalian dapatkan akan aku kurangi, mengerti?!"


"Siap, mengerti, Tuan!"


Ketiga pria berotot besar itu segera melangkah pergi, namun tepat saat Malvin ingin masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Erlan.


"Siapa yang datang?" Rasa penasaran Malvin begitu tinggi, hingga membuatnya segera bergegas pergi untuk melihat.


Begitupun dengan Erlan yang langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Ernio kembali, namun ia tidak pernah pikirkan bahwa keberadaan istrinya ada di dalam mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Rasa cemas dan gelisah membuat Erlan ingin segera berlari ke arah Yoona, tetapi dengan tiba-tiba Ernio berdiri di depannya untuk bisa menghentikan niat dari saudaranya itu.


"Apa maksudmu ini?" tanya Erlan dalam kebingungan serta rasa kesal karena Ernio berani menghalangi jalannya.


"Bukankah sudah jelas bahwa dia bukan lagi istrimu, Kak Erlan, namun dia kembali bersama denganku. Itu artinya dia milikku, jadi jangan dekati Yoona lagi," sahut Ernio dengan penuh keberanian.


Tidak ada rasa takut bagi Ernio sendiri, terlebih ia merasa lelah jika harus terus berbohong. Hingga akhirnya ia memberanikan diri meskipun tahu akan konsekuensi dari semua perbuatannya itu.


Erlan semakin tidak mengerti, terlebih rasa percaya terhadap Ernio yang masih ada. "Kau ini sedang berbicara apa? Kakak ipar mu sudah kembali, aku harus menemuinya. Jadi biarkan aku memeluknya, dan aku heran kenapa kau bisa pulang bersama istriku?"


"Apa kau ini tuli? Sudah aku katakan sebelumnya padamu, Kak Erlan. Yoona sekarang bukan lagi milikmu, tapi milikku. Jika kau tidak ingin berhenti di sini, maka aku akan memperlihatkan sebuah rahasia besar padamu sekarang."


"Rahasia? Rahasia apa yang sedang kau maksudkan?" tanya Erlan yang masih berusaha bersikap tenang.


"Aku harap jangan terkejut, Kak Erlan."


Tepat ketika Ernio ingin menyerahkan ponselnya, tiba-tiba Yoona terbangun bahwa itu akan menjadi sebuah malapetaka besar untuknya. Ia segera berjalan meskipun tertatih, ke luar dari dalam mobil, dan langsung merampas ponsel Ernio dengan cepat.


"Kau sudah gila, Ernio. Apa kau pikir dirimu sekarang hebat? Semua yang sudah kita bicarakan ternyata hanyalah omong kosong bagimu, dan sekarang jangan berpikir kalau aku akan mengembalikan ponselmu," bantah Yoona dengan penuh keberanian, tanpa memperdulikan rasa sakit di kedua lututnya.


"Apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan kalian berdua? Dan kau, Ernio! Sejak tadi kau terus berbicara murahan, tapi aku sama sekali tidak tahu sebenarnya apa yang sedang kalian sembuhkan dariku? Cepat berikan ponsel itu padaku, Yoona!" paksa Erlan dengan teriakan kerasnya. Hingga membuat seisi rumah berjalan ke luar.


"Tidak bisa, Mas Erlan! Aku tidak akan menyerahkan ponsel ini padamu, tapi aku berjanji akan mengatakan semuanya padamu. Tolong ... jangan paksa aku untuk menyerahkan ponsel ini," pinta Yoona dengan terus berusaha keras sampai air matanya menetes perlahan.


"Jangan terus bersikap, Yoona. Aku hanya ingin ponsel itu."


Erlan terus berusaha keras karena rasa penasarannya yang begitu besar, namun begitupun dengan Yoona yang terus berlari cepat meskipun rasa sakit ke dua lututnya mulai kembali mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Tidak, tidak boleh! Aku tahu suamiku tidak pernah mengharapkan pernikahan ini, tapi aku tidak ingin dia sampai melihat dengan semua perbuatan bodoh dari Ernio. Meskipun aku mencintaimu, Mas Erlan. Tapi, aku tidak akan rela kau melihatnya," gerutu Yoona dalam batinnya.


__ADS_2