Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Saran Terburuk


__ADS_3

"Um, aku ada sedikit keperluan di rumah temanku, Kak Erlan. Jadi nanti aku akan pulang setelah selesai, tolong jangan cemaskan diriku," sahut Ernio dengan cepat. Lalu segera mematikan ponselnya sebelum Erlan terus bertanya.


"Harusnya tadi aku tidak perlu menghidupkan ponsel ini, dan ternyata dugaan ku benar. Pasti ada panggilan masuk dari rumah, ah sial!" kesal Ernio sembari melemparkan ponselnya sembarangan tempat.


***


Setelah telepon selesai, Erlan terduduk diam dengan penuh kebingungan. Ia merasa semakin ada yang aneh di tengah-tengah keluarganya. Hal ini membuatnya sama sekali tidak bisa tertidur sepanjang malam. Melihat dirinya yang masih terjaga di halaman belakang, tiba-tiba Papa Agra berjalan mendekat ke arah putranya.


"Belum niat untuk tidur?" tanya Papa Agra sembari ikut duduk di samping Erlan.


"Mau apa Papa ke sini? Kenapa tidak pulang saja ke rumahmu, Pa?" tanya Erlan dengan ketus sembari menatap dengan tatapan tajam.


"Nak, memangnya aku tidak boleh berada di rumahmu sebentar saja? Ayolah, Erlan. Acara pesta hari ini sangat meriah, jadi itu sebabnya aku memilih untuk menginap di rumahmu semalam. Tapi ngomong-ngomong, di mana istrimu? Sejak tadi Papa tidak melihatnya."


"Haruskah aku menjawab agar kesalahanmu hilang, Pa? Kau tahu bagaimana pusingnya kepalaku sekarang? Lalu sekarang kau justru memperlihatkan wajahmu di depanku. Kenapa tidak bersenang-senang saja dengan calon mama baruku? Itu jauh lebih baik, bukan?" sindir Erlan dengan sengaja.


Meskipun demikian, Papa Agra masih tetap berusaha untuk bisa mendapatkan restu dari putranya meskipun sudah mendengar sindiran buruk sekalipun.


"Jika kau bertanya, tentu saja aku sebagai ayahmu harus menjawabnya, bukan? Memangnya aku tidak boleh ikut bahagia di usia senjaku ini, Nak? Apa kau tidak ingin melihatku menikah lagi, dan ada yang mengurusi diriku? Kau dan adik-adikmu sudah dewasa, tapi aku tidak ingin mempersulit kalian di usia dewasa. Justru dengan menikah, aku mampu hidup menua bersama dengan istriku kelak."

__ADS_1


"Aku tidak mempermasalah dengan niatmu untuk menikah lagi, Pa. Hanya saja aku tidak habis pikir kenapa harus dengan mamanya Malvin? Kau tidak tahu bagaimana kelakuan anaknya padaku, bahkan sekarang dia sudah memilih resign dari perusahaan kita. Aku dengannya tidak memiliki hubungan yang baik, tapi sekarang kau justru ingin menikahi ibunya. Aku tidak habis pikir, begitu banyak wanita di dunia ini, lalu kenapa harus dengan ibunya Malvin? Pa, sebelum terlambat setidaknya pikirkan tentang kami semua. Aku tidak mau menjadi saudaranya," bantah Erlan tanpa ingin memberikan restu.


"Erlan, setidaknya lihat dari sisi baik hubungan ini, Nak. Kau bisa saja menolak untuk tidak menjadi saudara Malvin, tapi Papa akan tetap menikahi ibunya, apapun itu yang terjadi. Hubungan kami sudah berlanjut lama, dan dia sangat menyayangi papamu ini, Nak. Lagi pula kalian hanya membutuhkan waktu agar semuanya membaik, bukan? Percayalah padaku, Nak. Semuanya akan bisa baik-baik saja tanpa perlu rasa takut. Meskipun kalian menolak pernikahan ini, Papa akan tetap menikahi Mama Geisha."


"Astaga ... kenapa kau sangat keras kepala, Pa?!" Erlan semakin tidak terima, bahkan ia semakin dibuat pusing karena keluarganya sendiri.


"Terserah apa katamu, Nak. Papa sudah memberikan dirimu kehidupan dan kekayaan, jadi jangan bantah keinginan Papa untuk menikahi lagi, terlebih dengan Mama Geisha," tegas Papa Agra dengan sangat kekeh.


Pria paruh baya itu melangkah pergi, namun baru beberapa langkah Erlan sudah berteriak. "Tunggu dulu, Pa! Kau bisa saja menikahi wanita itu, tapi aku dan kedua anakmu lainnya akan memastikan tidak akan datang di hari pernikahan kalian!"


Teriakan itu membuat hati Papa Agra merasa sedih, terlebih nanti menjadi hari yang paling di nanti-nantikan untuk kebahagiaan kecilnya.


Langkah Papa Agra tidak berbalik, namun justru ia kembali bergerak meskipun rasa sakit di hatinya masih begitu kuat. Rasanya ingin sekali pernikahan ini tidak ditahan oleh siapapun.


Terlihat kesedihan di raut wajah Erlan, dan itu membuat Alice ingin segera mendekatinya. Namun tidak dengan Emma yang langsung bergegas untuk kembali tertidur, tanpa ingin memikirkan banyak hal.


Baru niat untuk melangkah, namun Mama Sania lebih dulu menahan tangannya. "Tunggu dulu, Nak."


"Ada apa, Ma? Aku ingin menemui Erlan, dia terlihat sangat kacau sekali."

__ADS_1


"Aku tahu karena itulah aku menghentikan langkahmu sekarang karena aku ingin memberitahukan sesuatu. Inilah kesempatan bagus untuk meminta Erlan menikahi mu. Dengan begitu, pikirannya akan semakin kacau, dan bagus untukmu. Lakukanlah sekarang, Ibu mau lanjut tidur lagi," saran Mama Sania.


"Ide yang bagus, Ma. Aku akan semakin tidak kepikiran. Baiklah," sahut Alice dengan raut wajah yang penuh senyuman.


Berjalan sembari membawa segelas air, dan langsung menaruhnya di depan Erlan sembari berucap. "Jika amarahmu terlalu lama, maka itu tidak akan membaik. Minumlah sekarang supaya kau bisa lebih tenang."


"Aku tidak mau, Alice. Lebih baik'pergilah dari sini. Aku ingin sendiri," tolak Erlan tanpa menatap ke wajah lawannya bicara.


"Hei ... jangan begitu, Erlan. Meskipun dirimu ingin aku akan pergi, tapi aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini dalam pikiran yang buruk. Aku tahu jika kau tidak setuju dengan pernikahan Papa Agra, tapi jangan salahkan dia, melainkan Ibunya Malvin. Dialah yang sudah membuat papamu menjadi tidak bisa mendengarkan kita, maka itu artinya kita pun tidak bisa membuatnya bahagia, Erlan. Kalaupun kau terus memperlihatkan rasa bencinya di depan Papa Agra, apa kau tidak takut jika sewaktu-waktu saham perusahaan akan dicabut dan bisa saja digantikan dengan nama adikmu—Ernio. Bukankah saat ini Papa Agra sedang begitu menyanjung kepulangan Ernio? Maka pikirkan hal ini baik-baik," jelas Alice tanpa ingin membuat Erlan salah langkah.


Terdiam setelah mendengar saran, tetapi semua itu membuat Erlan semakin yakin bahwa ucapan Alice memang benar. Terlebih ia tidak ingin jatuh miskin.


"Lalu aku harus apa, Alice? Bagaimana mungkin aku bisa tenang dengan menyetujui pernikahan papaku dengan seorang wanita dari anak yang paling aku benci. Kau tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan Malvin yang sama sekali tidak baik karena Yoona, ini masih membuatku tidak bisa berpikir jernih." Terlihat rasa bimbang di raut wajah Erlan yang begitu besar.


Namun, hal itu membuat Alice takut, justru ia tersenyum manis sembari menggenggam tangan Erlan.


"Aku tahu kalau kau sangat cemas dengan papamu, Sayang. Meskipun begitu, aku akui bahwa kau juga ingin melihat kebahagiaan papamu, bukan? Itu sebabnya restui pernikahan mereka agar dirimu tidak semakin menjauh darinya. Jika tidak, ketakutan yang sudah aku katakan bisa saja terjadi padamu. Jadi, sebelum terlambat kita bisa berbuat baik dengan merestuinya, tapi tidak untuk menyukainya, kau mengerti?"


"Apa maksudmu, Alice? Bagaimana mungkin bisa aku merestui mereka? Jelas saja aku pun tidak akan pernah bisa menyukai wanita itu bahkan mengganggap nya sebagai ibuku saja tidak mau."

__ADS_1


"Aku tahu itu, tapi kau harus dengarkan solusi dariku, Sayang. Percayalah semuanya akan membaik," sahut Alice yang terlihat begitu santai.


"Jadi, katakan apa tujuanmu?"


__ADS_2