Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Kecemburuan Erlan


__ADS_3

"Maaf? Jadi, kau sudah mengetahui tentang wanita itu sebelumnya? Kenapa tidak katakan padaku, Jerrol? Apakah setiap pria hanya bisa menyakiti wanitanya saja? Bahkan aku tidak mengerti sejak kapan mereka sudah menjalin hubungan."


"Sejujurnya saya juga baru tahu saat ingin pergi mencari kalian, Nona Yoona. Maafkan saya karena memang masalah ini tidak bisa saya beritahukan begitu saja. Terlebih setiap rahasia Tuan Erlan menjadi yang paling utama bagiku," jelas Jerrol yang tidak memiliki wewenang yang tinggi.


"Berarti memang aku yang tidak tahu hal ini, tapi baiklah, Jerrol. Aku tidak ingin marah padamu, tapi jangan hentikan aku untuk bertemu dengan suamiku sekarang.


"Tentu saja, Nona. Pergilah."


Kasihan sekali dia. Di saat seperti ini Yoona masih tidak memiliki tempat di hati Erlan, bahkan di sisinya juga," lirih Jerrol saat melihat Yoona yang segera bergegas pergi.


Menuju ke sebuah kamar tamu, tempat Erlan ingin beristirahat. Ingin segera membuka pintu kamar tersebut, namun tiba-tiba tangannya ditarik dengan kuat oleh Alice dengan tatapan yang tajam.


"Hei, mau apa kau?" tanya Alice.


"Apa mauku? Tentu saja ingin bertemu dengan suamiku. Memangnya apalagi mauku?" Yoona menjawab dengan tegas sembari tidak peduli ketika harus melihat Alice ingin mencegahnya.


"Apa kau ini sangat tuli? Sudah jelas-jelas Erlan bilang jika ia mau istirahat. Lalu sekarang kau ingin masuk untuk menggangunya, begitu? Jangan semena-mena di rumahku. Kau hanya orang asing yang berada di sini, jadi lebih baik pergilah dari sini. Erlan tidak mau bertemu denganmu."


"Itu hanya keinginanmu, tapi bukan keinginan dari suamiku. Lagi pula aku tidak mendengar Erlan yang melarang diriku untuk masuk ke dalam sana. Jadi, lebih baik kau saja yang tidak perlu mengurus urusanku di sini," bantah Yoona tanpa ingin mengalah.


"Kurang ajar kau ini." Alice begitu kesal hingga ia berusaha mendorong tubuh Yoona dengan kasar.


Tindakannya itu membuat Yoona merasa sakit di perutnya, dan untung saja Yoona tidak terjatuh karena Jerrol dengan cepat menahan tubuhnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja, Nona Yoona?" tanya Jerrol.


"Aku baik-baik saja, Jerrol. Tapi, wanita ini tidak tahu malu karena sudah melarang ku untuk bertemu dengan suamiku," sahut Yoona seraya memegangi perutnya. "Aku harap kau tidak apa-apa, Nak. Mama hanya ingin memperjuangkan papamu. Jadi, tolong bertahanlah untuk tidak terasa sakit," batinnya.


"Jerrol, lebih baik kau bawa pergi saja dia dari sini. Erlan sedang istirahat, aku tidak ingin kekasihku terganggu karena ulahnya ini," perintah Alice.


"Maaf, Alice. Tapi, kau bukan majikan yang bisa memerintah dengan seenaknya. Lagi pula Nona Yoona memang berhak untuk menemui suaminya. Mau nanti Tuan Erlan menyuruhnya pergi atau tetap tinggal, itu bukan urusanmu," timpal Jerrol.


"Kau juga ingin membela wanita ini? Oh ya ampun, Jerrol! Aku sama sekali tidak menduga. Aku pikir, aku akan mendukungku, Jerrol."


"Tetap tidak, Alice. Karena aku denganmu bukanlah majikan dan pelayan yang harus aku patuhi. Terlebih aku hanya membela yang benar saja. Ya sudah, Nona Yoona. Sebaiknya masuklah ke dalam."


"Tetap tidak, Jerrol. Aku bilang tidak, ya tidak! Jangan membantah." Tiba-tiba Alice merentangkan kedua tangan agar Yoona tidak berusaha masuk.


Selepas berucap, Yoona segera menutup pintu dengan sedikit keras, lalu menguncinya dari dalam. Sikap Yoona yang tegas mampu membuat Alice begitu kesal.


"Kurang ajar! Berani-beraninya dia melawanku di rumahku sendiri," geram Alice sampai ia mengepalkan tangan.


Berbeda dengan Jerrol yang justru tertawa kecil dengan bermaksud mengejek. "Makanya jangan suka mencuri madu dari lebah yang sedang tertidur. Lihat sendiri akibatnya, kan? Yoona bahkan tidak takut melawan mu."


"Hentikan omong kosong mu itu, Jerrol. Aku bilang tidak suka, maka tetap tidak, dan aku tidak akan kalah dengan wanita itu," kesal Alice lalu melangkah pergi.


"Huss ... sana pergi. Tapi ngomong-ngomong, mereka berdua sedang apa di dalam, ya? Aku jadi penasaran, dan entah kenapa aku sedikit tidak suka dengan ini semua." Jerrol merasa hatinya sedikit kesakitan saat ia terus memikirkan keberadaan Yoona berduaan di dalam sana. Hingga ia memilih untuk pergi.

__ADS_1


Erlan sedang terlelap dengan begitu pulas, tetap tidak dengan Yoona yang perlahan berjalan mendekat ke arah suaminya, lalu duduk tepat di samping kanan tempat tidur yang kosong.


Melihat luka yang lumayan besar di perut Erlan, membuat Yoona merasa kasihan dan tidak tega. Rasa marah karena sudah ditinggalkan di hutan dalam sekejap menghilang saat melihat Erlan terluka.


"Semoga kau cepat sembuh, Mas Erlan," bisik Yoona sembari mengusap perut Erlan.


Usapan tersebut membuat Erlan terbangun hingga menyadari keberadaan Yoona di dalam kamar.


"Sejak kapan kamu ada di sini? Dan bagaimana bisa masuk?" tanya Erlan sembari bangkit dari tidurnya dengan bantuan Yoona dengan disengaja.


"Aku masuk karena terpaksa ingin melihat keadaanmu, Mas. Memangnya aku tidak boleh suamiku yang sedang terluka seperti ini?"


Pertanyaan tersebut justru membuat Erlan terkekeh, lalu ia menatap wajah Yoona dengan tatapan tajam. "Oh ya? Lantas, apa bedanya saat kau melihat Malvin? Bukankah dia itu kekasihmu?"


"Malvin? Kau tahu hal ini darimana, Mas Erlan?"


"Aku tahu dari Malvin sendiri, karena dia berusaha mencari mu saat Jerrol dan Alice sudah menemukan diriku. Rupanya diam-diam kau masih menjalin hubungan dengannya. Aku pikir kau melakukan pernikahan denganku karena menginginkan diriku. Ternyata kau tidak jauh berbeda dari kebanyakan wanita yang aku kenal, Yoona. Memiliki banyak pasangan memang menyenangkan, bukan?" Erlan terlihat salah paham.


"Mas Erlan, apa yang kau pikirkan? Siapa yang sudah memiliki banyak hubungan? Sama sekali tidak ada, dan hubunganku bersama Malvin sudah berakhir sejak hari pertama kita menikah. Di saat itu aku berusaha untuk tidak lagi membalas panggilannya, begitupun dengan berusaha mengabaikannya. Namun aku tidak tahu kalau ternyata Malvin yang datang menyelamatkan diriku di tengah hutan," jelas Yoona akan penolakan dari tuduhan untuknya.


"Jangan membohongi diriku, Yoona. Bahkan saat kita berdua pertama kalinya bertemu dengan Malvin, kau sendiri tidak mengatakan apapun padaku tentang dirinya. Bukankah itu sangat aneh? Diam-diam kau menyembunyikan hubungan kalian. Tapi tidak apa-apa, Yoona. Sekarang ini kita sudah sama-sama memiliki kekasih, bukan? Aku juga sudah menjalin hubungan dengan Alice. Itulah sebabnya aku bisa berada di sini dengannya."


"Tolong percayalah padaku, Mas Erlan. Di sini hanya dirimu yang berkhianat, tetapi aku tidak. Meskipun aku jujur jika Malvin diam-diam terus berusia bertemu denganku, tetapi aku tidak sepenuhnya memedulikan dirinya. Kau sudah salah paham denganku, Mas." Yoona berusaha membujuk sampai ia memeluk dengan erat.

__ADS_1


"Hei, lepaskan aku! Jangan peluk aku." Dengan sebelah tangannya Erlan menepis rasa simpati yang Yoona berikan. "Yoona, buktinya telah ada, aku harap besok kita bisa segera untuk membuat surat cerai. Semakin hubungan ini dipertahankan, hanya ada derita yang akan sama-sama kita dapatkan."


__ADS_2