Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Rindu Terpendam Erlan


__ADS_3

“Kita bisa berpura-pura manis saat di depan Papa Agra, bukan? Tapi, tidak ketika wanita itu di sini. Mama barumu nanti harus bisa menjadi yang paling merasa tersakiti, tapi kita bertingkah bagus hanya saat mereka bersama, tidak ketika terpisah. Kau paham dengan maksud ku ini kan, Sayang?"


Erlan terdiam, ia merasa bingung untuk harus mempercayai semua perkataan Erlan ataupun tidak. Hal itu membuatnya merasa sangat dilema.


"Rasanya sulit sekali agar aku bisa menuruti keinginan dari Alice. Entah kenapa aku tidak suka berpura-pura bersikap manis dan tidak, jika memang aku tidak suka, maka aku akan memperlihatkannya. Namun, di mana dia bisa mendapatkan ide gila seperti sekarang? Terlihat sangat licik," batin Erlan.


Diambil Erlan justru membuat Alice merasa kebingungan. Lalu mengayunkan satu tangan di depan wajah pria itu. "Hei! Kau baik-baik saja? Kenapa malah tak acuh padaku, Sayang?"


"Ah tidak-tidak, aku hanya sedang berpikir. Baiklah jika itu niatmu, maka akan aku lakukan. Namun, aku belum berjanji, Alice. Kau bisa memikirkan semuanya nanti lagi," sahut Erlan yang hanya bisa pasrah, tetapi tidak terlalu memperdulikan semua keinginan buruk Alice yang menurutnya sangat berlebihan.


"Baguslah, Sayang. Kalau memang kamu sudah setuju, maka aku pun sangat senang sekali," sahut Alice sembari merebahkan sendiri kepalanya di bahu Erlan tanpa di minta.


"Sepertinya Erlan sudah mulai peduli dan menaruh rasa perhatian yang lebih padaku, apalagi dia juga mulai mempercayai semua ucapan ku. Baguslah perkembangan yang bagus untuk kelancaran hubungan kami," batin Alice.


"Um ... karena kita sejak tadi ada di sini, bagaimana kalau kau mencium ku, Sayang? Kau setuju? Jika tidak, aku bisa memulainya," goda Alice dengan pertanyaan yang ia sengaja sampai membuat tangannya lebih dulu meraba tubuh Erlan.


Namun sayangnya, pria itu mulai menjaga jarak agar supaya tidak bisa membuat Alice dengan sesuka hatinya.


Perlahan Erlan bangkit dari duduknya, raut wajahnya terlihat tidak bersemangat ketika Alice ingin menyentuhnya.


"Loh? Kenapa kamu menjauh, Sayang? Kau tidak suka aku sentuh? Ayolah ... aku sangat merindukanmu sekarang." Alice terlihat sedikit merengek sembari ia kembali ingin mendapatkan kecupan dari Erlan.

__ADS_1


Namun lagi-lagi, pria itu berusaha menghindar. "Bukan tidak suka, Alice. Namun, aku sedang tidak berminat. Kita bisa melakukannya kapanpun itu juga, ayolah terlalu banyak masalah di dalam keluarga ini yang membuatku lelah. Jadi tolong, sedikit pahami dengan perasaanku."


"Sial! Bisa-bisanya dia mengabaikan ciumanku. Padahal, aku sudah berminat untuk bisa mengajaknya tidur bersama malam ini," gerutu Alice dalam batinnya.


Berusaha untuk terlihat tidak kesal, Alice langsung kembali merangkul Erlan dengan sendirinya.


"Ya sudah kalau memang kau tidak berniat, maka aku tidak akan memaksamu. Aku paham kalau kau sedang kesulitan, tapi bisakah aku meminta satu hal lagi? Ini tidak akan terjadi sekarang, namun aku hanya ingin mendengar keseriusan mu, Sayang."


"Memangnya apa itu?" tanya Erlan yang terlihat terheran.


"Aku tahu kalau kau sudah memiliki istri, Sayang. Hanya saja ... pernikahanmu pun tidak bahagia, bukan? Jadi di sini, aku ingin melengkapi kebahagiaan ini bersamamu, jadi apa tidak sebaiknya kita menikah saja? Dengan begitu, pernikahan kita akan menjadi lengkap. Terlebih hubungan ini sudah begitu dekat, sampai-sampai Papa Agra pun sudah tahu tentang kita. Bisakah kita melakukannya, Sayang? Menikahlah denganku."


Lamaran kecil yang sedang Alice lakukan membuat Erlan tidak menduga bahwa hubungannya akan di tagih seperti sekarang. Padahal ia tahu pasti jika awalnya Alice hanya akan dijadikan sebagai sebuah pelampiasan kecil dari pernikahannya sendiri.


"Um, menikah itu suatu hal yang terlalu rumit, Alice. Apa tidak sebaiknya kita tunda dulu sampai semuanya membaik? Yoona belum hadir, begitupun dengan Papa Agra yang sebentar lagi akan menikah. Aku sendiri belum merasa siap jika pernikahan harus terjadi di waktu sekarang," tolak Erlan dengan lembut agar tidak menyinggungnya.


"Jika begitu, kapan juga kita akan menikah, Sayang? Aku tidak mau berada di dalam hubungan tanpa kejelasan ini. Aku ingin kita bisa memiliki hubungan yang serius, tidak bisakah jika kita menikah di waktu yang sama dengan Papa Agra menikah?"


"Aku mohon kau dapat mengerti dengan kondisiku ini, Alice. Tolong ... pahamilah sedikit. Jika begitu, aku akan pergi dulu. Rasanya kepalaku terlalu berat dan sepertinya harus tidur. Selamat malam, Alice."


Tanpa menunggu sahutan dari Alice, dengan cepat Erlan segera bergegas pergi. Ia tidak merasa bersalah meskipun sudah membuat wanita itu merasa sangat kesal.

__ADS_1


"Kata Mama jika saat ini waktu yang tepat agar Erlan bisa menerimaku sebagai istrinya, tapi mana hasilnya? Dia sama sekali tidak peduli padaku sekarang," gerutu Alice sembari menendang sebuah meja yang berada di depannya.


Kepergian Erlan, membuatnya masih berdiri di depan jendela setelah melihat ke arah kasurnya yang kosong. Terlihat bayang-bayang wajah Yoona ketika masih di siksa olehnya di sini. Namun sekarang, rasanya sangat hampa saat wanita itu pergi darinya.


Kerinduan mulai Erlan sadari ketika Yoona tidak berada di sisinya, padahal hanya satu malam wanita itu tidak pulang. Namun seperti rasanya sebulan, di kala hatinya ingin sekali melihat dan mendekap tubuh istrinya sekarang.


Bulan yang terlihat begitu terang di atas, membawa Erlan duduk atas balkon sembari terus menatap ke arah langit. Entah mengapa, malam ini ia sama sekali tidak berminat apapun, selain hanya ingin kedatangan istrinya.


Tetesan air mata perlahan terjatuh, meskipun Erlan sadari ia tidak harus menangis, tetapi sebagai pria yang memiliki hati yang lemah dapat membuatnya menangis perlahan seraya mengingat kebersamaannya saat di dekat Yoona.


Terduduk dalam penuh penyesalan, entah mengapa sekarang Erlan semakin tidak berdaya ketika hati kecilnya terus saja memanggil Yoona.


"Maafkan aku, maaf ... harusnya aku tidak memberikan kehancuran padamu, Yoona. Sekarang semuanya hancur. Entah kamu sudah berniat pergi dariku dengan serius, tapi aku sama sekali tidak ingin melepaskan dirimu, Yoona. Tolong kembalilah padaku ...." Erlan terus merengek seperti seorang anak kecil yang sedang merindukan ibunya.


Kali ini, ia baru menyadari betapa Yoona begitu berharga untuknya. Semua kesedihan yang sudah ia berikan, kembali terbayang, begitupun dengan kebahagiaan yang sedikit bisa ia lihat.


"Yoona, aku mohon kembalilah. Aku merindukanmu," lirih Erlan sembari memeluk harum wangi dari pakaian Yoona yang saat itu berada di tangannya.


Aroma wangi yang khas milik Yoona, membuat Erlan merasa seperti wanita itu berada di dekatnya. Hingga Erlan tidak menyadari ia mulai terlelap di atas balkon dalam keadaan angin malam yang ikut meratapi kerinduannya sekarang.


Terlihat di sebuah mimpi kecilnya, Yoona datang dengan penuh senyuman, dan ingin sekali memeluk tubuhnya. Erlan berlari cepat sembari ingin memberikan kehangatan, namun tidak terduga justru Erlan merasakan jika ditubuh Yoona terdapat banyak duri yang mulai menusuk kulitnya.

__ADS_1


Mimpi kecil itu mulai membuat Erlan tersadar dari tidurnya. Ia terlihat terdiam sembari merasa sedikit ketakutan dari mimpinya kali ini.


"Bahkan di mimpi pun duri saja bisa menghalangi kerinduan ku sekarang. Apa artinya? Aku sama sekali tidak ingin dia pergi ataupun melukaiku lagi, tapi jika itu terjadi, aku akan berusaha mencari kebaikan dengan memaafkan dirinya. Entah aku bisa melakukannya, tapi akan aku coba," gumam Erlan dengan sifat lembutnya yang mulai terlihat.


__ADS_2