Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Malam Terburuk


__ADS_3

Tidak tahu ke mana Ernio akan membawanya, namun sejak tadi Yoona terus melirik ke arah jarum jam di tangan Ernio.


"Berapa lama lagi kita akan tiba di tempat yang kamu inginkan, Ernio? Bagaimana kalau sampai pestanya selesai, dan kita masih ada di sini?" tanya Yoona dengan penuh kecemasan.


"Ayolah, Yoona, tenang saja. Tidak akan pesta selesai karena kita berdua tidak akan lama. Yoona, setidaknya aku ingin memberikan hadiah kecil dari kerja kerasku sendiri. Meskipun bagimu nantinya tidak akan begitu berarti, tapi percayalah bahwa aku tidak suka ketika melihatmu bersusah payah saat kita masih sekolah dulu. Jadi sekarang, pejamkan matamu karena sebentar lagi kita akan sampai," sahut Ernio dengan santainya.


"Baiklah. Tapi memangnya butuh berapa lama mataku harus terpenjam?"


"Belum juga sedetik, Yoona. Sini biar aku pakaikan penutup mata agar kamu tidak bisa curang."


Yoona hanya menurut tanpa merasa ada kecurigaan. Tangannya di tuntut oleh Ernio untuk memasuki sebuah rumah sewaan yang sudah dipersiapkan oleh Ernio.


Sebelum membuka penutup mata, Ernio memberikan segelas minuman agar Yoona bisa segera meminumnya. Namun, hal itu membuat wanita itu sedikit curiga.


"Tunggu dulu, Ernio. Memangnya minuman ini hadiah untukku? Ayolah, jangan bergurau."


"Tentu saja tidak, Yoona. Aku hanya merasa haus, dan aku pikir kau pun demikian. Jadi, aku rasa kita duduk dulu dan minum bersama. Hadiahnya sudah ada di belakangmu, tapi nanti aku akan membuka penutup mata mu," jawab Ernio dengan sangat baik agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Yoona meminum segelas anggur yang sudah bercampur dengan sebuah obat khusus, tanpa ia ketahui, namun rasanya cukup lezat. Membuat Yoona merasa penasaran dengan hadiah yang akan Ernio berikan, sampai membuatnya tidak tanggung-tanggung untuk segera menghabisi minuman di tangannya.


"Aku sudah, lalu mana hadiahnya, Ernio? Agar kita bisa segera pulang. Pasti pesta selanjutnya akan lebih meriah lagi." Terlihat Yoona sangat gegabah.


"Santai dulu, Yoona. Aku tahu kau ingin bertemu dengan Kak Erlan, dan nanti aku sendiri yang akan membawamu kepadanya, tapi sebelum itu terima kasih karena kamu sudah menghargai hadiah dariku atas kerja keras ku ini. Baiklah, Yoona. Aku akan membuka matamu sekarang."


"Tentu saja, aku juga sudah lelah seperti orang buta seperti ini."

__ADS_1


Yoona merasa heran karena tidak ada kotak hadiah di dekatnya, namun hanya ada sebuah mobil mewah berwarna merah di sampingnya.


"Lalu mana hadiahnya? Kita harus pulang cepat, Ernio," tanya Yoona dengan sedikit memaksa.


"Di sampingmu, Yoona. Inilah hadiah yang aku maksud, dan ini kuncinya."


"Mo-mo-mobil?! Ernio, ini bukan hadiah kecil, tapi terlalu besar. Kau pasti sudah salah." Yoona menggelengkan kepalanya dengan rasa yang tidak percaya.


"Inilah hadiah yang aku maksudkan itu, Yoona. Murni atas kerja kerasku sendiri, tanpa ada bantuan uang sedikitpun dari Papa Agra ataupun Kak Erlan. Karena itu sebabnya aku sedikit terlambat menyelesaikan pendidikan ku, dan memilih berlama-lama untuk di sana karena aku bekerja paruh waktu. Aku harap kau bisa menerima hadiah ini," jelas Ernio dengan sangat bersemangat.


"Tidak bisa, Ernio. Ini tidak akan mungkin aku terima. Kau sendiri tahu kalau aku hanyalah kakak ipar mu, bukan lagi kekasihmu, Ernio."


"Ya, aku mengerti, tapi anggap saja hadiah ini sebagai bukti bahwa aku masih sangat mencintaimu, Yoona. Aku ingin ... agar kau ada untukku," ucap Ernio dengan perlahan-lahan berjalan mendekat.


Dengan perlahan Yoona mulai merasa gerah apalagi setelah melihat tubuh Ernio yang ternyata cukup kekar, ditambah minuman yang sudah dicampur dengan bubuk tertentu, sudah mulai bereaksi.


Merasakan sedikit basah jika di kedua belahan pahanya, dan Yoona semakin tidak terkendalikan. Seketika ia seperti melupakan jati dirinya, dan justru menjatuhkan tubuhnya dengan sengaja ke arah Ernio.


Bayangan wajah Ernio mulai terlihat berubah seperti Erlan, di dalam pandangan Yoona. Sampai Yoona seperti tidak merasa risih sedikitpun. Menjadi kesempatan yang bagus untuk Ernio untuk segera membawa wanita itu masuk ke dalam sebuah rumah yang sudah ia sewakan beberapa hari ke depan.


Malam itu, Yoona terlihat sangat bersemangat ditambah peluh keringat di tubuhnya mulai perlahan ke luar saat ia mulai merasa gerah dengan tiba-tiba. Membawa Yoona memasuki kamar mandi, hingga Ernio merasa begitu puas.


"Ide Alice sangatlah brilian, dan setelah ini kau tidak akan terlepas lagi dariku, Yoona," gumam Ernio sembari menyentuh leher wanita itu secara perlahan.


Deru nafas Yoona mulai terdengar tidak karuan sampai membuat Ernio tidak bisa menghentikan niatnya. Bahkan dengan sengaja Ernio mematikan ponselnya agar tidak ada seorangpun yang dapat menghubungi.

__ADS_1


Mulai dengan perlahan sampai Yoona benar-benar terlihat polos, namun saat itu Ernio baru menyadari jika ada yang berbeda dengan perut wanita itu.


"Kenapa dia terlihat seperti sedang mengandung?" tanya Ernio yang tiba-tiba tercengang. "Dasar brengsek kau, Alice! Tapi, aku tidak akan mungkin memulangkan Yoona dalam keadaan tidak sadar seperti ini. Bisa-bisa Kak Erlan membunuhku."


Semakin yakin bahwa Yoona memang sedang mengandung, namun niatnya sudah berada di ubun-ubun. Membawa Yoona terbang melayang di dalam kenikmatan sesaat sampai ******* mulai terdengar.


Ditambah Ernio merasa jika Yoona masih terlalu sempit, dan ia menyakini kalau Erlan tidak sering menyentuh istrinya.


Malam itu menjadi sebuah malapetaka yang baru bagi Yoona, namun Ernio tidak peduli ketika kenikmatan telah menguasai dirinya.


Tidak cukup di dalam kamar mandi, lalu Ernio membopong tubuh Yoona untuk terbaring di atas ranjang yang besar.


"Maafkan aku, tapi setelah ini aku akan bertanggung jawab apapun yang akan terjadi denganmu, Yoona," batin Ernio yang merasa sedikit kasihan.


Teringat dengan kebaikan Erlan yang selalu menyayangi kedua adik-adiknya, namun sekarang Ernio tidak peduli jika ia sudah mengkhianati istri dari kakaknya sendiri. Malam itu Ernio merasakan sensasi yang luar biasa sampai ia melakukan hingga ketiga kali, dan berusaha memastikan agar kenangan tetap tersimpan di dalam ponselnya.


Diam-diam Ernio telah merekam beberapa detik saat Yoona masih mengerang nikmat, namun ia sengaja melakukannya demi mengoleksinya sendiri.


Memeluk Yoona dengan erat sembari menatap wajah wanita itu berkali-kali. "Entah setelah ini kau akan memaafkan diriku atau tidak, tapi percayalah bahwa aku akan menghapus semua luka yang sudah Kak Erlan berikan, meskipun dengan cara yang salah."


Mengusap pipi Yoona dengan penuh cinta sampai Ernio tidak tersadar ia ikut tertidur pulas sembari menarik selimutnya, tanpa melepaskan pelukan.


Hingga tidak terduga, hujan deras turun membasahi kota, dan membuat para tamu undangan pulang satu per satu. Namun dengan tiba-tiba, Erlan tidak sengaja menyenggol sebuah gelas minuman sampai serpihan kaca menggores luka di kakinya.


Membuat semua keluarga terkejut, apalagi pesta masih tetap berlanjut. Berbeda dengan Alice yang dengan begitu cepat menunduk demi bisa mencari perhatian saat ia merasa cemas dengan kaki Erlan yang sedang terluka.

__ADS_1


__ADS_2