
Permintaan Erlan sama sekali tidak Yoona inginkan, meskipun harus berjauhan sementara. Yoona segera merangkul tangan Erlan sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku akan tetap menunggumu di sini sambil mendirikan tenda, Mas Erlan. Kau tidak boleh meninggalkanku di sana."
"Tapi, kakimu sedang terluka, Yoona. Aku tidak akan lama. Lagi pula kau masih bisa melihatku, kan? Sudah pergilah, daripada Bayah kuyup di sini."
"Tetap tidak mau, Mas."
"Ya sudah kalau kau tidak mau. Berdirilah di sini, dulu."
Yoona menjawab dengan anggukan kecil, ia hanya menunggu sembari melihat Erlan yang sedang berusaha keras memasangkan tenda. Meskipun terlihat sedikit kesulitan, namun Erlan telah berhasil.
"Ayo kita masuk, Yoona."
Pakaian keduanya telah basah, Erlan segera membukanya tanpa menunggu lama. Namun tidak dengan Yoona yang masih merasa segan, meskipun mereka pernah tidur berdua.
"Gantilah pakaianmu dulu, Yoona. Nanti kau malah sakit memakai pakaian basah kuyup seperti itu."
"Tidak apa, Mas Erlan. Aku tidak akan kesakitan, percayalah."
"Kau sangat keras kepala sekali," sahut Erlan yang langsung membuka satu per satu kancing pakaian istrinya.
"Ganti bajumu, dan pakai jaketku dulu. Aku tidak ingin kau sakit di saat kita belum menemukan hasil apapun."
Melihat sikap Erlan yang jauh lebih lembut dengannya hari ini, mampu membuat Yoona senang. Terlebih Erlan terlihat lebih perhatian.
Masuk ke dalam selimut tebal yang sama, tanpa saling berpelukan. Benar-benar untuk hanya menghangatkan tubuh masing-masing.
"Mas Erlan."
"Hmm, ada apa?"
"Bagaimana kalau seandainya yang kau ingin cari tidak akan dapat, Mas Erlan? Terlebih kita belum tentu bisa menemukan cara ke luar dari hutan ini."
__ADS_1
"Aku tahu, dan itu akan sangat sulit sekali. Tapi entahlah, aku akan terus berusaha meskipun sulit. Mungkin akan membawa Tante Rega sekaligus bersama dengan Jerrol. Karena berdua saja seperti ini tidak akan menemukan apapun," sahut Erlan.
"Kau benar sekali, Mas Erlan. Meskipun sikapmu sekarang jauh lebih perhatian denganku, tapi ternyata kau masih menyimpan keinginan yang besar untuk mendapatkan bukti itu. Sekeras itu kau berusaha agar bisa berpisah denganku, Mas," batin Yoona yang mulai tersadar bahwa perhatian kecil bukanlah untuk bisa menerimanya dengan lapang.
Tidak ingin banyak bertanya, namun tiba-tiba Yoona memilih untuk melepaskan selimutnya sendiri meskipun cuaca di luar masih terasa begitu dingin.
Yoona sampai memilih merebahkan tubuhnya secara menyamping dan membelakangi Erlan, padahal ia berusaha agar kesedihannya tidak terlihat. Meskipun demikian, Erlan menyadari sikap Yoona tiba-tiba berubah.
"Maafkan aku, Yoona. Kau pasti tidak ingin mendengarnya. Apalagi aku yang telah membawamu ke hutan seperti ini," batin Erlan sembari memberikan selimut hanya untuk Yoona seorang.
Sontak membuat Yoona menatap ke arah Erlan saat melihat pria itu memeluk tubuhnya dalam kedinginan seorang diri. Ia segera kembali memberikan menyelimutinya.
"Kau kenapa, Mas Erlan? Tubuhmu sendiri dingin, lalu kenapa berikan selimut ini untukku seorang?"
"Karena aku tahu kau ingin tidur. Lagi pula aku yang sudah membuatmu lelah sampai berada di tempat buruk ini. Pakai saja untukmu, Yoona. Aku masih bisa menahan diriku," sahut Erlan yang sangat keras kepala sekaligus memperlihatkan ketahanan fisiknya.
"Tidak bisa, Mas Erlan," jawab Yoona sembari menggelengkan kepalanya. "Aku akan sangat senang membiarkan dirimu kedinginan, daripada harus dirimu yang merasakan hal itu."
"Tapi kenapa, Yoona? Aku berhak menyakinkan dirimu aman karena itu tidak akan membuatku repot selama di hutan ini."
Kejujuran yang ia ungkapkan, mampu membuat Erlan terdiam. Ia tidak membalas semua pengakuan cinta yang telah Yoona ucapkan, justru sikap pria itu semakin terlihat dingin dengannya.
Keduanya tidak saling berbicara, namun tiba-tiba saja Yoona merasakan rasa dingin yang jauh lebih besar ketika angin berhembus lebih besar. Hingga membuat pertahanan tenda mereka hampir ikut terbang.
Menatap Yoona dengan rasa kasihan, Erlan memilih untuk memeluk istrinya dengan sangat erat. Pelukan yang dapat membuat Yoona lebih nyaman, ia segera membalasnya.
Tatapan mata yang saling bertemu membuat Erlan tidak menduga bahwa hasrat di dalam dirinya kembali memuncak saat melihat bibir ranum istrinya.
Memberikan sebuah kecupan dengan sangat lama, dan tangannya mulai bergerak bebas. Saat ini Erlan hanya tahu untuk bisa melampiaskan semua hasrat yang ia pendam, namun tidak dengan Yoona yang telah pasrah.
"Meskipun kau merampas milikku secara paksa ku, aku sudah ikhlas, Mas Erlan. Apalagi kalau kau menginginkan diriku seperti ini, aku akan tetap menerimanya. Karena aku milikmu, dan hanya akan seperti itu. Meskipun kelak aku belum tahu kau akan menjadi milikku ataupun tidak," batinnya.
Di dalam selimut yang tebal, Erlan mulai bergerak bebas hingga rasa dingin mulai berganti dengan kehangatan yang jauh lebih nikmat.
__ADS_1
"Mas Erlan, aarh ...."
"Ya, Yoona. Aku di sini."
Untuk ke sekalian kalinya, Erlan merasakan sensasi yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia perbuat ketika di rumahnya. Terlebih penyatuan dengan alam mampu membuat dirinya jauh lebih bertenaga. Hingga Yoona sampai merasa kewalahan.
Begitupun dengan Yoona, baru merasakan lembutnya semua sikap Erlan saat menyentuhnya. Meskipun ia tahu, dirinya seperti mendapatkan hinaan sebelum balasan cinta datang, tapi tetap saja ia merindukan setiap sentuhan Erlan.
Perlahan hujan dan angin berhenti, dan kenikmatan kembali Yoona dapatkan. Erlan semakin bergerak lebih cepat, terlebih pria itu mendesah saat Yoona yang memimpi di atasnya.
"Yoona, yeah ... Yoona, sedikit lagi." Membuat Erlan semakin tidak dapat menahan diri hingga titik terakhir terlepas di dalam.
Memeluk Yoona dengan erat yang masih berada di atas tubuhnya sembari mengusap rambut istrinya, batinnya berkata. "Kau selalu menerima setiap perlakuan baik atau buruk ku, entah mengapa aku tidak ingin kau pergi dariku, Yoona."
Untuk pertama kalinya, Erlan berusaha mencium kening Yoona seperti sedang memperlihatkan rasa cinta. Sebab selama ini, pria itu tidak pernah melakukannya.
"Jangan pergi dariku, Yoona. Aku menyayangimu," ucap Erlan secara tidak tersadar. Lalu pria itu tertidur pulas dengan keberadaan Yoona yang masih ia peluk dengan erat dari atas.
Seketika membuat Yoona menatap wajah suaminya dengan begitu lama, lalu mengusap wajah tampan itu, dan mengecup kecil di hidung Erlan yang mancung.
"Aku juga sangat menyayangimu, Mas Erlan. Jauh sebelum kau menyadarinya. Tentu saja aku tidak akan pergi darimu," gumamnya.
Pelukan yang hangat mampu membawa mimpi yang indah. Yoona melihat sosok Erlan sedang duduk seorang diri, ia lalu berjalan mendekat.
"Hai, Mas Erlan. Kau sedang menungguku?"
"Tentu saja, sayangku. Kemarilah," ajak Erlan seraya membawa Yoona ke dalam pangkuannya. "Kau ingin menerima ciumanku lagi?"
"Tentu saja, cium aku lagi, Mas Erlan. Bibir ini sangat lembut," sahut Yoona sembari menyentuh bibir suaminya secara perlahan.
"Tentu saja, Sayang."
Erlan segera melakukannya, tetapi tiba-tiba seorang wanita datang lalu segera merampas ciuman paksa dari Yoona. Sontak membuat Yoona terhempas jauh, dan melihat Erlan bersama wanita itu saling bercumbu mesra di depannya.
__ADS_1
"Mas Erlan, kenapa kau tega sekali?"