
"Sayang, kau baik-baik saja?! Kakimu terluka!" Alice sedikit berteriak dengan memanggil nama kesayangan, namun hal itu membuat Papa Arga terdiam dengan tiba-tiba saat gerakan dansa masih terus ia lanjutkan.
Dengan penuh perhatian, Alice berlari mengambil kotak obat, dan langsung mengobati Erlan. Tanpa merasa jijik bahkan Alice sembari menaruh telapak kaki Erlan di atas lututnya.
"Ya ampun ... kenapa sampai gelas itu terjatuh, Sayang? Lihat sekarang, kakimu terluka cukup besar, dan sepertinya kau tidak bisa masuk kerja besok pagi." Alice terlihat begitu cemas.
"Aku tidak tahu kalau meja gelas itu di belakangku. Tidak apa-apa, ini hanya luka biasa," sahut Erlan yang berusaha menahan rasa sakitnya.
"Tetap saja, Sayang. Luka besar seperti ini tidak bisa dianggap main-main daripada nantinya kau bisa semakin parah. Lebih baik sekarang kau beristirahat ke kamar. Ayo aku antar," ajak Alice dengan sedikit memaksa.
"Baiklah." Erlan hanya bisa pasrah, dan memilih menerima saat Alice menggandeng tangannya.
Baru beberapa langkah mereka bergerak, namun diam-diam Papa Agra langsung mematikan musik yang sedang berlangsung. Membuat semua orang terheran melihatnya.
"Tunggu sebentar, Erlan! Sekarang sebaiknya pesta di bubarkan saja. Ayo cepat sekarang pergilah!" bentak Papa Agra kepada para tamu yang beberapa masih menetap.
"Papa, ada apa? Itu semua tinggal teman-temanku. Kenapa malah mengusir mereka?" tanya Emma yang merasa tidak nyaman.
"Terserah. Papa hanya ingin pesta ini dihentikan, dan kau—Erlan, jangan dulu pergi ke kamarmu," perintah Papa Agra dengan tegas.
"Memangnya ada apa, Pa?" tanya Erlan dengan tenang. Namun, ia tetap tidak melepaskan pegangan tangan Alice.
Tanpa berkata apapun, namun dengan tiba-tiba Papa Agra memberikan sebuah tamparan keras di depan keluarga kepada Erlan, bahkan Malvin masih menatap di tempat saat ibunya juga belum kembali.
"Apa kau ini sudah gila? Apa-apaan kalian berdua main sayang-sayangan di depan banyak tamu seperti tadi? Bahkan di sana juga ada teman bisnis kita, Erlan. Bagaimana kalau seandainya namamu menjadi buruk saat mereka mengetahui dengan perselingkuhan kamu ini?"
"Lalu, Papa ingin aku ini bagaimana? Apa mungkin seperti diam-diam membawa mama baru bagi kami di sini, begitu? Tidakkah Papa juga salah karena sudah membawa wanita itu masuk ke dalam keluarga kita tanpa bertanya sedikitpun kepada kami semua," bantah Erlan dengan cepat saat ia melihat kesalahan orangtuanya.
__ADS_1
"Lancang sekali kau ini, Erlan! Aku berhak bersikap seperti itu karena aku sudah murni seorang diri tanpa adanya istri, tapi bedanya denganmu yang jelas-jelas memiliki istri, tapi main sayang-sayangan dengan sekretaris mu sendiri. Erlan, mau ditaruh di mana nama baik keluarga kita ini?"
Rasa kecewa yang begitu besar sampai membuat Papa Agra begitu marah hingga ia tidak memperlihatkan saat kondisinya mulai melemah.
"Lantas aku harus seperti apa, Pa? Berpura-pura untuk bahagia atas pernikahanku sendiri, begitu? Sedangkan kau sendiri tahu bahwa yang sudah aku nikahi bukanlah tunanganku dulu, tapi melainkan saudara kembarnya. Namun, kau masih tetap tidak mempermasalahkan hal itu karena bagimu sendiri pandangan mata dari banyak orang jauh lebih penting daripada kebahagiaan anak-anakmu sendiri," ketus Erlan dengan tegas.
"Itu karena kau sudah menikahinya, Nak. Jika belum, aku pun tidak akan merestui kalian berdua."
"Dan apa bedanya denganmu yang jelas-jelas memiliki seorang kekasih di usiamu yang seharusnya menerima cucu dari kami, Pa. Bukan membawa wanita lain masuk ke dalam rumah ini, tapi sudahlah, aku pun tidak bisa membantah saat kau dengan sendirinya langsung mencetak surat undangan pernikahan tanpa berdiskusi dulu dengan ketiga anakmu. Lantas, ini bagimu sangat adil, begitu? Aku sungguh tidak percaya kau selalu bersikap egois, Pa!" balas Erlan dengan tidak kalah pedas.
Seketika Papa Agra terdiam saat ia menyadari bahwa keputusan pernikahan memang sudah direncanakan, namun tanpa bermusyawarah dengan keluarga. Keadaan itu membuat pria paruh baya itu tidak bisa berkata apapun, saat ia merasa dirinya juga sudah salah.
Mama Geisha mengusap pundak Papa Agra sembari berkata. "Tidak apa-apa, Mas. Semuanya akan baik-baik saja, ya. Kita pasti bisa menyelesaikan semuanya berdua. Kalau begitu aku dan Malvin akan pulang dulu, jika nanti semuanya sudah membaik, kita akan bicara semuanya baik-baik."
"Baiklah kalau begitu ayo aku antar ke depan."
"Iya, Mas. Bagaimana denganmu, Malvin? Kamu akan pulang bersama dengan mama juga, kan?"
"Baiklah kalau begitu. Mama duluan, ya."
Membuat Malvin menunggu di tempat pesta meskipun semua tamu undangan sudah pergi, namun ia masih begitu cemas dengan keberadaan Yoona yang sudah tidak lagi terlihat.
Begitupun dengan ponsel Yoona yang sama sekali tidak bisa dihubungi, dan semakin membuat Malvin cemas memikirkannya.
"Ya ampun ... di mana kamu sekarang, Yoona? Tidak akan mungkin kamu pergi malam-malam sendirian seperti ini? Apalagi pestanya di rumah suamimu sendiri."
Kecemasan Malvin membuat Emma yang sejak tadi menatapnya dengan rasa bingung, ia pun mendekat.
__ADS_1
"Lagi cari siapa? Kenapa masih di sini? Mamamu sudah kembali sejak tadi," tanya Emma dengan ketusnya.
"Apa Yoona ada di kamarnya? Aku tidak melihatnya dari tadi."
"Aku tidak tahu, tapi mungkin dia sedang tertidur. Memangnya kenapa kalau dia tidak ada di sini? Tidak perlu mencemaskan dirinya, kan? Dia bukan siapa-siapa dirimu, jadi pergilah dari rumah kakakku," usir Emma tanpa merasa bersalah.
"Aku tidak akan pergi sebelum melihat Yoona di sini baik-baik saja, dan biarkan aku masuk ke kamarnya untuk mencarinya," paksa Malvin.
"Hei! Kau tidak bisa sembarangan di rumah ini!" Emma sedikit berteriak sampai membuatnya berlari mengikuti Malvin.
"Terserah apa katamu, tapi aku tetap harus melihat keadaannya." Malvin tidak peduli sampai ia terus-menerus memaksa hingga berlari membuka satu per satu kamar. Namun terlihat Alice yang sedang menunggu sampai Erlan tertidur.
Membuat mereka terheran dengan sikap Malvin yang sangat lancang. Dengan berjalan tertatih, Erlan menuju ke pintu depan sembari Alice membantunya bergerak.
"Berani sekali kau main masuk dan membuka kamar di rumahku begitu saja? Kau ini tidak diundang, tapi tetap saja datang di pestaku bersama dengan ibumu," kesal Erlan sembari menatapnya dengan tatapan tajam.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau ucapkan, tapi katakan di mana Yoona berada?!" bentak Malvin tanpa rasa takut meskipun Erlan pernah menjadi atasannya.
"Dia istriku, dan tidak berhak menjadi urusanmu. Sekarang pergilah dari sini, atau aku akan meminta penjaga untuk mengusir mu."
"Dia memang istrimu, tapi kau sama sekali tidak peduli dengannya. Sekarang katakan! Di mana Yoona berada?!" tegas Malvin sembari menarik kerah baju Erlan dengan sangat kuat. Terlebih ia begitu berani saat keadaan kaki Erlan yang sedang terluka.
"Beraninya kau, Malvin! Penjaga, cepat ke sini! Bawa pria ini ke luar dari sini, sekarang!" perintah Alice dengan tegas seolah-olah seperti pemilik rumah.
Meskipun demikian, tidak membuat Malvin akan langsung menyerah, namun justru ia melawan para penjaga itu sampai mereka kewalahan. Terlihat seorang wanita paruh baya yang sebelumnya begitu Malvin kenal.
"Beruntunglah kau datang ke sini dengan cepat, Tante. Katakan di mana Yoona sekarang? Apa dia ada di sini bersamamu? Kau sejak tadi melihatnya tidak?" tanya Malvin dengan sangat gegabah kepada Mama Sania sekaligus ibu kandung Yoona.
__ADS_1
"Dia tidak ada di sini, begitupun di dalam hatiku. Aku sudah lama menganggapnya mati, sekarang lebih baik pergilah dari sini, Nak. Kau tidak bisa berbuat keributan di dalam rumah orang lain." Mama Sania sama sekali tidak membela, justru hal itu membuat Malvin begitu tidak menduga sikap wanita itu berubah begitu cepat.
"Sungguh? Kau ingin mengusir putrimu sendiri dari dalam hatimu? Wah ... aku semakin berniat untuk menjaga Yoona selamanya, Tante. Ya sudah, jika memang dia tidak ada di sini, maka aku akan mencarinya kemanapun juga," ucap Malvin dengan tekadnya.