
"Tunggu apalagi? Ayo cepat keluar!" Malvin segera membentak Jerrol sembari menutup pintu ruangan tersebut. Tidak ingin jika pembicaraan penting mereka di dengar.
Melihat sikap Malvin, membuat Yoona sedikit tidak suka. "Dia tidak bersalah, kenapa kau harus membentaknya hanya karena marah padaku, Malvin?"
"Memangnya dia siapa? Aku hanya tidak suka dengan tatapannya itu."
"Dia bukan siapa-siapa selain temanku saja, sekaligus dia orang yang membawaku ke rumah sakit ini."
Sahutan Yoona terlihat santai, dan sangat perlahan. Dengan tatapan yang datar. Membuat Malvin semakin terheran dengan perubahan dari kekasihnya itu. Apalagi sebelumnya mereka sama sekali tidak ada kata berpisah.
Berjalan mendekat kearah Yoona sembari menggenggam tangan tanpa ingin melepaskan. Malvin memberikan kecupan di tangan yang dulu sering mengusap wajahnya hanya karena ia kelelahan.
"Yoona, jujur saja saat mengetahui kematianmu, duniaku seketika hancur. Bahkan dua bulan lebih aku mengurung diri di kamar sampai kehilangan pekerjaanku. Kenapa kau setega itu membiarkan tantemu membohongiku? Padahal, kau selamat dari kecelakaan itu," tanya Malvin yang meminta penjelasan.
Perlahan Yoona menarik tangannya karena tidak ingin semakin membuat Malvin salah paham. Lalu ia berkata. "Lupakan aku, Malvin. Kita tidak akan berjodoh meskipun kau mencintaiku."
"Tapi kenapa, Yoona? Kau bahkan memblokir nomor lamaku. Apa salahku selama kita bersama? Dua tahun kita sudah membina hubungan dengan impian yang dulu pernah kita ucapkan. Apalagi saat kau selalu tertawa denganku. Meskipun aku sering mengabaikan mu, tapi itu karena pekerjaanku. Bahkan kabar duka itu hampir saja membuatku berpikir untuk ikut denganmu ke surga."
"Malvin, jangan lagi bahas itu. Aku mohon tinggalkan aku sekarang." Tidak ada penjelasan karena Yoona tahu jika Malvin bukanlah orang yang akan menerima keputusannya dengan mudah.
"Tidak lagi, Yoona. Saat di pemakaman, aku menjerit sejadi mungkin karena berpikir kau telah terkubur di bawah sana. Nyatanya kau menghilang, dan sekarang aku menemukan kabarmu kembali setelah aku tahu kau telah menikah dengan orang lain. Yoona, apa kau berusaha membunuh diriku juga secara perlahan?"
Tidak pernah Yoona pikirkan bahwa ternyata Malvin telah mengetahui segalanya tentang pernikahannya itu. Seketika timbul rasa bersalah yang paling dalam di hatinya. Apalagi ketika mengingat saat harus meninggalkan kekasihnya demi berkorban atas nama kakaknya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Yoona menangis sejadi mungkin tanpa diketahui sebab oleh Malvin. Pria itu tidak tega, lalu ia membawa Yoona ke dalam pelukan. Mengusap rambut sembari mengecup puncak kepalanya. Rasanya hati Malvin seketika kembali tenang, dan kisah dua tahun yang lalu kembali seperti tidak ada masalah apapun.
Berbeda dengan Jerrol yang hanya menatap dari celah kaca pintu ruangan tersebut. Ia dapat merasakan pelukan dari Malvin yang terlihat begitu tulus.
Pelan-pelan tangisan Yoona mulai reda. Meskipun ia tidak tahu menangis karena rasa sakit akibat dari suaminya atau karena meninggalkan kekasihnya tanpa kabar.
"Sekarang minumlah, dan tenangkan dirimu. Jika belum mau bicara, tidak apa. Aku akan tetap menemanimu di sini sampai kau sembuh," ucap Malvin dengan segala ketulusannya.
Yoona hanya menurut, lalu ia menatap wajah Malvin yang seperti sedang menahan kesedihan dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Malvin."
"Tidak, Yoona. Kau tidak bersalah, bagiku, kau hanya dipaksa. Meskipun aku masih sangat kecewa," sahut Malvin.
"Malvin, aku sungguh tahu jika kau-"
"Sayang, aku paham kau tidak ingin menyakiti diriku. Sehari setelah pernikahanmu, aku mencoba mendatangi rumahmu, tapi ternyata kau tidak ada di sana. Aku sama sekali tidak tahu keberadaan mu di mana. Hingga akhirnya tantemu terpaksa menjelaskan semuanya saat aku mulai kesal. Jelas saja dia takut. Hanya saja ... Aku tidak mengerti ketika kau ikut mendukung pernikahan paksaan itu. Apa secepat itu kau melupakan diriku? Kita bahkan belum mengucapkan kata perpisahan."
"Aku terpaksa melakukannya, Malvin. Kak Fiona telah berkorban banyak untukku, jadi mana mungkin aku akan rela membiarkan orang yang disayangi menderita setelah mendengar kabar kematiannya itu. Apalagi jika hari pernikahan mereka batal," sahut Yoona demi menjelaskan.
"Ya, kau benar. Lalu apa kau pernah berpikir dengan kebahagiaan dirimu sendiri, Yoona? Sayang, aku takut kau menderita. Aku sangat cemas. Berhari-hari aku memikirkan dirimu. Tolong sekarang kembalilah padaku, dan kita lupakan masalah ini." Malvin meminta dengan penuh semangat.
Dengan perlahan Yoona menggelengkan kepala, entah kenapa hatinya tak lagi berdebar-debar saat mendengar rayuan dari Malvin.
__ADS_1
"Aku tidak bisa karena aku sudah menikah dengan orang lain, Malvin. Tolong, jangan sebut diriku dengan kata sayang. Itu akan menyakiti hati orang lain."
"Apa bedanya denganku, Yoona?! Kau bahkan tidak sadar telah menyakiti hatiku juga. Sungguh permainan macam ini? Saudara kembar yang saling berkorban cinta. Wah ... sebuah drama yang gila." Malvin mulai marah, ia merasa terhina.
"Maafkan aku, Malvin. Meskipun sekarang kita tidak mengucapkan kata berpisah, namun kita telah berpisah saat kau mengetahui tentang kabar pernikahanku. Aku harap kau dapat menerimanya dengan lapang."
Sama sekali tidak dapat Malvin percayai ketika mendengar semua itu. Ia sendiri merasa bingung ketika menyadari tidak ada lagi harapan cinta yang tersiksa untuknya.
"Yoona, tolong pikirkan sekali lagi. Aku hanya ingin kita kembali bersama." Memohon Malvin dengan sangat keras meskipun sudah tahu jawabannya.
"Tidak. Pernikahan bagiku bukan sekedar permainan, Malvin. Terlebih ini menyangkut dengan sumpahku juga terhadap kakakku. Dia akan tenang di sana setelah menolongku, maka aku akan menolongnya. Aku tahu jika kau tidak akan menerimanya, Malvin. Tetapi, aku yakin wanita lain akan lebih mengerti tentang dirimu. Setidaknya pahamilah kondisiku sekarang yang sudah menjadi istri orang."
"Yoona, kau sungguh keterlaluan sekali. Tapi baiklah, aku akan melihat seberapa bahagianya dirimu bersama dengan orang itu. Setidaknya jika kau tidak bahagia, maka aku tidak akan tinggal diam," batin Malvin yang mulai memilih menyerah untuk sementara waktu.
"Ya sudah kalau begitu. Aku berharap kau dapat bahagia dengan pernikahan ini, tapi aku mohon untuk tidak meninggalkanku setidaknya sebagai temanmu. Yoona, aku mungkin harus berusaha terbiasa sendiri, jadi tolong bertemanlah denganku lagi."
Membuat Yoona tersenyum manis, ia lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sembari berkata. "Ya, kita akan menjadi teman."
"Terima kasih banyak, Yoona. Bolehkah aku memelukmu lagi? Untuk perpisahan ini."
Yoona menjawab dengan anggukan kecil, ia merasa tidak ada masalah yang lain. Terlebih demi kebaikan mereka berdua yang sudah berpisah secara baik-baik.
Melihat kesabaran Malvin, membuat Yoona mengusap pundak pria itu sembari batinnya berucap. "Aku tahu kau akan selalu mendukungku, Malvin. Maafkan atas diriku, tapi sekarang aku menolak karena rasa ini mulai pudar. Meskipun aku akui, pernikahan itu seperti neraka untukku. Namun, kau tidak boleh mengetahui tentang masalahku, apapun itu."
__ADS_1
Di sisi lain, Jerrol terus mengintip saat ia merasa ada yang aneh. Pelukan yang terjadi mampu membuatnya berpikir macam-macam. Ingin segera menghubungi Erlan, namun tiba-tiba seseorang memukul pundaknya dari belakang.