Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Rindu Tanpa Sengaja


__ADS_3

Sentuhan kecil yang Alice berikan, tidak membuat Erlan senang ataupun kesal, namun tidak ada rasa apapun meskipun Alice dengan terang-terangan berusaha untuk menggodanya.


Meskipun Erlan sadar bahwa sekarang ia sedang mencari pelampiasan kepada wanita lain, namun ia menyadari hatinya tidak merasa sedikitpun sensasi. Justru ia tiba-tiba mengingat dengan malam kedua yang pernah ia lakukan bersama Yoona.


Bayangan saat Yoona berada di bawah dirinya, mampu membuat Erlan terdiam. Terlebih lekukan tubuh Yoona yang jauh lebih berisi daripada tunangannya dulu, semakin membuat Erlan menyadari bahwa memang istrinya itu sempurna dari fisiknya.


Entah kenapa Erlan seperti ingin melihat kehadiran Yoona sekarang, namun hal itu tentu saja sangat mustahil terjadi, terlebih ia tidak tahu di mana keberadaan istrinya kini. Apalagi itu kali pertamanya saat merasakan sensasi liar di atas ranjang, sebab sebelumnya ia tidak melakukan sejauh itu.


Erlan terus melamun sampai membuat Alice terheran. Dengan perlahan wanita itu mendekati wajahnya, berniat ingin mencuri kecupan nikmat untuk Erlan. Tetapi tiba-tiba, Erlan terkejut hingga sedikit mendorong tubuh Alice menjauh darinya.


"Ada apa, Erlan?" tanya Alice dalam kekesalan yang ia tahan. Masih membuat Alice berusaha untuk bersikap manis, meskipun ia paling tidak suka dengan penolakan tersebut.


"Maaf, aku tidak sengaja. Kemarilah lagi, Alice. Kau baik-baik saja?" Erlan kembali menggenggam tangan wanita itu.


"Aku baik, tapi kenapa kau tiba-tiba melamun? Apa yang sedang kau pikirkan? Bahkan aku bertanya pun tidak kau jawab."


"Um, tidak ada. Entahlah aku pun tidak tahu, Alice. Memangnya apa yang tadi kau tanyakan? Bisakah mengulangnya lagi?"


Erlan terlihat bodoh, namun Alice berusaha menahan diri untuk tidak berbuat ceroboh.


"Dasar, hati batu. Apa mungkin dia sengaja berpura-pura untuk tidak mengingat tentang pertanyaanku tadi? Tapi sudahlah, ini kali pertamanya kami berdekatan. Mungkin aku bisa mengajaknya berkencan malam ini," batin Alice.


"Lupakan saja, Erlan," ucap Alice dengan perlahan.


Erlan terheran sampai keningnya berkerut, lalu bertanya. "Ada apa, Alice? Aku sungguh tidak ingat tentang apa yang sedang kau pikirkan. Ayolah katakan untuk sekali lagi."


"Mungkin pertanyaan itu tidak terlalu penting untukmu, Erlan. Tapi sudahlah, hanya masalah kecil. Oh ya, kebetulan kita bertemu di waktu yang tidak tepat, apalagi siang hari begini. Bagaimana kalau malam ini kita berkencan saja? Ditambah ada hal penting yang ingin aku katakan padaku. Bagaimana, Erlan, kau mau?"


"Berkencan?"


"Ya, tentu saja berkencan. Namun, jika kau sibuk dengan istrimu, maka tidak mengapa. Aku bisa memakluminya. Lagi pula pasti kalian akan segera menyiapkan diri untuk pergi honeymoon, kan?"

__ADS_1


"Baiklah, malam ini kita berkencan," sahut Erlan dengan mantap.


Sontak membuat Alice begitu bahagia, hingga keceriaannya itu membuat Alice dengan sengaja memberikan pelukan sembari kecupan di pipi Erlan.


"Baiklah, malam ini aku akan berdandan yang cantik demi bisa mendapatkan Erlan untukku. Selama sepuluh tahun aku menanti-nantikan hal ini, maka tidak akan aku sia-siakan begitu saja," batin Alice sembari terus memeluk pria itu.


"Apa nanti kau akan menjemput ku juga, Erlan? Jika ya, aku akan menunggumu."


"Tentu saja, Alice. Tunggulah aku."


"Pasti aku akan menunggumu. Ya sudah, aku ingin pulang dulu, dan bersiap-siap untuk malam ini. Sampai jumpa nanti malam, Sayang," ucap Alice sebelum berpisah.


"Sampai jumpa, Alice."


Tanpa Erlan sadari, jika Jerrol sudah melihat kemesraan mereka dari depan pintu. Namun, pria itu dengan sengaja berdiam diri tanpa ingin menggangu.


Melihat keberadaan Jerrol, Erlan segera mendekat kearahnya.


"Akhirnya kau pulang juga, Jerrol. Dari mana saja?"


"Hei, kenapa dengan wajahmu? Murung gitu. Oh ya, apa kau sudah bertemu dengan papaku? Hari ini dia sama sekali tidak menghubungiku. Jadi, aku takut kalau sampai membuatnya benar-benar mencoreng namaku juga."


"Tidak ada, Tuan Erlan. Tetapi tenang saja, nanti aku akan segera menghadapnya tanpa dimintai. Oh ya, Nona Yoona sekarang harus dirawat, mungkin dua hari."


"Ya sudah, wanita bodoh itu juga bukan urusan," sahut Erlan dengan santainya.


Mendengar hal itu, membuat Jerrol terdiam sampai merasa tidak percaya dengan apa yang sedang ia dengar. Lalu ia teringat bahwa Yoona tidak sedang sendirian.


"Tapi, Nona Yoona bersama dengan kekasihnya, Erlan. Kau yakin tidak ingin mengetahui tentang ini juga?" Sengaja Jerrol menguji kesabaran tuannya. Meskipun ia yakin pria itu tidak mempan dengan sekedar ucapan ini.


"Baguslah, aku pun nanti malam akan berkencan."

__ADS_1


"Baiklah, Erlan. Tugasku hari ini hanya tinggal bertemu dengan papamu. Setelah itu aku akan langsung pulang." Jerrol sama sekali terlihat tidak bersemangat.


"Pulang? Secepat itu? Hei, apa kau lupa pekerjaamu hari ini sampai malam?"


"Yang mana?"


"Tentu saja untuk mengantarkan diriku berkencan. Aku tidak ingin membawa mobilku sendiri, Erlan."


"Baiklah jika begitu, Tuan."


Jerrol bersikap dingin, dan membuat Erlan merasakan ada yang aneh. Bahkan sebelumnya Erlan mengingat jika bawahannya itu tidak akan memanggilnya tuan ketika berada di rumah. Namun kini, seperti ada amarah yang tersimpan dalam diam.


Meskipun demikian, Erlan tidak ingin mencampuri semua urusan dari Jerrol. Ia melenggang pergi tanpa lagi bertanya.


Hati Jerrol merasa sedih saat ia mengingat tuannya berpelukan mesra dengan wanita yang paling ia sayangi. Tidak akan mungkin dirinya berkhianat hanya karena persoalan wanita. Kini, hatinya terasa terluka, meskipun sebelumnya ia sudah mengikhlaskan Alice untuk dimiliki tuannya.


"Ada apa denganku? Kau harusnya sadar diri, Jerrol, bukannya melawan begini," gerutu Jerrol di depan cermin dengan dirinya. "Harusnya aku melupakan semua rasa cinta ini untuknya karena tuanku yang lebih pantas untuk Alice."


"Jadi, kau menyukai Alice?" Terdengar suara Erlan dengan tiba-tiba.


Tanpa Jerrol sadari, bahwa Erlan hanya berpura-pura untuk meninggalkan dirinya lebih dulu. Namun sebenarnya, ia berusaha mengintai demi bisa mengetahui permasalahan dari Jerrol. Terlebih mereka berdua sudah seperti sahabat dan keluarga, bahkan tinggal satu pekarangan, meskipun berbeda rumah.


Betapa Jerrol terkejut ketika mendengar pertanyaan itu. Ia tidak mengira bahwa Erlan akan curiga dengannya.


"Ti-dak, Tuan Erlan. Siapa yang sedang menyukai Alice? Sama sekali tidak ada," jawab Jerrol sampai suaranya terdengar bergetar.


Erlan tersenyum kecil sembari melangkah mendekat. Ia memegang bahu temannya, lalu berkata. "Hei, kenapa kau harus berbohong padaku? Katakan saja bahwa memang kau menyukai Alice."


"Sungguh! Aku tidak menyukainya. Lagi pula, mana mungkin aku menyukai wanita sekelas Alice, dia sangatlah sempurna dan berkarir lebih tinggi dariku."


"Kau masih tetap tidak mau berkata jujur, Jerrol? Bukankah kita ini keluarga? Sejak aku memutuskan untuk tinggal berpisah dari papaku setelah kematian ibuku, hanya kau seorang yang aku anggap sebagai keluarga. Jadi, jujur itu akan lebih baik," jelas Erlan dengan perlahan demi bisa menyelesaikan segalanya.

__ADS_1


Sadar akan kesalahan dengan mencoba berbohong, namun Jerrol sendiri tidak mau kalau sampai hubungannya dengan Erlan berantakan hanya karena seorang wanita.


"Bagaimana ini? Jika aku berkata jujur, maka sudah pasti Erlan akan berpikir buruk tentangku. Terlebih kedekatan mereka berdua tadi seperti saling mencintai," batinnya.


__ADS_2