Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Terluka Dalam Kenikmatan


__ADS_3

"Iya-iya aku belajar." Sebenarnya begitu malas untuk membuka setiap lembar halaman depan yang sama sekali tidak Yoona pahami. Meskipun ia sudah berusaha keras, namun sedikitpun yang masuk ke dalam kepalanya.


Terlebih begitu banyak perbandingan bahasa juga struktur letak dalam bisnis yang semakin membingungkan Yoona pahami. Bahkan kata tata letak saja juga memiliki bahasa yang berbeda.


Membuat Yoona terdiam ketika ia sudah merasa lelah. Ia memilih menutup lembaran berkas itu sembari menatap Erlan yang dengan santainya bermain ponsel.


Dari jauh memandang ketampanan suaminya, ia sampai tersenyum sendiri ketika wajah itu telah menguasai pikirannya. "Dua tahun kurang dua hari, menjadi waktu yang singkat untukku bisa melihatmu seperti ini di masa yang akan datang, Mas Erlan. Entah sejak itu kita akan ada perubahan atau sebaliknya. Rasanya aku ingin mengakui jika aku sangat menginginkan dirimu, Mas."


Yoona bergumam dengan begitu pelan, namun Erlan kembali menatapnya setelah ia menyelesaikan permainan di ponselnya. Melihat Yoona begitu santai, Erlan pun mendekat.


"Udah sampai di mana belajarnya?" tanya Erlan.


"Ah apa? Um ... anu, Mas. Bisa enggak kalau besok pagi saja aku lanjut belajarnya? Kebetulan aku mengantuk sekali."


"Apa kau ini lucu? Hei, aku sudah memberikanmu jaminan uang satu juta dollar. Lalu apa itu belum cukup untuk membuatmu belajar sekarang? Lanjut atau aku tidak akan membiarkanmu pulang malam ini," tegas Erlan.


Bukannya membuat Yoona takut, namun justru ia senang setelah mengetahui kalau hal ini bisa membuat suaminya semalaman dengannya. Terlebih ia tahu jika sudah di rumah pasti mereka akan tidur terpisah, meskipun terpaksa sekamar.


Bukannya menurut, Yoona justru dengan ramah sembari mendekati tubuhnya. Ia tahu benar bahwa Erlan tidak mencintainya, namun rasa cinta ini membuat logika dan rasa malunya berada jauh di belakang.


Dengan tiba-tiba Yoona mengalungkan kedua tangan di leher Erlan, hanya berniat untuk membuat Erlan sadar dengan perasaannya. Tetapi, Erlan justru membiarkan sikap aneh istrinya itu.


Kedua mata saling menatap, namun bayangan tentang keindahan bersama mantan tunangannya kembali Erlan lihat. Seakan-akan Erlan berpikir jika momen malam ini sedang membawanya kembali ke dalam masa lalu.


Tanpa tunggu lama sebuah ciuman menggoda Erlan berikan dengan begitu lambat, tetapi sensasinya dapat dirasakan sangat nikmat. Kedua tangan Erlan mulai membawa Yoona ke dalam gendongannya tanpa melepaskan kecupannya.


Deru nafas Yoona mulai terdengar saat Erlan turun mengecup lehernya. Dengan mata terpejam dan sesekali mengacak rambut suaminya.

__ADS_1


"Sweetie, aku rindu ...."


Ketika pakaian Yoona mulai terbuka perlahan, tiba-tiba saja Yoona mendengar saat suaminya memanggil akrab dengan sebutan orang lain. Hatinya seketika merasakan sakit, terlebih ia berpikir kalau Erlan juga menginginkan dirinya.


"Lepaskan aku, Mas Erlan!" bentak Yoona sembari mendorong tubuh suaminya. Hingga ia terjatuh dari gendongan pria itu.


"Ada apa, Sweetie?" tanya Erlan yang masih belum begitu menyadari akan semua halusinasi yang sedang ia lihat.


"Sweetie? Sadar, Mas Erlan. Dia sudah tiada! Sekarang kau bersamaku, istrimu sendiri! Bukan dia!" Yoona terus membentak sampai berteriak teras. Ia mulai mengeluarkan air matanya sembari memperbaiki pakaiannya yang masih terbuka.


Seketika Erlan mengusap wajahnya dengan cepat. Rasa sedih yang masih belum bisa ia terima setelah kenangan masa lalu kembali menghantui dirinya. Ia terlihat gelisah sampai menoleh ke belakang untuk kembali memastikan wajah istrinya.


"Astaga ... aku mengulangi hal yang sama. Mereka berbeda, tapi kenapa aku berpikir mereka sama," lirih Erlan dengan perlahan.


"Apa sebegitu berharganya dia untukmu, Mas? Sampai kau tidak bisa terlepas dari obsesi mu itu? Kau sudah dibutakan olehnya, kau tahu, itu?! Bahkan aku sampai meninggalkan pria yang sangat mencintaiku demi berkorban untuk kebahagiaanmu. Tidakkah bisa kau lihat penderitaan dariku ini?" Yoona berusaha membuat pikiran Erlan terbuka.


"Tidak. Aku tidak bisa mengakui kalau Malvin adalah mantan kekasihku. Pasti, Mas Erlan akan salah memikirkan tentang kami, terlebih mereka bekerja dalam satu kantor. Sebaiknya aku mengalihkan perhatiannya," batin Yoona.


"Jawab aku, Yoona!" Erlan kembali memaksa. "Bukankah kau mengatakan jika ada pria lain? Lalu di mana dia? Kenapa kau begitu menjijikan sekali? Bahkan meninggalkan pria lain demi membuat hidupku menderita seperti ini? Kau waras?"


"Aw! Lepaskan rambutku, Mas. A-aku hanya bercanda tentang pria itu, Mas."


"Lelucon yang buruk sekali, Yoona. Bisakah kau menggantikan wajahmu ini dengan orang lain?" tanya Erlan dengan begitu bodoh sembari ia melepaskan tangannya.


"Apa kau tidak waras, Mas?!"


"Ya, aku tidak waras karena dirimu." Erlan menjawab sembari berjalan mendekat dengan perlahan-lahan melepaskan pakaiannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Tidak, jangan mendekat, Mas. Aku mohon ... jangan." Yoona berusaha menjauh, ia berharap agar Erlan tidak menyentuhnya ketika ia tahu sentuhan itu hanya untuk menjadikannya sebagai sebuah pelampiasan.


"Bukannya kau sangat hebat membentak ku sejak tadi? Kau berkata kalau aku terobsesi, begitu? Ya, aku terobsesi dengan tubuhmu, Yoona."


Erlan seperti kesetanan, sama sekali tidak ada belas kasihan yang ia perlihatkan. Justru perbuatan kejam yang sedang ia jalankan. Sampai membuat kursi kebanggaan miliknya tumpang hanya karena Erlan ingin membawa Yoona terbaring di bawah tubuhnya.


Tanpa bisa membuat Yoona melawan, selain dengan terus-menerus menangis. Ia pun mulai pasrah saat tidak bisa berbuat apa-apa. Rasanya sekujur tubuhnya terasa sakit dan tidak bertenaga saat pria itu menyentuhnya.


Keseimbangan yang tidak bisa Yoona hindari, membuat tangannya terbentur, namun Erlan tidak peduli.


Yoona hanya bisa menahan dengan air mata yang tak dapat ia tahan. Menciptakan luka yang baru dari dalam batinnya. "Aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri, Mas."


"Aw ... hentikan, Mas Erlan. Ini perih sekali." Yoona merengek sembari mencoba mendorong tubuh Erlan, namun tenaganya tidak seimbang.


"Kau milikku, Yoona. Kau hanya akan membuatku menggila." Erlan bergumam dengan kedua mata yang sesekali terpenjam sembari ia terus menggerakkan tubuhnya lebih cepat.


"Sakit ... Mas Erlan. Kenapa kau harus menjadikan diriku imbas atas kemarahan ini, Mas? Rasa sakit dalam kenikmatan ini membuat hatiku tersiksa. Tapi, aku tidak bisa mengakuinya," batinnya.


Sebagai seorang istri sudah menjadi hak bagi Yoona untuk memberikan haknya terhadap suami, namun Yoona sendiri merasa kalau pemaksaan ini bukanlah keinginannya, tetapi seperti sebuah penghinaan. Pelampiasan batin yang Yoona dapatkan membuatnya berdiam diri dalam ketidakberdayaan.


Untuk kedua kalinya, Erlan memberikan haknya, namun dengan cara merampas. Hinaan yang ia berikan secara terang-terangan membuat hatinya terasa lega setelah melihat Yoona lemah tidak berdaya.


Bangkit dari sana, Erlan terduduk diam dengan menghisap sebatang rokok dengan pikiran yang masih tidak tenang.


"Aku heran, setiap kali Yoona berdekatan denganku, hanya ada kenangan bersama Fiona yang terlihat. Rasanya aku lelah dengan diriku sendiri. Apakah ini karena aku belum mengunjungi pemakamannya itu? Mungkin benar, tapi sebelum itu terjadi. Aku harus pergi dan mendengar langsung fakta yang sesungguhnya tentang kematian Fiona. Meskipun Jerrol telah mengatakan kebenaran, tapi aku ingin mendengarnya langsung dengan telinga ku sendiri. Mungkin ... besok waktu yang tepat, tanpa diketahui oleh siapapun," gumam Erlan sembari menatap ke arah istrinya yang sudah tertidur lelap dalam rasa sakit.


Di tengah kebingungan Erlan, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Namun, sebuah panggilan masuk yang membuat Yoona ikut terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2