Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Ruangan kantor


__ADS_3

Trauma yang sama sekali tidak bisa Yoona hindari. Perlahan ia mulai menjalankan mobilnya setelah beberapa saat memejamkan mata seraya menarik nafas supaya lebih lega.


Putaran pertama membuat Yoona senang, ketika ia merasa mulai terkendali dengan mobilnya itu. Meskipun rasa trauma yang berat, namun ketakutan harus dihadapi, dan bukan dihindari.


Erlan begitu santai memainkan ponselnya, dan berbeda dengan Yoona yang semakin mencoba menambahkan kecepatan tinggi.


Melihat tindakan Yoona yang cukup berani, membuat Erlan melirik sembari bertanya. "Katanya trauma, terus sekarang apa kecepatan di atas rata-rata? Kau ingin sekalian mengajakku ke neraka denganmu, begitu? Turunkan kecepatannya lagi, bodoh."


"Tidak mau, Mas Erlan. Bukannya sebelumnya kau yang memintaku untuk kembali mengemudi? Jadi, inilah hasilnya. Pegangan saja, Mas. Jika kita berdua tiada, maka kisah percintaan sejati akan dikenang sepanjang masa."


"Kau pikir ini sebuah lelucon?! Awas di depan!" Sembari berteriak keras, Erlan memutarkan setir mobilnya dengan sengaja demi menghindari seekor kucing yang ingin lewat, namun justru hampir menghantam jembatan besi.


"Hei, jika kau ingin mati, tidak perlu mengajak orang lain. Sekarang turunlah! Dasar tidak berguna."


"Aku sudah bilang, aku trauma, Mas. Tapi, kau semakin memaksa diriku."


"Tutup mulutmu, aku tidak ingin mendengarnya."


Kecerobohan Yoona membuat nyawanya kembali hampir melayang. Selepas kejadian itu, mereka berdua tidak saling berbicara, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tiba di sebuah perusahaan besar. Yoona menatap ke atas, rasanya sungguh tidak sanggup ia lihat.


"Tinggi sekali bangunan ini, apa ini milikmu, Mas?" tanya Yoona.


"Kau pikir milik siapa? Sudahlah jangan banyak bertanya dan masuk ke dalam."


Erlan melangkah pergi meninggalkan Yoona dalam kebingungan. Wanita itu berlari demi bisa mengimbangi langkah suaminya yang lebih dulu.


Ingin segera mengimbangi langkah Erlan bersamaan, tetapi tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu dekat. Kau bisa berjalan di belakangku saja. Ada beberapa karyawan yang masih lembur di sini, jadi jaga sikapmu, ini bukan rumahmu," pinta Erlan dengan ketusnya.


Tidak ada yang bisa Yoona katakan selain dengan menurut. Meskipun ia terlihat seperti sedang mengikuti atasan, dan bukan seorang istri. Terlihat begitu besar perbedaan dari keduanya.


"Selama ini aku hanya bertugas menjaga toko milik mamaku, dan sekarang sudah dilanjutkan oleh Tante. Tetapi, aku sungguh tidak menduga bahwa Mas Erlan terlalu memperlihatkan perbedaan di antara kami berdua. Apakah karena Kak Fiona jauh lebih unggul dalam segala hal dariku? Terlebih ia pintar dalam dunia fashion. Mungkin benar, aku hanyalah seupil benalu yang seharusnya tidak ada di dekatmu, Mas Erlan," batin Yoona yang dirinya tidak memiliki kemampuan.


Seperti dugaannya, beberapa karyawan yang sedang lembur mulai menatap ke arah Yoona. Seakan-akan menjadi bahan ledekan, terlebih dengan piyama santai yang ia kenakan.


"Mas Erlan pasti malu denganku karena diriku sangat tidak menarik," batin Yoona yang hanya berdiam diri saat Erlan mulai memasuki lift terbuka.


"Heh! Apa yang kau tunggu di sana? Ayo cepatlah masuk."


"Sepertinya kau saja, Mas. Aku lebih baik pulang. Apalagi jika kita harus naik yang lebih jauh, pasti akan semakin membuatku jadi pusat perhatian. Kau pasti malu melihatnya." Rasa percaya diri yang sama sekali tidak ada, membuat Erlan geram melihat istrinya.


Dengan cepat Erlan mensrik Yoona masuk ke dalam. Tarikan itu membuat istrinya jatuh ke dalam pangkuannya. Tatapan mata memandang, namun dengan cepat ia hentikan.


"Jangan terus merepotkan orang lain. Menurut dan berdiam diri saja."


Seketika membuat Erlan berpaling lebih cepat saat ia mendengar panggilan kesayangan dari tunangannya dulu. Terdengar begitu sama di telinga, namun Erlan tidak suka.


Mendorong Yoona sampai tidak bisa bergerak bebas ketika tubuhnya sudah dihempit oleh dinding dan juga Erlan. Kedua tangannya terangkat, Erlan sengaja melakukannya.


"Baby? Kau sungguh ingin tahu apa itu?"


"Katakan padaku, Baby. Aku menginginkannya." Dengan sengaja Yoona ingin menarik perhatian suaminya, meskipun dengan memperlihatkan karakter yang sama persis seperti saudara kembarnya.


Bukannya Erlan suka, tetapi justru semakin membencinya. Yoona berpikir jika tingkah Erlan yang berusaha mendekat, ingin menidurinya. Namun salah besar.


"Jika sekali lagi kau memanggilku seperti itu, maka nyawamu akan benar-benar lenyap. Kau mengerti? Panggilan itu hanya untuk kekasihku, bukan dirimu!"

__ADS_1


"Memangnya kenapa, Mas Erlan? Apakah aku tidak sama dengan kakakku? Bukankah wajah kami sama persis? Apa bedanya aku dan dia?"


"Bedanya kau bukanlah dia, itu bedanya. Yoona, tidak perlu menarik simpati seseorang dengan cara menjadi orang lain. Aku tahu jika kau menginginkan diriku, tapi tidak denganku. Kau ... hanya sebuah mainan yang bisa aku gunakan setiap waktu," jelas Erlan dengan kejujurannya.


"Maksudmu ... aku hanya sebuah pelampiasan hasratmu saja, Mas?"


"Apapun itu kau tidak perlu tahu. Bagiku, kita hanya akan menikah selama dua tahun. Setelah itu jangan pernah berpikir untuk bisa kembali lagi denganku, atau menjadi seperti Fiona. Karena kau Yoona, bukan Fiona."


Pintu lift pun terbuka, ingin Yoona menjawabnya, tetapi Erlan sudah lebih dulu melangkah pergi.


"Aku tahu, Mas. Diriku hanyalah sebuah permainan untukmu. Maka sebelum aku tiada, kau bisa mempermainkan diriku dengan bebas. Mungkin aku akan memilih cara lain demi bisa membayar semua kesalahanku terhadap dirimu dan kakakku. Meninggalkan dunia ini akan jauh lebih berguna untukku lakukan, Mas Erlan," gumamnya.


Hati yang sudah pasrah akan hidup dan matinya, Yoona bergerak kembali mengikuti Erlan dengan perasaan yang tenang. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu, tetapi hanyalah rasa ikhlas yang sudah ia tetapkan.


"Ini ruangan kerjamu, Mas Erlan? Bagus sekali, tapi kenapa ada kasur besar di ujung sana?" Yoona terpukau saat melihat ruangan kerja yang lebih cocok untuk ruang tamu keluarga. Namun, pikiran buruk mulai mengusik dirinya.


"Kasur itu ... apa mungkin Erlan memasuki karena ingin ... ah tidak-tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal kotor," batinnya.


"Masuk saja daripada banyak bertanya. Kasur itu aku gunakan untuk beristirahat ketika ia sedang lembur di sini."


"Oh, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas?"


"Kemarilah, dan lihat ini." Erlan mengeluarkan beberapa berkas penting yang akan ia ajarkan kepada Yoona nantinya sesuai dengan permintaan ayahnya.


"Berkas? Maksudnya apa, Mas?"


"Mulai hari ini kau harus belajar bisnis. Mulailah dari dasarnya dulu karena kau harus terlihat seperti Fiona yang asli. Sebab, Papa Agra sangat mengenal karakter Fiona terlebih ketika mereka berbicara bisnis. Jika seandainya nanti kau bekerja di sini, aku tidak perlu repot-repot lagi, dan tidak akan ada yang curiga dengan pernikahan kita," jelas Erlan.


"Lalu kenapa belajar bisnis harus malam begini, Mas? Apa kita akan bermalam juga di ruanganmu?"

__ADS_1


"Kenapa terus bertanya sejak tadi? Ayo cepat lakukan semua hal yang aku inginkan. Bukankah kau sudah berjanji? Cepat pahami semua berkas ini dulu. Aku akan menunggumu di sini."


__ADS_2