Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Jangan Lewati Batas


__ADS_3

"Loh, Alice! Kenapa kau kembali? Ini sudah begitu larut malam, Alice. Sebaiknya pulanglah, dan temuin Erlan besok pagi. Dia sudah berpesan akan mengajakmu bertemu besok di kantor," jelas Jerrol secara baik-baik.


"Aku tidak mau, Jerrol. Kau tidak boleh memaksa ataupun menahan diriku. Sekarang katakan di mana keberadaan Erlan?" Alice tetap kekeh bahkan sampai tidak memberikan Jerrol untuk masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu berdiri membelakangi pintu mobil.


Membuat Jerrol mengusap wajahnya dengan cepat. "Astaga ... wanita ini nekat sekali. Cepat minggir, Alice. Aku ingin pergi. Jangan halangi jalanku, atau jika tidak-"


"Atau apa, Jerrol? Kau ingin melukai seorang wanita, begitu? Hanya karena kau pintar bela diri, lalu ingin melukai seorang wanita? Jangan jadi pengecut. Sekarang katakan saja di mana Erlan berada. Apa masalahnya denganmu?"


"Ya, memang tidak ada masalah denganku meskipun kau akan menemuinya, Alice. Tapi, aku bisa berbuat nekat untuk menyentuh dadamu kalau kau berdiri seperti itu. Sebelum aku berubah pikiran, jadi tolong dengarkan aku. Daripada nanti Erlan yang akan mengomeli diriku semalaman."


"Apa katamu? Ingin menyentuh dadaku? Hei, dasar mesum! Begini saja, Jerrol. Sekarang hubungi Erlan sekali lagi, dan berikan ponselmu padaku. Biar aku yang akan bicara." Alice terus mendesak meskipun ia tidak takut akan ancaman kecil dari Jerrol.


"Kau ini benar-benar keras kepala. Ya sudah cepat hubungi dia segera." Jerrol memilih untuk mengalah. Ia segera memberikan ponselnya, namun ia lupa bahwa wallpaper belakang ponselnya terdapat foto Alice yang sedang tersenyum.


Seketika membuat Alice terheran saat melihat gambar dirinya di dalam ponsel pria itu. Ia terdiam sembari memperlihatkannya. "Apa ini, Jerrol? Kau diam-diam menyukaiku, benarkah?"


"Ti-tidak sama sekali, Alice. Ayolah jangan bodoh." Antar malu mengakuinya dan sudah tidak ingin mengakuinya. Dengan cepat Jerrol kembali merebut ponselnya lagi.


"Kenapa kau seperti ketakutan begitu, Jerrol? Jika memang kau tidak menyukaiku, lantas kenapa gambarku berada di layar pertama ponselmu? Hei, aku tidak sebodoh itu. Namun, jika perkiraan diriku ini benar. Maka tolong berhentilah untuk menyukaiku karena sejak dulu aku hanya menyukai seorang pria, yaitu atasanmu sendiri—Erlan."


Alice berkata jujur tanpa ada keraguan, dan ia berbicara fakta tentang hatinya. Mendengar hal itu, tidak membuat Jerrol patah hati, namun ia tersenyum kecil seperti orang yang bodoh. Ia hanya mencoba menertawai dirinya sendiri.


"Ya, kau memang benar, Alice. Harusnya memang aku tidak perlu menaruh perasaan terhadap dirimu, tapi baguslah sekarang kau sudah tahu, dan aku sudah tidak lagi menyukaimu. Jujur saja, memang aku sendiri yang ingin menggantikan kencan ini agar bisa menyatakan cintaku. Namun setelah aku tersadar, ternyata ini bukanlah cinta. Sekarang akan aku hapus gambar ini dari ponselku. Kau bebas pergi menemui Erlan, tapi tetap kau harus menghubunginya dulu," jelas Jerrol.


"Tentu, akan aku lakukan."


Melihat Alice yang sangat tergesa-gesa mengeluarkan ponselnya. Namun tindakan itu, membuat Jerrol tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Ya ampun. Bertahun-tahun aku bodoh karena rasa cinta yang telah salah aku duga. Namun sekarang aku lega, kalau aku tidak benar-benar mencintainya. Baguslah," batin Jerrol.


"Halo, Erlan. Di mana kau sekarang?"


"Alice? Ada apa malam-malam begini? Aku sedang berada di rooftop perusahaan," sahut Erlan dari balik ponselnya.


"Baiklah aku akan segera ke sana."


"Eh, tapi untuk-" Terdengar suara Erlan terhenti karena panggilan segera Alice matikan, padahal Erlan belum sempat menyelesaikan ucapannya.


Masuk ke dalam mobilnya dengan begitu terburu-buru, namun Jerrol kembali menghentikan.


"Bagaimana?"


"Tentu, dia setuju."


Erlan masih berdiri, namun ia tiba-tiba mengingat dengan keadaan istrinya. "Apa wanita bodoh itu sudah kembali belajar? Atau ia masih menangis karena tindakanku tadi?"


Tidak ada rasa panik, namun hanya ingin tahu keadaan istrinya. Erlan membuka pintu, namun ia tidak melihat keberadaan Yoona di dalam sana.


"Loh, dia pergi ke mana? Apa mungkin dia pulang sendirian?" Tapi, mustahil sekali. Yoona, di mana kamu? Yoona!"


Tidak Erlan sadari wajah ia sudah melewati istrinya yang sudah tergeletak lemah di belakang pintu. Sampai pria itu kembali membalikkan tubuhnya, baru Yoona terlihat.


"Ya ampun. Apa dia sudah tidak waras sampai harus tidur segala di lantai?" Erlan merasa bingung, namun ia tetap mendekat untuk memastikan.


"Ayo bangun ... Yoona. Kenapa kau selalu merepotkan diriku?" Menggerakkan tubuh istrinya, namun Erlan sadar jika wanita itu tidak sekedar tidur biasa.

__ADS_1


"Dia pingsan lagi. Kenapa wanita ini terlalu lemah?"


Walaupun Erlan tidak merasa cemas, namun ia juga berusaha membawa Yoona berbaring di tempat yang layak. Mencoba memberikan sedikit aroma terapi yang dapat membuat Yoona lega, hingga akhirnya wanita itu kembali terbangun.


Perlahan-lahan Yoona membuka mata, ia sangat senang melihat keberadaan Erlan di dekatnya. Segera memberikan pelukan dengan penuh kecemasan.


"Aku takut sekali, Mas Erlan. Kau darimana saja?" tanya Yoona tanpa ingin melepaskan pelukannya.


"Aku habis dari atas. Sudah lepaskan aku, Yoona. Jika kau berusaha berbohong pingsan hanya untuk membuatku peduli, maka kau salah besar. Jika sekali lagi kau lakukan itu, maka aku benar-benar tidak akan peduli," tegas Erlan saat mengetahui kalau Yoona hanya tertidur ketika rasa takut terlalu menguasai dirinya.


"Maafkan aku, Mas Erlan. Sungguh, aku tidak memiliki pilihan lain agar kau bisa bersama denganku sekarang."


"Oh ya? Bukankah kau marah padaku atas tindakan ku yang kasar tadi? Lalu sekarang apa kau juga ingin kembali menerima perlakuan kasar itu?"


Dengan cepat Yoona menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Tidak, Mas. Aku tahu kita udah suami dan istri, tapi bukan cara menyakitiku, kau memberikan hakmu untukku. Setidaknya kapan kau akan menerimaku dengan layak, Mas?“


"Cukup, Yoona. Berhentilah menentang atau berupaya untuk bisa membuatku berubah. Tentu saja aku tidak akan mencintaimu, apalagi hidup lebih lama denganmu. Maka mulai sekarang berhenti bersikap terlalu peduli. Terlebih hubungan yang layak yang kau maksudkan ini tidak akan pernah terjadi karena setelah dua tahun pernikahan ini, maka kita harus bercerai."


"Tapi, Mas Erlan-"


"Tidak, Yoona! Berapa kali harus aku ucapkan? Sekali tidak, tentu saja jangan banyak berharap dariku. Sekarang aku ingin pergi, dan kau bisa tetap di sini sampai Jerrol datang," geram Erlan yang merasa kalau Yoona sudah terlalu melewati batas perjanjian.


"Apa? Lalu bagaimana denganku, Mas Erlan? Aku tidak ingin ada di sini sendirian. Aku sangat takut."


"Berhentilah bersikap manja hanya karena kamu mencintaiku. Aku tahu dan tidak bodoh, Yoona. Kau sudah menaruh perasaan untukku, kan? Maka karena itu berhentilah melakukannya. Sebab, sampai kapanpun juga, kau tidak akan mendapatkan balasan cinta dariku. Kau mengerti?"


"Apa semua itu karena dia, Mas?! Tidak bisakah kau lupakan kakakku demi aku?!" Yoona berteriak dalam tangisan yang kembali ia keluarkan. Rasa sakit yang ia rasakan, dengan beraninya ia menentang.

__ADS_1


"Jangan melewati batasmu, Yoona!" Terdengar bentakan seorang wanita, saat pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Membuat Erlan dan Yoona saling menoleh dalam keterkejutan.


__ADS_2