
"Aku tidak baru lewat di sini, jadinya tidak sengaja melihatmu, Ernio. Memangnya kenapa malah di sini? Di luar pesta dansa akan segera di mulai," tanya Yoona yang sedikit penasaran.
"Aku sengaja ke sini karena di luar tidaklah cocok untukku, Yoona. Namun, jika kau mau menjadi teman dansa ku, maka aku akan ke luar bersamamu," sahut Ernio dengan penuh harap.
"Apa maksudmu, Ernio? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi teman dansa mu, sedangkan aku kakak ipar mu? Ya sudah jika kau tetap akan di sini, aku harus pergi menyusul Mas Erlan dulu," pamit Yoona. Namun belum sempat melangkah justru Ernio menarik tangannya sampai wanita itu terjatuh ke dalam pelukan Ernio.
Membuat keduanya saling menatap hingga tidak tersadar bahwa Emma tidak sengaja melihat kedekatan mereka. Apalagi tangan Ernio yang merangkul Yoona dengan erat mampu membuat Emma semakin curiga.
Agar orang lain dapat melihatnya, Emma langsung memanggil Papa Agra berserta Alice, namun tidak dengan Erlan yang belum kembali.
Mereka bertiga masih terus terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga Papa Agra berpura-pura batuk sampai membuat Ernio berhenti untuk merangkul Yoona.
"Kau baik-baik saja? Untungnya tidak terjatuh," ucap Ernio yang terlihat sangat perhatian.
Namun semua itu, tidak membuat Papa Agra merasa curiga dan berpikir macam-macam. Justru ia melangkah pergi tanpa berbicara apapun, namun tidak dengan Alice yang ingin sekali berjalan ke arah mereka, tetapi Emma melarangnya.
"Jangan ganggu mereka berdua, Kak Alice. Lagi pula mana mungkin Kak Ernio dan wanita itu memiliki kedekatan, bahkan Kak Erlan saja dengan terang-terangan nya menolaknya, kan? Jadi, ayo kau temui Kak Erlan dulu agar bisa berdansa bersama. Sebetulnya aku ke sini juga ingin mencari Kak Erlan," ucap Emma dengan panjang lebar.
"Ya sudah kalau begitu, kau pergilah lebih dulu."
Tatapan Alice masih begitu memandang tajam ke arah Yoona dan Ernio, namun ia memikirkan sesuatu. "Dan sekarang aku semakin yakin bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Meskipun Emma tidak bisa melihat itu, tapi mataku tidak bodoh untuk mengetahuinya. Jika begini, aku pastikan bahwa mereka harus bisa bersama."
Bergegas pergi ke luar dari acara pesta, namun Alice menghubungi seseorang, dan menunggunya di tempat yang sepi. Sampai seorang pria datang dan memberikan sebungkus kotak kecil kepadanya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, nanti aku akan mentransfer biayanya padamu," ucap Alice kepada salah seorang pria botak.
"Tidak masalah, Nona Alice. Semoga niat mu berhasil," sahut pria botak itu sebelum akhirnya pergi.
Menatap dengan penuh senyuman ke arah kotak kecil di tangannya. "Aku harus melakukan ini, walaupun sangat beresiko. Tapi, jika tidak dicoba, tidak akan mempan."
Memilih berjalan lewat pintu belakang sampai Alice menyembunyikan kotak kecil yang sedang ia bawa, lalu ia kembali ke arah Ernio, tetapi justru pria itu hanya tinggal seorang diri.
"Hai, Ernio. Kita belum sama sekali mengobrol bersama, kan?" sapa Alice dengan sengaja.
"Apa maksudmu? Jika aku tidak salah, kau ini temannya Kak Erlan, kan?"
"Ya, aku teman dekatnya, bisa dibilang begitu. Tapi, sejak tadi aku melihatmu di sini bersama dengan Yoona. Sepertinya kalian cukup dekat," ucap Alice dengan sengaja berusaha memancing.
"Um, baiklah. Tapi, aku hanya ingin sedikit mengobrol dengan dirimu, Ernio. Bisakah kita berdua pergi dari sini saja sebentar? Hanya ... sebentar, aku bisa memastikannya," ajak Alice dengan sedikit memaksa.
Ernio terdiam, tetapi ia juga merasa sedikit penasaran. Sampai akhirnya memilih menjawab dengan anggukan kecil.
"Mau mengobrol di mana?"
"Di dalam mobilku, itu tempat yang cocok selama masih ada pesta di rumah ini."
"Baiklah."
__ADS_1
Berjalan keluar dari pekarangan sampai akhirnya mereka berdua berhenti di tempat yang sepi, dan sedikit jauh dari kediaman Erlan.
Ernio melirik ke arah jam tangannya sembari bertanya. "Aku tidak memiliki banyak waktu karena pesta dansa tidak akan aku lewati begitu saja."
"Aku cukup mengerti, Ernio. Tapi, aku hanya mengambil waktumu dua menit, namun keuntungannya bisa buatmu selamanya," ucap Alice sembari menyunggingkan senyumnya.
Rasa penasaran Ernio semakin tinggi saat melihat Alice yang berusaha membuatnya kebingungan. "Keuntungan apa? Memangnya apa yang ingin kau lakukan?"
"Daripada kau bingung sebaiknya aku berkata jujur saja. Mungkin ... kau memang penasaran saat melihatku bersama Erlan bergandengan tangan, tapi percayalah bahwa kami sudah resmi menjadi kekasih. Untuk itu, kami juga pastinya akan memikirkan tentang pernikahan walaupun aku sendiri belum tahu kapan aku akan membicarakan hal ini dengan Erlan, namun kau bisa lihat sendiri bagaimana aku dengannya saling menyukai, bukan? Intinya di sini, aku pun bisa melihat dari matamu kalau kau memiliki perasaan yang berbeda untuk Yoona. Bukan sebagai kau menghormatinya seperti kakak ipar, namun seperti seorang perempuan. Apa aku berkata salah?"
Ernio terdiam, namun ia tidak bisa membantah saat orang lain mulai menyadari perasaannya. "Itu benar, dan aku memang tidak perlu berbohong padamu karena kau juga sudah jujur tentang hubungan kalian. Bahkan aku sampai menyiapkan hadiah spesial untuk Yoona, meskipun aku belum sempat memberikannya. Namun anehnya sekarang, kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu? Jangan katakan jika ingin mengajakku bekerjasama, karena meskipun aku menyukai Yoona, namun aku tetap menghormati Erlan sebagai kakakku. Dia itu panutan ku."
"Itu terserah dirimu saja, Ernio. Aku hanya ingin membuat matamu terbuka bahwa memang di sini Yoona merasa sedih, sampai-sampai dia menjadi terpuruk setelah kematian saudara kembarnya. Belum lagi saat dia harus menjalani pernikahan ini, aku pun mengerti dengan kesedihannya, tapi aku tidak bodoh seperti dia."
"Yoona tidak bodoh, dan jangan katakan itu padaku," timpal Ernio dengan cepat saat Alice berusaha membuatnya terlihat kesal.
"Lihat sendiri, kan? Bahkan saat aku berusaha mengejeknya saja sudah membuatmu kesal, lalu bagaimana dengan sifat kakakmu yang selalu sering membuat wanita itu menderita. Ernio, aku tahu kau menyayanginya, tapi apa kau juga ingin melihat kalian berdua menderita? Setidaknya, jika tidak bisa membuatnya bahagia, jauhkan Yoona dari Erlan agar bisa bahagia," pinta Alice dengan langsung berterus terang.
"Itu terlalu berbahaya, Alice. Aku tidak nekat seperti dirimu." Ernio membantah saat ia masih memiliki pikiran yang baik.
"Apapun yang kau ucapkan, pilihan hidupmu dan Yoona hanya ada di tanganmu, Ernio. Jika kau terus ingin agar Yoona menderita seperti sekarang, maka tidak apa-apa, tapi jangan lakukan apapun untuknya. Namun, jika memang kau ingin melakukannya, masih banyak kesempatan apalagi Yoona tidak sedang berbadan dua. Jadi, aku memiliki sebuah kotak kecil, tapi setelah kau membukanya nanti, kau akan mengerti dengan maksudku sendiri," jelas Alice sembari memperlihatkannya.
"Ini dia ambilah. Aku sampai memesan barang ini dengan begitu sulit, bahkan belum melunasinya. Tapi, jika kau menolak dengan saran ku, maka semuanya akan sia-sia. Terlebih sekarang pesta menjadi sebuah kesempatan yang bagus untukmu. Jadi ... pikirkan baik-baik. Kalau begitu aku harus pergi dulu," lanjut Alice sembari menepuk-nepuk pundak pria itu.
__ADS_1
Senyuman bahagia terlukis di kedua sudut bibir Alice sembari ia turun dari mobilnya, namun batinnya memikirkan sesuatu. "Semoga saja Ernio belum mengetahui kalau Yoona sudah hamil, jika tidak dia pasti akan merasa kasihan. Namun, aku harus memastikan semua ini berjalan lancar."