
Episode 124 : Ketakutan yang teramat sangat.
.
.
.
Saat Marin dan Freya keluar dari gubuk ...
Di sana Aluna melihat ada standing kamera, juga ada empat lelaki berbadan besar dan seperti berandalan melihat nya dengan tatapan mesum dan sangat menjijikkan.
"Begini lagi, dengan cara ini lagi! kenapa ada wanita yang dengan tega hendak melukai wanita yang lainnya dengan cara yang begitu keji? kenapa?"
Aluna berbicara pelan, dia menangis menundukkan kepalanya dan tangannya gemetaran juga kesakitan karena diikat begitu kuat.
"Nona muda, kami sama sekali tidak tahu jika kau secantik ini jika dilihat dari dekat, jangan salahkan kami, kami hanya melakukan ini untuk uang, juga kesenangan!" bisik salah seorang dari mereka sudah membuka bajunya.
"Aku duluan ya, nanti setelah itu giliran kalian!" seru lelaki itu hendak mendekati Aluna.
"Berhenti! jangan melangkah mendekat ke sini! jika tidak kau akan mati!" geram Aluna tidak berani melihat lelaki tanpa pakaian atas itu sudah mendekati dirinya.
Rasa trauma yang saat lalu di kamar mandi saat ia hendak diculik membuat kepalanya sangat pusing, wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang bergetar hebat.
"Ha ha ha, wanita cantik ini mencoba mengancam kita ... lucu sekali, hei, cantik, tidak akan ada yang bisa menemukan mu disini! setidaknya sampai kami puas dan meninggalkan mu disini, mungkin kau akan ditemukan oleh nelayan ..."
Bisik lelaki preman itu mendekat ke arah Aluna.
"Jangan! jangan mendekat! jangan mendekat! aku ini istri Edgar Brown, kalian akan mati jika berani menyentuh ku sedikit saja! jangan mendekat!"
"Berapa mereka membayar mu? suamiku bisa memberikan lebih banyak, jangan lakukan itu! lepaskan saja aku dan aku akan langsung menelepon suamiku!" seru Aluna sudah merasa sangat takut.
Satu-satunya senjatanya sekarang hanyalah nama suaminya, tetapi seperti dugaannya tidak ada satu orang pun yang percaya ucapan Aluna.
"Hey cantik, kami memang suka terhadap uang, tetapi sangat jarang menemukan wanita secantik dirimu, ucapan mu yang penuh kebohongan itu juga tidak akan mempan! jadi nikmati saja ya ... hari ini kita akan bersenang-senang bersama!" bisik lelaki itu sudah sangat dekat.
Tangan lelaki itu sudah menyibak rambut Aluna agar tidak menutupi wajahnya.
"Hah!"
"Hah!"
Nafas Aluna menjadi sesak dan matanya menutup dengan sangat rapat, rasanya sangat menakutkan, seperti berada di tepi jurang dengan angin yang sangat kencang dan dia bisa terjatuh begitu saja.
"Tidak ... Tidak ... Tidak!"
"JANGAN!"
Aluna menangis sejadi-jadinya, dia tidak mau dilecehkan, dia juga merasa sangat marah karena untuk kedua kalinya dia berada di posisi yang hampir mirip seperti saat lalu.
__ADS_1
"Edgar!"
"Edgar!"
"Tolong, temukan aku! aku membutuhkanmu! tolong! hanya kau ... hanya kau satu-satunya di dunia ini yang akan melindungi ku, tolong datanglah, ku mohon!"
Aluna berbicara pelan sekali seperti sedang bergumam, dia menangis sembari menutup matanya kencang.
Saat itu para bandit itu tersenyum satu sama lain, menemukan Aluna ternyata sangat amat sangat cantik.
"Kau bahkan sangat cantik saat menangis!" bisik lelaki itu hendak membuka baju Aluna.
.
.
.
Di saat yang sama,
"Tunggu aku sebentar lagi! sebentar lagi!"
Dengan wajah pucat namun memerah karena takut dan marah, Edgar mengemudi dengan kecepatan yang tidak wajar.
Dia sama sekali tidak peduli dengan nyawanya, yang ia tahu hanyalah dia harus cepat menyelematkan istrinya.
Hanya itu yang ia ketahui.
"Uhhhh! kepalaku!"
Kepala Edgar terbentur ke setir mobil nya dan sekarang kepalanya berdarah-darah.
Untung saja saat itu mobil yang dinaiki oleh Edgar adalah mobil pintar yang langsung bisa mematikan mesin secara otomatis jika penggunanya tidak bisa mengendalikan mobil secara manual.
"Brak!"
Seolah tidak mempedulikan luka yang ada di kepalanya, dan darahnya yang sudah bercucuran di wajahnya, Edgar keluar dari mobil dan mengambil ponselnya lagi.
Dia melihat titik tempat mobil para penculik itu berhenti sudah dekat darinya.
Saat Edgar keluar dari mobil dan memastikan titik itu, dia menemukan di ujung dekat pantai ada dua mobil hitam.
Di sana ada dua orang wanita yang berjalan tertawa satu sama lain memasuki salah satu mobil.
Mata Edgar langsung melebar dan jantung nya berpacu semakin kencang dan kakinya langsung berlari dengan sangat cepat ke sana.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!"
"ALUNA!"
__ADS_1
Dengan rasa takut dan khawatir yang bisa membuat gila, dia berlari secepat mungkin sampai akhirnya dia tiba di pintu gubuk.
"Jangaaan ..." terdengar suara Aluna yang berteriak jangan.
Seperti kemarahan yang langsung merasuki, mata Edgar melebar dan tangannya mengepal.
.
.
"BRAK!"
Hanya dengan satu tendangan pintu gubuk itu terbuka dan rusak.
"Huaaaaaa .... jangan! jangan! jangan!"
Aluna terlihat menangis sesenggukan, menutup matanya dengan sangat rapat, apalagi ketika penjahat itu sudah membuka satu kancing baju bagian atasnya.
Keadaan Aluna dan Tangisan Aluna barusan sudah membuat Edgar marah sampai hampir gila.
"Hei, siapa kau!" teriak Penculik itu tidak suka saat ada yang merusak pintu.
Namun saat ia melihat ke belakang, matanya melebar ketika melihat dengan jelas Edgar Brown yang berdarah-darah itu sudah ada di sana.
Artinya ucapan Aluna yang tadi adalah benar.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Edgar langsung melangkah dengan cepat ke arah Aluna yang masih menangis dan berteriak jangan.
Rasa takut Aluna seperti mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.
"Buk!"
Edgar langsung memeluk istrinya itu dan menangis untuknya.
"Ssshhhh, sayang ... sayang, aku sudah ada di sini, jangan takut lagi!" bisik Edgar mengusap rambut istrinya dengan lembut mencoba menenangkan nya.
Saat mendengar suara suaminya, mata Aluna langsung terbuka dan nafasnya yang tadi sangat berat dan sesak itu semakin terdengar jelas.
"AAAAAAA!" Aluna langsung menangis dengan kencang, dia ketakutan setengah mati, dia tidak bisa menjelaskan betapa dadanya sesak dan dia ingin mati beberapa detik lalu jika saja para penculik itu menyentuhnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Author : Update besok lagi yaaa.
Btw happy 10M semuanya, ga nyangka yang baca novel ini banyak banget wkwkwk.