
"Tidak! Tidak akan pernah lagi, Ernio!" teriak Yoona yang mulai merasa semakin tidak berdaya. Namun, ia berusaha untuk tetap menjadikan suaranya sebagai penolong.
Mengigit dengan kuat tangan Ernio yang sedang memeluknya erat, lalu ia berlari ke arah pintu sembari berusaha menendangnya. Meskipun tidak ada kunci, namun ia menggunakan tendangan keras demi bisa membuat orang lain bisa mendengarnya.
Ernio kembali bergerak, namun Yoona berusaha lari ke arah lain sembari menarik penutup jendela sampai terlepas. Menjadikan kain tersebut agar bisa menutupi tubuhnya, lalu ia berlari ke pintu belakang.
"Tolong aku! Selamatkan aku, tolong ...! Siapapun di sana bantulah aku!" teriaknya sembari berkali-kali memukul pintu dapur.
Ernio semakin mendekat, namun Yoona kembali berlari ke arah jendela dapur sembari melakukan hal yang sama. Hingga ia masuk ke dalam kamar mandi dapur dan segera mengunci dirinya.
Mencari cara agar bisa kabur dari tempat itu, namun hanya ada satu jendela kecil di atas kepalanya. Idenya tidak berhenti di tempat, ia segera naik ke atas toilet demi bisa menjangkau jendela tersebut. Tangannya sampai terluka saat membuka kunci jendela kamar mandi yang mulai berkarat, hingga akhirnya terbuka.
Berbeda dengan Ernio yang terus berusaha keras mendobrak pintu sampai ia merasa kewalahan. Namun dengan cepat, ia menggunakan kursi meja makan, hingga pintunya terbuka.
Tidak ada siapapun di dalam sana, namun Ernio menyakini jika Yoona telah kabur dari jendela itu.
"Sial! Aku bahkan tidak berniat untuk menyekap mu di sini, Yoona. Namun hanya satu kali lagi, aku meminta dirimu, tapi kau justru tidak percaya padaku. Padahal setelah itu, aku pun akan berjanji untuk membawamu pulang," kesal Ernio yang hanya bisa terdiam di depan pintu kamar mandi.
Ia membuka pintu depan, dan berniat untuk bisa mencari Yoona. Terlebih ia merasa takut jika wanita itu tersesat. Beruntungnya Yoona masih mencoba naik ke atas pagar besi yang tinggi, dan Ernio berhasil mencegahnya.
__ADS_1
"Ayo turun sebelum aku memaksa menarik kakimu, Yoona. Kau bisa terluka nanti," pinta Ernio dengan baik-baik. Meskipun ia bisa menjangkaunya, namun ia memilih untuk tenang.
"Tidak mau! Lebih baik aku terluka daripada harus tidur denganmu lagi. Ernio, sudah cukup buat aku trauma dengan dirimu dulu," bantah Yoona sembari ia berusaha agar bisa terus memanjat.
"Astaga ... kau keras kepala sekali," gumam Ernio yang merasa tidak sabar.
Dengan cepat ia menarik sebelah kaki Yoona sampai terjatuh ke bawah dengan sedikit pegangan darinya. Terlihat darah mengalir dari kedua lutut Yoona.
"Kau lihat, kan? Aku juga bilang apa? Sekarang lututmu berdarah, ayo cepat kita masuk dan obati kakimu dulu."
Berusaha menepis pertolongan Ernio semakin ia mencoba bangkit untuk berdiri. Namun sayangnya, Yoona tidak bisa mengimbangi tubuhnya yang masih terluka.
Dengan cepat Ernio membantu dan merangkul tubuhnya dengan mesra. "Jangan terlalu keras kepala, aku tidak akan menyakitimu jika kau tetap tenang. Yoona, aku berjanji akan membawamu pulang setelah mengobati lukamu ini. Jika tidak, efeknya yang bahaya dan bisa saja infeksi sebelum diperban."
"Lagi-lagi, ya sudah aku akan menggendong mu." Ernio segera membawa Yoona secara terpaksa dengan membopong tubuhnya.
Melihat sikap baik Ernio saat pria itu berusia mengobati kedua lutut Yoona yang sedang berdarah. Rasa takut Yoona perlahan menghilang.
"Kenapa kau harus memaksaku hanya karena ingin melindungi ku dari Mas Erlan, Ernio?" tanya Yoona dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengarnya, membuat Ernio tersenyum kecil saat ia mulai menyadari jika wanita itu sudah lebih tenang di dekatnya. "Bukankah kau sendiri tahu jika Kak Erlan memiliki kekasih? Lantas, kenapa kau harus bertanya saat aku ingin menolong mu?"
"Aku tahu kalau Mas Erlan sudah begitu berkhianat dan selalu saja menjadikan aku sebagai pelampiasan hasratnya sendiri, tapi meskipun begitu, dia tetap suamiku, Ernio. Lagi pula aku pun sudah lelah dengan sifatnya yang sama sekali tidak bisa menghargai keberadaan ku. Bahkan setelah pesta berakhir, aku pikir akan pergi darinya, namun aku tidak tahu jika takdir membawaku pergi denganmu. Harusnya kau tidak perlu sampai harus menjamah tubuhku dulu."
"Maaf kalau aku sudah begitu buruk denganmu, Yoona. Namun aku berpikir, jika cara ini satu-satunya yang tepat agar aku bisa melindungi serta membawamu lepas dari Kak Erlan. Jujur saja, Alice bahkan ingin aku menyekap mu seumur hidupmu sampai mereka bisa menikah, tapi aku menolak kesempatan ini karena aku merasa kau berhak pulang setelah ini, dan tentukan keputusan mu sendiri," sahut Ernio dengan perlahan sembari terus membalut luka.
Keduanya mulai terlihat akrab, meskipun awalnya banyak pertengkaran dan saling menyakiti. Namun, Yoona sadari jika Ernio sangat mencintainya, meskipun cinta bisa membuat seseorang gila hingga memaksa demi kemenangannya sendiri.
"Caramu salah, Ernio. Lalu sekarang aku pun merasa seperti sedang berselingkuh dari Mas Erlan," lirih Yoona dengan keluhannya sembari menundukkan wajahnya.
Rasa bersalah yang besar terlihat di wajah Yoona, namun hal itu tidak membuat Ernio merasa bersalah, justru pria itu kembali tersenyum manis.
Mengangkat dagu Yoona dengan mata yang terus menatapnya, sembari Ernio berkata. "Walaupun begitu, setidaknya Kak Erlan dan dirimu sama-sama sudah saling mengakui, bukan? Meskipun secara tidak langsung kau sudah berselingkuh darinya denganku, dan Kak Erlan yang secara terang-terangan berkhianat darimu. Yoona, keputusan ada di tanganmu, tapi aku hanya ingin kau memilih cara yang tepat. Meskipun nanti kau bisa memilih Mas Erlan, tapi aku akan rela kau dengan kakakku jika Alice tidak berada di tengah-tengah mereka."
"Kau ... sangat ingin aku bahagia, Ernio?"
"Ya, tentu saja. Aku hanya ingin kau bahagia, Yoona. Aku tahu jika ini salah, tapi lebih buruk lagi kalau kau berusaha terus bersabar dan melihat keberadaan Alice menjadi perusak rumah tanggamu. Yoona, aku paham kalau perselingkuhan tidak dibenarkan, apalagi sampai merebut istri dari kakakku sendiri. Namun mau bagaimana lagi? Sedangkan aku tidak rela, hanya kau yang menderita atas sikap buruk Kak Erlan," jelas Ernio yang mulai membuat Yoona terdiam.
Meskipun awalnya Yoona marah, namun ia tahu jika Ernio melakukan hal buruk demi dirinya, walaupun dengan cara yang salah. Sedangkan Erlan melakukan hal baik hanya demi terlihat bahagia di depan keluarganya.
__ADS_1
"Apa yang seharusnya aku pilih? Tidak akan mungkin aku bisa memilih Ernio menjadi pelampiasan untukku, tapi juga hatiku sudah tidak rela untuk bertahan kalau Mas Erlan selalu saja menjadikan aku sebagai benalu dalam hidupnya. Bahkan saat ini, aku merasa sulit untuk kembali melanjutkan hidupku, terlebih jika keluargaku tahu kalau aku telah keguguran karena berhubungan dengan Ernio. Rasanya terlalu sulit bagiku untuk memilih," batin Yoona.
Lamunan Yoona buyar saat Ernio tiba-tiba mengecup bibir manisnya. "Kau ingin terus menciummu sepanjang waktu? Jika tidak, maka jangan melamun, Yoona."