
"Oh, jadi sekarang kau sudah pintar bicara, begitu? Kesalahanmu sendiri saja tidak terlihat, lalu bagaimana kau mau melihat kesalahan orang lain juga, Yoona? Terserah apa katamu, tapi aku rasa anak yang sedang kau kandung bukanlah darah dagingku," ucap Erlan dengan cepat tanpa merasa kasihan meskipun istrinya masih menangis.
Semakin tidak bisa Yoona pahami saat Erlan mulai menuduhnya dengan hal yang lain, dan ini jauh lebih buruk daripada yang pernah ia pikirkan.
"Jadi sekarang, kau berpikir anak sudah berselingkuh darimu, begitu? Mas Erlan, entah apa kekurangan dariku, tapi kenapa kau harus selalu berusaha untuk bersikap buruk dan terus menuduhku. Awalnya kau sudah membaik, tapi belum genap seminggu kita sudah kembali bertengkar. Apalagi yang harus kau tuduhkan untukku?"
"Jangan berbelit-belit, Yoona. Berikan saja buktinya tentang siapa yang sudah menghamili dirimu. Aku takut jika itu bukan diriku, maka bisa saja Malvin. Apalagi kalian sudah bermalam bersama dengan Malvin di hutan saat itu, kan? Dan bisa saja hubungan kalian masih tetap berlanjut sampai sekarang. Bahkan Malvin dengan beraninya menjemputmu sendiri di rumahku. Kau bahkan tidak memikirkan dengan reputasi yang akan orang lain pikirkan untukku," tuduh Erlan dengan terus-menerus.
"Hentikan, Mas Erlan! Kau yang berselingkuh, tapi aku yang kau tuduhkan. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Malvin, selain dengan sekedar teman. Kami sudah lama berpisah, dan aku sama sekali tidak berbohong," bentak Yoona.
"Aku akan berhenti sampai kau bisa memperlihatkan buktinya padaku, Yoona. Lakukan tes DNA untuk bayi ini, dan aku tidak mau tahu apapun karena bagaimanapun juga kau tidak berhak memutuskan tentang hidupku, setelah apa yang sudah kau lakukan terhadap mendiang tunanganku—Fiona. Setelah pesta selesai, aku ingin kebenaran tentang kandunganmu, camkan itu!" perintah Erlan dengan tegas. Lalu ia pergi tanpa lagi menoleh.
Lutut Yoona terasa lemas dalam sekejap, ia terduduk dengan rasa tidak percaya. "Bahkan Mas Erlan sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan dariku dulu. Tapi, kenapa tiba-tiba dia bisa bersikap seperti ini? Padahal, sebelumnya ia sudah bisa menerima diriku. Apa mungkin ... Alice?"
Kecurigaan Yoona membuatnya bergerak setelah menghapus air matanya dengan cepat. "Aku tidak boleh lemah, tidak akan. Aku harus bisa melewati semua ini."
Berjalan lebih cepat, dan mencari keberadaan dari Alice. Terlihat wanita itu sedang berbicara dengan pengatur dekorasi. Dengan sangat buru-buru Yoona menarik tangan Alice untuk mengajaknya bicara.
"Ikut denganku ke belakang."
"Hei! Apa ini?" Alice sedikit terheran. "Mau apa kau?"
"Apa kau yang sudah mencuci otak Mas Erlan? Sampai-sampai dia menuduhku kehamilanku ini, iya kan? Katakan saja dengan jujur, Alice," tanya Yoona tanpa rasa takut.
Bukannya merasa ketakutan, tetapi Alice tersenyum kecil sembari berucap. "Wah ... ternyata kau cukup pintar bermain tebak-tebakan, Yoona, dan tebakan mu memang benar sekali. Akulah yang sudah mempengaruhi pikiran Erlan supaya bisa meninggalkan dirimu, dan bayimu ini tiada. Menyenangkan sekali, bukan?"
"Kau pikir ini semua lucu? Alice, aku akan memberitahu Mas Erlan kalau kaulah penyebab dari kekacauan kami."
__ADS_1
"Silahkan saja katakan sepuasnya, Yoona. Erlan sekarang berada di teras rumah, jadi tunggu apalagi bicaralah dengannya. Tapi, jangan salahkan diriku kalau seandainya nanti Erlan justru akan mengusir dirimu dari sini, bukan hanya menuduhmu saja. Lucu sekali, bukan?" Alice semakin terlihat senang dan berusaha untuk terus bermain-main.
Membuat Yoona terdiam ketika sudah tidak tahu lagi cara untuk harus membuat Alice takut, tetapi ia yakin bahwa Alice pasti tidak akan menyerah begitu saja.
"Jika tidak ada kepentingan lagi, tolong jangan ganggu hidupku dan suamimu karena sebentar lagi posisimu akan tergantikan, Yoona." Alice tersenyum dengan sangat puas sampai membuat Yoona mengepalkan tangannya. Lalu melangkah pergi.
"Itu bagimu, tapi bagiku, kaulah yang akan dicampakkan dari sini, Alice," batin Yoona sampai tatapan tajam membuatnya terus menatap.
Pelaksanaan untuk pesta hampir selesai sepenuhnya, dan hanya tinggal satu persen untuk menghias lampu-lampu beserta membawa minuman anggur lebih banyak. Yoona ikut berdiri menatap rumahnya yang sudah disulap menjadi pesta yang keren, tetapi tiba-tiba saja sebuah ponsel berdering di sampingnya.
"Ponsel siapa itu?" tanya Yoona yang ikut penasaran hingga melihat siapa yang sedang menghubunginya. "Ernio? Itu artinya ponsel Emma. Apa sebaiknya aku jawab saja? Daripada terus berdering seperti ini."
Ingin menjawab, tetapi tiba-tiba Emma datang dan langsung merebut ponselnya. "Ini milikku, Kak Yoona. Sekalipun berdering dan menggangu telingamu, tetap tidak perlu mengambil milikku."
"Tentu saja, aku tidak akan mengambilnya."
Tidak terdengar jelas pembicaraan Ernio dan Emma, namun Yoona tidak peduli. Ingin segera beranjak pergi, namun Emma juga menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu, Kak Yoona," tahan Emma.
"Ya, ada apa?"
"Apa sekarang kau sibuk? Jika tidak, aku ingin meminta tolong padamu."
"Tidak. Aku tidak ada kerja apapun."
"Baguslah kalau begitu. Tolong jemput kakakku di bandara, dia sedang menunggu jemputan karena mobil pribadinya ada di rumah papa. Aku masih harus mengundang teman-teman pestaku datang, jadi kau bisa kan, Kak?"
__ADS_1
Rasanya ingin menolak, tetapi sejak tadi Yoona sadar jika ia tidak terlalu banyak membantu. "Baiklah, aku akan menjemputnya."
"Ini fotonya, agar kau bisa mengenalinya. Nanti supir kita yang akan mengantarmu. Tidak perlu memberitahukan Kak Erlan atau Papa, biarkan ini menjadi sebuah kejutan. Apalagi Kak Ernio berjanji kalau dia akan pulang besok, tapi ternyata hari ini. Aku harap kau bisa membantuku dengan baik," pinta Emma.
"Ya, aku akan melakukannya," sahut Yoona seraya mengambil selembar foto Ernio. Terlihat ketakutan dari wajah Yoona saat melihat gambar pria itu, namun ia tidak bisa melakukan banyak hal untuk harus menolak.
"Semoga saja Ernio tidak mengenaliku lagi," gumamnya.
Menurut dengan perkataan Emma, dan Yoona pergi tanpa diketahui oleh orang lain. Ia bergegas sendirian, namun Malvin tidak sengaja melihat ke arah kaca mobil yang sedang lewat di depan rumahnya saat dirinya sedang memberikan makanan burung kesayangan.
"Itu kan Yoona. Mau ke mana dia buru-buru sekali?"
Rasa penasaran yang tinggi membuat Malvin segera mengikuti mobil yang Yoona tumpangi.
Terlihat arah ke bandara, dan sedikit membuat Malvin merasa cemas. "Tidak akan mungkin Yoona ingin meninggalkan kota ini, tapi kalau tidak kenapa dia sangat buru-buru sekali ke bandara?"
Yoona berjalan melewati orang-orang yang sedang menunggu jemputan, ia berusaha melihat satu per satu. Namun sayangnya, Ernio sama sekali tidak terlihat, hingga seorang pria tiba-tiba saja merangkul tubuhnya dari belakang.
"Yoona! Kau datang untukku?" tanya seorang pria dengan sapaan yang membuat Yoona merasa ketakutan.
"Siapa kau? Lepaskan aku!" Yoona mendorong hingga terlihat wajah seorang pria yang sejak tadi sedang ia cari. "Ernio? Apa kau sudah tidak waras dengan tiba-tiba memelukku seperti itu?"
"Yoona, kau bahkan sudah tahu namaku yang lain. Jadi, kau pun masih sangat mengenaliku. Terima kasih karena kau sudah hadir untukku, dan datang menjemput ku di sini. Tapi, bagaimana mungkin kau bisa tahu kalau aku akan pulang? Apa sejak kepergianku, kau merasa rindu?" Ernio terus bertanya dengan sangat percaya diri. Hingga membuat Yoona mengusap keningnya yang mulai terasa lelah.
"Entah mimpi buruk apa yang sudah aku lalui sampai harus bertemu kembali dengan pria gila ini lagi," batinnya.
"Jangan senang dulu dan janga berpikir terlalu jauh. Aku datang ke sini memang untuk membawamu pulang, tapi bukan atas kehendak dariku, melainkan orang lain. Sekarang ikut denganku, kita akan pulang," ajak Yoona tanpa banyak basa-basi, dan sekaligus tidak ingin terlalu lama dengan pria itu.
__ADS_1
"Lalu sekarang kau ingin mengajakku pulang bersamamu juga? Yoona, apa kau menungguku untuk kita menikah?"