
Meski tidak tahu akan hasil pencariannya, Zean tidak berhenti. Takdir telah membawa mereka ke sebuah jembatan yang diyakini sebagai lokasi terakhir ponsel Syila aktif.
Sudah menjelang sore, Sean juga turut mencari keberadaan ketiga orang itu secara langsung. Keduanya saling menatap usai menyaksikan betapa derasnya arus sungai di bawah sana.
"Tidak mungkin jika Syila ada di bawah sana, 'kan? At-atau mungkin saja?"
Dia ragu, tapi bisa jadi demikian. Zean menunduk, memerhatikan pinggiran sungai sejauh matanya memandang, berharap sekali jika istrinya akan melambaikan tangan di sana.
"Aku rasa tidak, Zean ... Nathan punya kelemahan, dia tidak bisa menyiksa wanita."
"Menurutmu, Sean!! Kalau dia mengingatku bagaimana? Syila istriku, dan dia marah besar padaku, 'kan?"
Sean menghela napas panjang, dia juga tidak berharap begitu. Tapi percayalah, saat ini pikirannya tertuju pada dua orang yang dia kenal dan bisa dipastikan lebih mengenaskan daripada Syila.
Jika hanya soal Syila, kemungkinan besar tidak akan lama. Terlebih lagi, Nathan yang melarikan diri dan jelas pihak berwajib memang mencarinya.
Zean memejamkan mata, bagaiamana jika dugaannya benar. Bukan masalah nasib dia kedepan yang terpikirkan, melainkan bayangan Syila yang tenggelam dan meminta bantuan di bawah sana hingga berakhir kaku tak berdaya, itu saja.
Selang beberapa lama, seseorang menghubunginya dengan nomor baru yang bisa Zean tebak siapa orangnya. Pria itu mendengar dengan seksama tanpa bicara lebih dulu.
Bagaimana? Sudah menyerah?
"Katakan dimana istriku, keparrat."
Zean mengeraskan rahang seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gelak tawa Nathan terlalu menjijikkan di telinganya, terlebih lagi ketika Zean membentaknya.
Istri? Ah wanita ini istrimu? Dugaanku tidak salah ternyata ... cantik sekali, penurut dan dia tidak berisik ... aku suka.
"Nathan jangan macam-macam!! Berani kau sentuh istriku maka_"
__ADS_1
Maka apa? Berani mengancamku sekarang, Zean? Hahaha apa karena ada tukang pukul di dalam hidupmu itu?
"Jangan banyak bicara, laknat!! Apa maumu sebenarnya?!!"
Kesabaran Zean benar-benar menipis menghadapi pria ini. Nathan seakan sengaja membuat pria itu sakit tenggorokan.
Jika ingin istrimu kembali, maka kembalikan semua harta atas nama papaku dan perbaiki nama Nathalia yang sudah kau cemarkan ... bagaimana? Mudah bukan?"
Tawaran itu memang mudah saja Zean kabulkan, jika hanya itu maka butuh banyak pertimbangan bagi Zean sekalipun Mikhail menolaknya nanti. Akan tetapi, untuk membuat Nathalia kembali seperti dulu, jelas akan mustahil bagi Zean.
Temui aku nanti malam, Sendiri ... aku ingatkan sekali lagi, datang sendiri, Zean. Selesaikan masalah ini secara jantan dan aku akan menyerahkan diri kepada polisi nantinya jika kau menuruti kemauanku.
Zean menatap saudaranya sekilas, Sean tampak mengerutkan dahi. Tanpa Sean ketahui apa yang mereka bicarakan, Zean tiba-tiba mengiyakan tawaran itu. "Apapun, asal jangan sakiti istriku."
Kita lihat saja nanti, asal kau menuruti semua ucapanku.
Kebetulan, dia sedang di hadapanku ... bicaralah, suamimu yang meminta.
Zean dengan sabar menunggu suara istrinya, hatinya berdegub tak karuan. Dia hanya ingin memastikan apa suara istrinya masih baik-baik saja, cukup lama Zean menunggu hingga pada akhirnya dia sedikit lebih lega mendengar suara lembut Syila.
Jangan datang sendirian, Zean ... kalau perlu datang bersama aparat kepolisian untuk meringkusnya.
Suara Syila terdengar sedikit bergetar, dia terdengar ketakutan dan terdengar sedikit berbisik. Semakin kacau hati Zean ketika mendengar ucapan sang istri, bahkan saat ini dadanya seakan sesak lantaran kemarahan menghujam jiwanya.
Kau sudah dengar bukan? Istrimu baik-baik saja, Zean ... jangan dengarkan ucapannya jika ingin anak dalam kandungannya itu selamat.
Nathan memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, Zean yang mendengar ancaman di akhir semakin frustrasi hingga menarik rambutnya kuat-kuat. "Apa katanya?"
"Dia memintaku untuk datang sendiri nanti malam," jawab Zean menghela napas lega, baginya begini lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya.
__ADS_1
"Jangan, Zean ... dia bukan tandinganmu."
"Tidak masalah, dia hanya meminta harta Halim kembali padanya ... selama istriku baik-baik saja, aku tidak masalah, Sean."
"Dia Nathan, otaknya lebih picik dari Nathalia dan lebih jahat dari Halim ... belajar dari pengalaman, aku saja hampir mati, bagaimana denganmu yang punya kemampuan pas-pasan begini." Bukan maksud merendahkan, tapi memang begitu kenyataannya.
.
.
Sementara di sisi lain, seperti yang Sean katakan kelemahan Nathan adalah wanita. Meski Syila terus menangis akibat takut melihat Nathan yang terus mengasah senjata tajam di sana, sama sekali pria itu tidak mengusiknya.
Walau Syila sempat khawatir pria itu akan menyakitinya usai meminta Zean membawa serta aparat kepolisian, nyatanya tidak. Nathan mendekat dengan membawakan makanan untuknya. Sama sekali tidak ada tampang penjahat dari pria ini, tindakannya seakan tidak dapat dipercayai sama sekali.
"Makan, kau butuh tenaga ... bayimu butuh nutrisi dan suamimu pasti ingin istrinya baik-baik saja."
"Aku ingin makan sendiri, tidak perlu disuapi."
Ingin sekali dia menolak, tapi percayalah perutnya tidak dapat berbohong bahkan mulai terasa perih. Akan tetapi, saat ini Nathan mengikat tangannya di belakang hingga Syila tidak bisa bergerak bebas.
Hanya sekali Syila menolak, Nathan benar-benar melepas ikatannya. Pria itu memantaunya dari jarak yang begitu dekat, sebenarnya Syila takut sekali diracun, tapi bagaimana perutnya benar-benar lapar saat ini.
Nathan memandangnya tanpa berkedip, Syila sama sekali tidak menyadari dalamnya tatapan Nathan. Hingga, pria itu tersenyum tipis kala sepotong pikiran jahat merasuk dalam pikirannya. "Tidak, Nat ... sadarkan otakmu!! Tujuanmu bukan itu."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1