
Tiba di kamar Zean membanting pintu dengan sedikit kekuatannya. Ucapan Ameera benar-benar membuatnya tersinggung. Aneh tapi nyata, yang seharusnya marah saat ini adalah Syila, tapi malah berbanding terbalik.
Pria itu masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Syila yang kini terdiam membisu usai dibuat bingung dengan tingkahnya. Wanita itu kembali naik ke tempat tidur, matanya benar-benar berat dan ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong.
Matanya terpejam, tapi masih sangat sadar dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Pintu kamar mandi yang kini terbuka, Zean yang mematikan lampu dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya juga bisa Syila rasakan.
Beberapa menit berlalu, Zean mengecupnya dalam diam. Setelah pertemuan Zean tadi sore di balkon kamar bersama Sean, istrinya lebih banyak diam. Dirayu enggan, dicium juga menolak dan jujur saja hal itu sedikit menyiksa untuk seorang Zean.
"Maafkan aku, Syila ... tidak seharusnya aku membuat hidupmu semakin kacau begini."
Selingkuhan, sebercanda itu ketulusan Zean di mata banyak orang. Meski dia tahu adiknya mungkin saja bercada, entah kenapa hati Zean terhenyak mendengarnya.
Akhir-akhir ini Zean sedikit sensitif, hal sekecil apapun bisa membuatnya tertekan bahkan marah besar. Malam ini, dia butuh ketenangan dengan memandangi wajah cantik sang istri di bawah temaram lampu tidur.
Pelan-pelan dia menyingkirkan bantal guling yang tadinya Syila jadikan pembatas. Senyumnya mengembang kala berhasil mengikis jarak, dua jam Syila siksa dengan guling di antara mereka pria itu bahkan sakit kepala.
Sudah selarut ini, Zean sama sekali tidak bisa tidur. Sudah dia coba dengan memeluk istrinya, tapi ada sesuatu yang tidak berhasil dia gapai juga. Zean mengusap wajahnya kasar, pria itu bangun dan kini duduk di sisi Syila.
Tubuhnya panas, sama sekali tidak nyaman hingga Zean memutuskan untuk melepas baju tidurnya. Meski sudah begitu, Zean tidak merasakan bedanya. Hingga, nalurinya berkata lain ketika menatap sang istri yang tampak lelah dalam balutan selimut tebal.
__ADS_1
Zean berpikir sejenak, dia mengingat sesatu seraya menghitung dengan jemarinya. "Tujuh? Sudah satu minggu, tapi kenapa dia biasa saja?"
Kesalnya bukan main, sudah selama itu tapi hanya dia yang menyimpan kerinduan. Tanpa pikir panjang, pria itu menyibak selimut yang membalut tubuh sang istri. Dia akan mengulangi kesalahannya di masa lalu, dia tidak pandai merayu ataupun merengek demi mendapatkan apa yang dia mau.
Tidak ada reaksi dari sang istri, semua tampak aman saja. Zean yang berpikir istrinya terlalu mengantuk jelas saja menganggap hal ini sebagai pertanda baik. Khawatir istrinya sadar lebih dulu, Zean bahkan menahan napas ketika melucuti celana Syila.
Sial, kenapa harus dia mencuri seperti ini. Menuntaskan kerinduan dengan berperang melawan rasa takut sebesar ini, jantungnya berdetak lebih cepat. Zean memang suka dengan tatangan, termasuk menaklukan istri semacam ini.
Beberapa bulan lalu, Syila marah besar akibat Zean melakukannya tanpa aba-aba dan begitu tergesa. maka untuk kali ini, dia akan mencoba pelan tanpa memaksa.
Meski istrinya masih begitu pulas, Zean tetap mengecup pelan bibir dan leher jenjangnya. Sudah dia tahan agar tidak begitu berlebihan, tapi tetap saja tanda kepemilikan justru membekas di sana.
Terlalu banyak yang Syila jalani tadi siang membuatnya teramat lelah, bahkan tidak sadar ketika Zean jamah. Meski sedikit aneh, tapi pria itu sama sekali tidak peduli karena dia tidak akan bisa membendung kerinduan lebih lama lagi.
Sempat tidak percaya, tapi begitulah faktanya. Zean melakukannya begitu perlahan demi membuat istrinya tidak terbangun. Percintaan sepihak, tapi tetap Zean lakukan penuh perasaan.
Istrinya terlalu candu, bahkan dengan dia yang terdiam dan pasrah persis patung begini Zean tetap terbuai dan terbang melayang. Tanpa rintihan ataupun kuku tajam yang biasa mencengkam punggungnya, Zean tidak merasakan hal berbeda dan tubuhnya memang tidak bisa diajak kompromi jika sudah tentang syila.
"Tetaplah tertidur, Sayang ... tunggu aku selesai jika ingin bangun," racau Zean di sela-sela kegiatannya.
__ADS_1
Beberapa waktu dia mencari kepuasan sendiri di atas tubuh sang istri, hingga mencapai puncak kenikmatan yang membuat tubuh Zean menegang. Yah, dia berhasil melepaskan kerinduan yang sejak kemarin membendung dan membuat kepalanya semakin terasa sakit.
Napas Zean terengah-engah, dia berpikir untuk segera menutup mata di sisi Syila setelah ini. Akan tetapi, dia tidak ingin bunuh diri dan istrinya marah besar besok pagi kala menyadari celanya Zean lucuti.
Terpaksa, meski dia sedikit lemas tak bertenaga Zean mencari tisue untuk membersihkan milik sang istri akibat ulahnya. Persis menjaga bayi sebenarnya, Zean kembali memakaikan celana panjang Syila dan menarik selimut seperti semula.
"Good night, Honey."
Zean terkekeh sebelum kemudian tertidur dengan memeluknya begitu erat, seakan takut Syila lepas darinya. Tidak butuh waktu lama, Zean mendengkur halus saat ini.
"Dasar pembohong, bisa-bisanya dia ingkar janji ... aaww perih."
.
.
- To Be Continue -
Hai, kemarin aku lihat komen ada yang kangen manisnya mereka ... nih kita ngemil gula dulu untuk hari ini ❤
__ADS_1
Ramein komentarnya ya, Bestie.
Note : Dilarang komen "Kurang hot, Thor." Zean bukan pemanggangan 😎