Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 91 - Wasiat Mikhail


__ADS_3

Menjadi istri sekaligus putri yang berbakti adalah impian sederhana seorang Ayana Nasyila. Dia berusaha bersikap seadil-adilnya, Zulia juga tampak mengerti jika waktu Syila harus terbagi. Lagipula, sejak dahulu Zulia sudah mengutamakan Zean.


Satu minggu dia menjalani semua ini dengan ikhlas, beberapa kali Zia berkunjung ke rumah Zean. Tidak sendirian, tentu saja sekeluarga besar, termasuk Zavia dan juga Azkara yang meramaikan tempat ini.


Jangan tanya bagaimana perasaan Zean, membayangkan hari minggunya kacau saja dia lelah. Seperti hari ini contohnya, Mikhail memeriksa setiap sudut rumahnya, seakan meragukan pilihan Yudha. Sudah empat kali Zean mendengar Mikhail protes dengan berbagai kekurangan di rumah ini.


"Kolamnya kecil sekali ... Papa tidak suka."


Tidak ada yang bertanya, Zean menghela napas panjang seraya terus memijat pundak Mikhail. Sudah lama Mikhail tidak meminta putranya melakukan hal semacam ini, terakhir setelah mereka kelas tiga SMP.


"Ckck Zean, apa kau tidak punya cita-cita punya keluarga besar nanti? Kecil sekali."


"Kecil dari mana, Pa? Aku rasa sekalipun Zean punya anak empat tetap luas ... rumah tidak perlu besar-besar, yang terpenting nyaman."


Sean yang sejak tadi memijat kakinya turut bicara, bukan hanya telinga Zean yang panas, tapi dia juga. Sama sekali tidak ada yang membuat Mikhail berpuas hati, sejak tadi selalu saja ada yang salah. Bahkan, patung di depan rumah dia komentari lantaran hidungnya terlalu mancung.


"Ck, papa bicara karena sudah pernah merasakannya ... jika kalian membangun rumah di lahan yang luas, maka anak-anak kalian tidak perlu beli tanah lagi ke orang lain."


Sebenarnya yang dia ucapkan sangatlah baik, hanya saja sedikit bertentangan dengan mereka berdua. Sejak menikah, Zean memang terbiasa hidup mandiri. Begitupun dengan Sean, yang memang terpaksa mandiri sejak dulu.


"Tapi beli ke Papa, 'kan?" sarkas Zean sembari tertawa sumbang.


Nasib sial justru menimpa Mikhayla yang kala itu dia paksa menjadi tetangga Mikhail. Beralaskan keamanan, Mikhail menjual tanah kepada Keyvan Wilantara.


"Papa tidak menjualnya, tapi Evan yang kasih Papa uang."

__ADS_1


"Sama saja, Papa tetap terima uangnya, 'kan?" tukas Sean tanpa sedikitpun rasa takut sembari terus memijat kakinya.


"Namanya rezeki ya terima ... lagipula uangnya buat kalian, motor kalian berdua, tabungan Lengkara dan Ameera, jatah buat Mama dan masih banyak lagi."


Sejak dahulu, Mikhail memang terkenal pelit dan perhitungan. Dia juga selalu mengatakan tidak punya kekayaan, itu semua fakta karena seluruh harta Mikhail atas nama Valenzia Arthaneda, sang istri tercinta.


"Ah, iya juga."


Zean menggangguk pelan dan kembali mengingat masa itu. Jika sedang begini, Zean sangat memahami betapa besar kasih sayang Mikhail terhadap istri dan anaknya. Sikap Mikhail itulah yang membuat Zean menurut dan tidak menolak permintaan Mikhail dengan harapan sang papa akan bahagia.


"Ah, bahagia sekali Papa saat ini, Sean kembali, Zean dibahagiakan istri ... andai dulu Papa tidak egois, mungkin cucu papa sudah enam ya."


Baru saja hendak terharu, Zean mendadak tersedah ludah. Tampaknya prinsip Mikhail masih sama, jarak anak hanya dua tahun dan dia menghitung harus kembar hingga bisa sebanyak itu.


"Bukan begitu, maksud Papa jika dulu tidak egois kemungkinan besar kalian berdua sudah sama-sama menikah dan memiliki tiga anak, anak pertama laki-laki dan anak kedua kembar."


Baru saja dia mengatakan andai tidak egois, akan tetapi dia juga sudah berandai tentang jumlah anak kedua putranya. Menurut Sean itu sama saja, tidak ada bedanya.


"Apa semua orang harus punya anak, Pa? Bukankah mereka merepotkan?"


"No, sean ... kamu salah besar, anak itu anugerah, mereka tidak merepotkan. Kalau kata guru bahasa inggris papa dahulu, banyak anak banyak rezeki."


Hidup Mikhail tampaknya sejak dahulu memang sudah berbeda, jika seseorang akan mendapatkan pesan semacam itu dari guru Agama atau lainnya, dia justru dari guru bahasa Inggris.


"Wuih, guru bahasa inggris Papa anaknya banyak juga dong," terka Zean asal-asalan.

__ADS_1


"Tidak, anaknya hanya satu dan sudah menikah. Beliau sudah tua dan sangat kaya, tapi sayang hidupnya sendirian. Beliau mengajar Papa di SMA karena merasa kesepian, sejak saat itu Papa berpikir untuk memiliki keluarga besar ketika sudah menikah."


Pembahasan menjadi serius, hingga seketika Zean terdiam dan meyesal telah mencerca sang papa dalam hati. Nyatanya, dia bisa seserius itu dan alasan memiliki banyak anak begitu manis jika sudah ditelusuri.


"Maka dari itu, Papa berharap kalian juga berpikir sama ... ketika anak sudah dewasa, mereka akan pergi dengan dunianya. Seperti Papa yang harus merelakan Mikhayla saat usianya masih muda, Zean, mungkin sebentar lagi Sean sampai akhirnya Lengkara dan juga Ameera."


"Iya, Pa ... kalau aku tergantung Syila mau atau tidak."


"Hm bagus, persetujuan istri juga harus utama. Kalau kau, Sean?" Mikhail juga tetap bertanya pada Sean yang sejak tadi menguap, mungkin bosan dengan pembicaraan kedua pria yang sudah berkeluarga ini.


"Entahlah, Pa ... aku belum bisa pastikan," jawab Sean seadanya tanpa menatap mata sang papa.


"Kenapa pesimis, Sean? Apa karena belum ada media tanamnya? Hahaha tu banyak tanah kosong ... di sana saja," ejek Zean disertai gelak tawa dan membuatnya mendapat jitakan dari sang papa.


"Jangan lupa dipupuk, Sean." Salah besar Sean merasa Mikhail berada di pihaknya, karena satu detik kemudian sang papa tidak ada bedanya dari Zean.


.


.


- To be Continue -


Hai semua, boleh minta bantuannya sebentar? Mohon bantu kasih bintang 5 ke kisah Renaga - Zavia. Entah jari siapa yang buat mood nulis akoh digondol kucing bahkan nulis Zean aja jadi makin lama.


__ADS_1


__ADS_2