Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 111 - Beautiful Bride - Ending


__ADS_3

Segala sesuatu biasanya hanya akan jadi wacana jika direncanakan jauh-jauh hari. Begitulah prinsip Mikhail demi membuat resepsi pernikahan putranya berjalan dengan baik.


Zean tidak tinggal diam sebenarnya. Meski undangan sudah telanjur disebar dia tetap mempertanyakan jawaban Syila. Beruntungnya, Syila mulai memahami bagaimana tabiat mertuanya yang tidak jauh berbeda dari sang suami.


Dalam balutan gaun pengantin yang dirancang khusus ibu hamil itu, kecantikan Syila begitu terpancar hingga membuat mata Zean terpaku hanya padanya. Harus dengan kalimat apa dia mengungkapkan kecantikan wanita yang dia seret sebagai malaikat dalam hidupnya ini.


"Sayang maaf, kita apa-apa dadakan ... papa memang begitu orangnya."


Tanpa menjawab apa-apa, Syila hanya mengulas senyum seraya mengenggam jemari suaminya. Sejak tadi Zean sama sekali tidak tenang, begitu banyak kekhawatiran pria itu selama bersanding dengan seorang Ayana Nasyila siang ini.


Resepsi sederhana kata Mikhail, tapi bisa dipastikan biayanya cukup untuk hidup Nasyila selama setahun. Memang tidak semewah pesta pernikahan Zean yang pertama, Mikhail memikirkan kenyamanan menantunya tentu saja.


Tanpa diliput media dan orang-orang yang datang tidak sembarangan. Pria itu tengah menegaskan kepada rekan bisnisnya agar tidak ada lagi lamaran yang datang pada Mikhail setiap harinya.


Meski sudah diusahakan senyaman itu, tetap saja Zean khawatir. Istrinya tengah hamil enam bulan, sementara tidur saja Syila kerap mengeluh karena pegal ataupun lainnya.


"Kamu tidak pegal? Perutnya berat, 'kan?"


"Tidak, kan cuma duduk, kamu jangan banyak gerak ... kebelet atau kenapa sebenarnya?"


"Khawatir, Sayang, kalau kamu belum hamil aku tenang-tenang saja," jawab Zean sama sekali tidak marah meski istrinya berdecak akibat dia yang terlalu banyak gerak.


Pertanyaannya sedikit aneh, seperti tidak ada kalimat lain yang digunakan hingga Syila hanya terkekeh mendengarnya. Sejak tadi Zean sibuk sendiri, padahal dia biasa saja dan tidak selelah itu. Terlebih lagi, dia hanya duduk manis dan mengulas senyum pada para tamu undangan nantinya.


Resepsi pernikahan Zean adalah awal terbukanya mata banyak orang. Tidak sedikit yang terkejut dan tidak percaya, terlebih lagi melihat kandungan Syila yang sudah membesar itu, tertutupnya keluarga Mikhail yang ikut menyembunyikan Syila memang benar-benar rapi.


"Duda berapa bulan, Ze? Cepat sekali."


Sudah berapa kali dia mendapat pertanyaan semacam itu dari beberapa orang yang memberikan selamat padanya. Setelah sebelumnya Syakil yang sempat marah akibat merasa tidak dianggap oleh Mikhail, kini Zeeshan dan Zain ikut-ikutan.

__ADS_1


"Hahahha apa itu duda? sembarangan."


Jika sebelumnya dia takut akan ada pertanyaan seperti ini, untuk hari ini berbeda dan dia merasa sangat baik-baik saja. Bahkan jika perlu, dia akan menceritakan kisah cinta mereka dari awal.


"Istrimu cantik, sepertinya pernah bertemu."


Jika Zeeshan berfokus pada Zean, lain halnya dengan Zain. Mendengar pertanyaan semacam itu, Syila juga tampak berpikir dan mengingat kenangan masa lalunya sewaktu duduk di bangku kuliah.


"Dimana? Mantanmu jangan-jangan, Zain?" selidik Zeeshan cari perkara di pernikahan sepupunya, tidakkah dia sadari sekesal apa wajah Zean saat ini.


"Bukan, tapi memang aku pernah mengenalnya ... anak UNPAD ya?" tanyanya kemudian setelah mengingat wajah wanita ini.


"Iya benar, istriku memang alumni UNPAD ... kenapa? Jangan bilang mahasiswimu," terka Zean dengan dahi yang kini berkerut, menelisik maksud dari sepupunya yang mendadak sok akrab begini.


"Ah benar ternyata, wajar familiar ... aku pernah mengajarnya sewaktu menjadi asisten prof. Zuhdi," jelas pria itu yang membuat Syila mengangguk pelan.


Sejak tadi dia berusaha mengingat, pria tampan yang dahulu sempat diagung-agungkan teman sekelasnya. Syila mendadak malu, di tahun ketiga kuliahnya mereka memang pernah bertemu, itupun hanya beberapa kali selama satu semester, sungguh ingatannya luar biasa bagi Syila.


Tidak hanya itu, beberapa wanita yang Zean sebut Oma juga sangat menerima Syila layaknya cucu sendiri. Mereka sudah tidak lagi muda, tapi sama sekal tidak terlihat lelah. Terutama wanita yang tiba-tiba datang membawakan hadiah untuk pengantin wanitanya. Sebuah guci kecil yang Syila tebak isinya adalah obat herbal, sungguh hadiah yang sedikit unik.


"Astaga, Oma ... hadiahnya kenapa harus di sini."


"Ih tidak bisa, harus cucu Oma yang terima."


Dia lah Lorenza, wanita yang berperan penting dalam kehidupan asmara Opa dan Omanya. Persahabatan mereka berlangsung sangat lama, bahkan hingga ketika sama-sama sendiri karena terpisahkan maut bersama pasangan masing-masing.


"Ya tapi buat apa? istriku sudah hamil, lagipula kenapa masih percaya ginian?" tanya Zean mengerutkan dahi, sejak dahulu ramuan yang Lorenza berikan tidak berubah.


"Tidak masalah, ramuan itu juga bisa melancarkan ASI, Zean dan menjaga tubuh istrimu. Tuh punya Oma masih kenceng."

__ADS_1


"Siallan."


Zean memalingkan wajahnya kala Lorenza menunjukkan bukti dari khasiat ramuan itu. Sedikit menyesal mengundangnya, tapi mau bagaimana lagi semua adalah tanggung jawab Mikhail.


Syila memerah menahan tawa, kenapa mereka bisa sekuat ini padahal usianya tidak lagi muda. Sementara ibunya justru hanya bisa duduk dengan bantuan kursi roda di sana, sedikit menyedihkan, tapi Syila bersyukur masih bisa menatapnya hari ini.


"Kamu senyum terus, bahagia?"


"Sangat, keluarga kamu baik-baik semua ... aku pikir dulu selamanya kita akan begitu," ucap syila ketika mereka hanya berdua saja.


"Begitu bagaimana?"


"Ya begitu, kan awalnya rencana kita tidak begini," jawab Syila menatap balik netra Zean yang menuntut penjelasan.


"Rencanamu yang tidak begini, tapi tidak denganku."


"Maksudnya?" Syila mengerutkan dahi, pasalnya memang perjanjian mereka tidak begitu. Sama sekali Zean tidak mengatakan akan menjadikannya istri sah di awal, dan Syila sangat ingat itu.


"Sejak awal niatku memang begitu, tapi aku tidak mendapatkamu dengan lebih baik ... maafkan suamimu, aku terlalu pengecut waktu itu."


"Tidak ada yang salah, kenapa minta maaf?"


"Kita salah, mau bagaimanapun aku menjadi pengkhianat demi kamu ... tapi aku pastikan, itu kali terakhir. Kamu jangan khawatir aku akan melakukan hal yang sama nantinya, karena jiwaku kamulah pemiliknya dan kamu adalah rumah tempatku pulang. Sayang."


.


.


- Tamat Season Satu -

__ADS_1


Kok tamat? Kan masih banyak yang belum dibahas. Sabar ya, karena ini konflik utamanya sudah selesai jadi untuk kehidupan Syila setelah menjadi Nyonya Besar Zean itu aku masukin di season duanya (Tetap di novel ini)


Kenapa begitu? Karena aku agak bingung kalau ngasihnya Bonus Chapter, jadi aku ganti kata-kata itu jadi season dua. Beda nama ajasih sebenarnya, Thor-_ gak Guys kalau aku bilangnya season 2 dia masih runtut, jadi begitu ya ... kalau bonus biasanya loncat ke beberapa waktu ke depan gitu.


__ADS_2