Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 39 - Petaka


__ADS_3

Bandung.


Sambil menyelam minum air, pepatah yang begitu familiar bukan? Ya, saat ini Zean tengah merasakan maknanya. Pria itu tersenyum simpul tiada hentinya ketika menginjakkan kaki di kota kembang tersebut.


Bersama Syila yang berada di sisinya, anggap saja bulan madu dadakan. Setelah membuat istrinya kaget kemarin, malam ini Syila harus menerima kenyataan jika bagian dari pekerjaannya tidaklah bercanda.


Ini adalah kali pertama Zean tidak merasa lelah usai perjalanan jauh. Bahkan, bisa dikatakan perjalanan paling menyenangkan yang Zean rasakan. Selama ini, dia berlibur bersama Nathalia keliling Eropa sekalipun sama sekali tidak membuat hatinya menghangat.


Mungkinkah ini akan menjadi bagian kenangan paling Indah bagi mereka? Ekspetasi Zean sudah terlampau tinggi bahkan dia melupakan tujuan dia datang kemari adalah sebagai pembicara untuk memberikan motivasi besok pagi.


Semua berlangsung baik-baik saja, masuk hotel juga Zean masih tidak hentinya menggenggam tangan sang istri. Maklum saja, di kantor ruang geraknya terbatas dan tidak mungkin bertindak semaunya. Hingga, di sini dia merasa bebas mengutarakan perasaan cintanya pada sang istri.


Dalam hidup, memang kerap kali terjadi hak yang tidak terduga. Semudah itu Tuhan membalikkan keadaan jika memang berkehendak, dan kini terbukti dengan Zean yang lemas seketika kala pintu kamarnya terbuka.


Dada Zean kembang kempis, jiwanya seakan hilang sebagian kala menyadari tempat tidur yang akan mereka tempati terpisah oleh nakas di antaranya. Yang benar saja, mereka suami istri mana mungkin pisah ranjang.



Senyumnya sontak hilang, tergantikan dengan wajah penuh amarah dan segera merogoh ponselnya. Siapa lagi yang bertanggung jawab kalau bukan Prayudha Bagas Tami, asisten kurang ajar yang dia yakini sebagai pelaku utama kesialannya.


Berbeda dengan Zean, Syila yang sudah merasa lelah tidak memikirkan perkara twin bed semacam ini akan jadi petaka. Jelas dia menjadikan kamar mandi sebagai tujuannya.


"Kau gila? Kenapa kamarnya begini, settan?"


"Mohon maaf sekali Bapak Zean Andreatama, fasilitas itu ditanggung oleh pihak kampus ... sejak awal mereka mengetahui yang datang adalah Anda dan saya, jadi itu bukan tanggung jawab saya."


Suara ngantuk Yudha terdengar luar biasa sebal dengan tuduhan Zean. Pria itu menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, sungguh sukar bagi seorang Zean bisa sedikit sabar.


"Tapi setidaknya kau bisa katakan kebenarannya."

__ADS_1


Kesal? Sangat, bahkan kepala Zean seakan berasap sejak awal pintu kamar terbuka. Tujuannya ke Bandung membawa serta Syila tentu tidak sama seperti perjalanan sebelumnya. Namun, entah siapa yang membuat rencananya patah saat ini.


"Anda mau bunuh diri? Jika saya mengatakan Anda pergi bersama Syila yang mereka ketahui sebagai Sekretaris, bukan istri Anda. Maka bukan hanya pisah ranjang, tapi pisah kamar."


Benar juga, sejenak Zean terdiam dan mencerna kata-kata Yudha. Sungguh, dia sama sekali tidak mengetahui jika hotel ditanggung pihak kampus, biasanya tidak begini dan Yudha yang bertanggung jawab.


"Ck, menyebalkan sekali ... lalu aku harus bagaimana? Mana bisa aku tidur pisah ranjang begitu," keluhnya tampak frustasi bahkan kini mengusap wajahnya kasar.


"Nikmati, Pak ... Anda sendiri yang mengatakan harus hemat."


Hemat hanya berlaku jika yang ada di sisinya adalah Yudha. Untuk saat ini, tampaknya tidak akan berlaku lagi. Pria itu memutuskan sambungan teleponnya kala Syila keluar dengan bathrobe yang membalut tubuhnya.


Cepat sekali istrinya mandi, apa mungkin dia yang terlalu lama berbicara dengan Yudha hingga tidak menyadari waktu berjalan secepat itu, pikir Zean.


"Kamu mandi?"


"Iya, badanku lengket."


"Kamu tidak risih? Mandi sana," titah syila menoleh dan melihat jelas wajah masam Zean yang sudah berbanding terbalik dengan sebelumnya.


"Aku tidak mau tidur di sini," ucapnya mengalihkan pembicaraan dan hal itu hanya membuat syila menghela napas pelan.


"Kenapa?" Sekalipun dia tahu, Syila tetap bertanya demi membuat Zean tidak merasa diabaikan.


"Ranjangnya dipisah. Ays panitia seminar siallan!! Kalau bukan karena rektornya sudah aku batalkan sekarang juga."


Lama tidak mendengar zean mengomel, kini telinganya sedikit terkejut. Suaminya masih sama, Zean yang pemarah dan suka mengumpat jika sesuatu tidak sesuai kehendaknya.


"Pindah? Apa tidak sebaiknya tidur di sini saja?"

__ADS_1


"Iyalah ... aku membawamu karena tidak mau tidur sendirian, kalau endingnya tidur pisah-pisah begini untuk apa."


Jelas sekali, tanpa dia tutup-tutupi dan keputusan Zean tidak terbantahkan. Syila tidak mampu menahan kehendak ang suami, dia juga enggan jika harus bertengkar perkara tempat tidur segala.


.


.


Setelah drama menyebalkan beberapa saat lalu, kini pasangan itu benar-benar pindah ke kamar lain sesuai yang Zean mau. Suasana hatinya mudah sekali berubah, Syila hanya menggeleng pelan kala sang suami pamit mandi usai mengecup keningnya.


Beberapa saat lalu dia marah-marah, kata-kata mutiaranya bahkan membuat telinga Syila sakit. Akan tetapi, dalam beberapa detik Zean bisa berubah selembut itu padanya. Hanya padanya, karena ketika dia kembali menghubungi Yudha tetap saja tidak bersahabat.


Tidak lama berselang, Zean keluar dengan handuk melilit di pingganya. Sedikit asal, karena memang sejak dahulu gayanya begitu. Zean mengerutkan dahi, Syila tampak diam dengan selimut yang sudah menutupi sebagian tubuhnya.


"Syila."


Tidak ada jawaban, sekalipun tetesan air dari rambut Zean mendarat di tangannya, sang istri masih terpejam tanpa merasa terganggu sedikitpun.


"Astaga, dia tidur? Sayang, hei ... tidur ya?"


Antara tega dan tidak, Zean kasihan pada istrinya. Namun, dia lebih kasihan lagi pada dirinya sendiri jika sang istri benar-benar tidur malam ini.


"Dalam hitungan ketiga tidak bangun juga, gajimu aku potong."


Ancaman kuno masih berlaku rupanya. Zean tetap mencoba, tapi apalah daya rasa lelah dan kantuk Syila lebih berkuasa. Pikirannya mulai nakal, Zean terkekeh kemudian mengecup bibirnya perlahan.


"Aku pasti sudah gila." Zean menggeleng cepat kala pikiran semacam itu benar-benar terbesit di pikirannya. "Tapi kan dia istriku sendiri, kalau aku melakukannya masa dianggap pemerkossaan?" lanjutnya kemudian masih memandangi sang istri yang begitu lelap dalam tidurnya.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2