Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 52 - Berlebihan


__ADS_3

Sama halnya dengan Nathalia, saat ini Syila juga tengah dibuat bingung oleh seorang Zean. Namun, tentu saja mereka merasakan hal yang berbeda. Jika Nathalia tengah dibuat jungkir balik lantaran tekanan Sean bahkan tidak bisa tidur seperti biasa. Di lain sisi, Syila justru tidak beranjak dari tempat tidur.


Melelahkan, sudah Syila duga ini bukan perjalanan bisnis seperti yang Zean katakan di awal. Wanita itu berusaha meraih ponselnya di atas nakas, meski meninggalkan pekerjaan cukup lama Syila tentu tidak melupakan Zulia.


Memang tidak begitu lama, hanya sekitar sepuluh menit dia menyapa sang ibu setiap harinya. Dalam keadaan sebahagia apapun, Syila tetap menjadikan Zulia sebagai prioritasnya.


Selang berapa lama, Zean masuk dengan membawakan obat penurun panas untuk sang istri. Wajah Zean mendadak berbeda kala menyadari Syila tersenyum di depan ponselnya, otaknya sama sekali tidak berpikir jernih dan mengira Syila macam-macam di belakangnya.


"Sayang siap_ oh ibu ternyata."


Zean memerah, menyesali kebodohannya yang asal merebut ponsel Syila. Kekhawatiran istrinya dihubungi pria lain muncul setelah pertemuannya dengan Anggara. Tidak hanya itu, setelah mereka tiba di pulau dewata untuk pertama kali seorang pria yang seumuran dengannya secara tegas meminta nomor ponsel sang istri.


"Aduh menantu ibu sudah datang, ya sudah ibu matiin ya."


Sontak pria itu merasa bersalah, dia melirik sang istri yang kini memasang wajah datar padanya. Hendak melarang sang mertua juga percuma lantaran panggilan itu sudah terputus secara sepihak, terpaksa dia mengembalikan ponsel Syila dengan wajah penuh rasa bersalahnya.


"Maaf, kupikir bukan ibu."


Tidak masalah, wajar saja Zean curiga karena Syila memang istrinya. Banyaknya kasus perselingkuhan membuat Zean resah, terlebih lagi dia juga melakukan hal yang sama.


"Masih panas? Kita ke rumah sakit saja ya."


Pria itu memastikan suhu tubuh sang istri, nyata masih panas dan memang demamnya cukup tinggi sejak pagi tadi. Jika ditanya apa sebabnya, jelas saja Zean tidak tahu karena mereka sama sekali tidak ke pantai ataupun bermain air. Selain itu, pakaian Syila juga tidak begitu terbuka, rasanya tidak mungkin masuk angin.


"Tidak perlu, nanti sembuh sendiri ... sini obatnya."


"Sudah dua, tapi kamu masih panas, Syila."


Tadinya Zean berpikir istrinya akan lebih baik, nyatanya tidak dan justru kian parah. Syila merasa kedinginan, sementara yang Zean rasakan sang istri panas luar biasa. Sejak pagi juga Syila benar-benar tidur dalam pelukan Zean, hanya bangun ketika makan, itupun beberapa suap saja.


Cukup sulit merayu sang istri, hingga kini keduanya sudah berada di salah satu rumah sakit swasta di sana. Celaka besar memang, niat membawa istrinya liburan, tapi zean justru membuatnya terbaring di rumah sakit.


Zean menatap teliti kala pria paruh baya itu memeriksa istrinya. Untung saja sudah seumuran Mikhail, jantung Zean sedikit aman kali ini. Keputusan Zean untuk membawa Syila ke rumah sakit nyatanya tidak salah, sang sitri benar-benar butuh penangan serius.

__ADS_1


"Istri saya kenapa, Dok?"


"Ah Anda suaminya?"


Sudah terduga, pria itu hanya tersenyum simpul sebelum menjelaskan. Pasangan ini bukan yang pertama, ada banyak pasien datang dengan kasus seperti ini.


Hal yang kerap dialami oleh istri-istri setiap bulan madu, terlebih pengantin baru. Zean mendengarkan penjelasan pria itu dengan wajah penuh penyesalan. Tidak dia duga, jika penyebab utama istrinya demam tinggi adalah dia sendiri.


"Lalu janinnya bagaimana , Dok?"


"Astaga, belum ada ... saya tidak bilang istrimu hamil."


Zean terlalu khawatir sampai dia berpikir sejauh itu. Pria itu memaklumi Zean, mungkin karena dia masih muda hingga tidak mengetahui hal semacam ini.


.


.


Zean menatap lekat sang istri yang kini masih tertidur pulas dengan infus yang menetes perlahan di atas sana. Di tengah lamunannya, ponsel Zean berdering dan memecah lamunannya.


"Sean?"


Entah apa yang ingin sean tanyakan malam-malam begini, biasanya juga siang hari Sean akan bertanya ini dan itu. Meski malas, dia tetap menerima panggilan dari Sean.


"Hm, ada apa?"


"Ah akhirnya kau angkat juga ... Underwear baru dimana tempatnya?"


Ya Tuhan, penting sekali pertanyaan Sean samai menanyakan hal semacam itu padanya. Zean menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menjawab pertanyaan Sean.


"Tidak ada ... salah sendiri kau tidak bawa, lagipula apa salahnya pakai punyaku yang lama."


"Ck, kita bukan anak-anak lagi, Zean ... aku tidak suka, yang benar saja."

__ADS_1


Terdengar jelas Sean menghela napas frustrasi. Namun, mau bagaimana lagi memang begitu faktanya dan Zean tidak dapat berbuat banyak.


"Ayolah, jangan bercanda, Ze. Aku sudah pakai ini dari pagi, pas mau tidur gatal."


"Lepas apa susahnya, Sean."


Kesal sendiri kenapa Sean justru mempersulit hidup sebenarnya. Jika hal-hal semacam ini menjadi tanggung jawab Zean juga, sungguh menyebalkan. Fakta bahwa Sean selalu membuat hidupnya kacau, memang benar.


Ditengah pembicaraan mereka, Syila melenguh dan suara itu terdengar oleh Sean. Sontak pria itu berpikir macam-macam, bahkan dia berhenti merutuki Zean yang tidak menyiapkan hal sepenting itu untuknya.


"Siallan, kau sedang apa?"


"Jangan berpikir macam-macam, istriku masuk rumah sakit akibat demam tinggi, jadi dia ngigau," jelas Zean sembari menenangkan sang istri yang tampak tidak nyaman saat ini.


"Keren sampai masuk rumah sakit."


"Keren apanya? Aku justru merasa bersalah sekarang."


"It's okay, itu artinya kau mencintainya ... Oh iya, tadi Mama dan Oma datang. Istrimu benar-benar munafik, Zean."


"Mama? Kalian sudah bertemu?" tanya Zean mengerutkan dahi, jujur saja dia khawatir sekali akan hal ini.


"Tidak, aku hanya melihat mereka."


"Syukurlah, Oh iya ... Nathalia bagaimana? Dia tidak curiga?"


"Tidak, kau tahu malam ini aku menolaknya seranjang, istri tololmu itu hampir menangis ketika aku paksa tidur di sofa. Anehnya dia minta maaf, apa sebelumnya kau pernah diperlakukan seperti itu?"


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2