
Menjelang tidur Zean mendadak tidak nyaman. Entahlah, apa penyebabnya hingga dia bingung sendiri begini. Dia menatap sang istri yang kini mulai merebahkan tubuhnya. Hujan di luar sana masih melanda, bukan hanya rintik gerimis, tapi dapat dikatakan sebagai badai.
"Sayang, kenapa?"
Syila menangkap kegusaran di wajah sang suami sejak tadi. Entah apa yang menjadi sebabnya, padahal saat ini Hudzai sudah ada di rumahnya. Akan tetapi, memang Zean benar-benar terlihat gelisah.
"Entahlah, aku telepon Papa bentar."
Biasanya, jika suasana hatinya memburuk begini pasti ada sebabnya. Tidak jauh-jauh dari Mikhail ataupun Zia dan juga Kanaya. Dia meraih ponselnya dan mencari nomor ponsel sang papa.
Dia hanya ingin memastikan, papanya baik-baik saja sudah cukup. Namun, bukannya mendapat respon baik, Zean justru disemprot Mikhail dengan kata-kata mutiara lantaran menggangu ketenangannya main catur bersama Bastian.
"Tuh kan!! Kuda Papa hilang!! Kamu sih."
"Aku hanya khawatir, Pa ... siapa tahu Papa kenapa-kenapa," tutur Zean masih baik-baik, andai saja suasana hatinya sedang membaik, mungkin Zean akan berbeda.
"Papa baik-baik saja, kenapa? Mau ajak Papa umroh lagi, Zean?"
"Sudah Papa tidur sana, ini sudah larut nanti Papa lemas."
Kebiasaan sekali, jika diajak bicara ujung-ujungnya pasti mengajak pergi ke suatu tempat. Entah karena memang suka, atau hanya ingin merepotkan putranya.
Usai rasa penasaran Zean tentang Mikhail, pria itu masih merasa tidak nyaman. Dia masih saja gusar, Zean bingung dia kenapa dan apa penyebabnya. Melihat Zean yang tampak gusar, Syila mengajak Zean untuk turun ke dapur.
"Minum teh hangat ya, kamu gelisah terus dari tadi," tutur Syila kemudian mengusap pelan rambutnya.
"Memang teh bisa buat tenang?" tanya Zean dengan wajah melasnya, seakan kehabisan harapan dan merasa ketenangan itu memang tidak akan dia miliki.
"Bisa dong, tunggu sebentar ya," ucap Syila kini bersiap untuk menyeduh teh hangatnya.
Zean sudah melakukan banyak cara untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Biasanya pelukan Syila sudah paling menenangkan, anehnya kali ini justru berbeda dan dia tetap saja gusar tiada habisnya.
__ADS_1
"Sayang kenapa ya? Ibu baik-baik saja, 'kan?"
"Hm, baik ... tadi sudah tidur," jawab Syila lembut seraya menyajikan teh hangat itu untuk Zean.
"Hudzai baik-baik saja? Dia sudah tidur, 'kan?" tanya Zean lagi, dia benar-benar menerka apa penyebab firasatnya kacau begini.
"Iya, sudah tenang. Semua baik-baik saja, percayalah."
Sulit sekali untuk Zean percaya bahwa semua baik-baik saja. Saat ini pikirannya benar-benar kacau, jantungnya berdebar dan semakin lengkap ketakutan Zean kala petir menggelegar di luar sana.
Zean mulai menikmati teh hangat yang Syila buatkan untuknya. Mungkin akan lebih baik jika dia minum teh tersebut, pikirnya. Namun, beberapa saat ponselnya kembali berdering. Sempat khawatir jika panggilannya dari Mikhail, tapi ternyata bukan.
"Sean? Tidak biasanya dia menelpon jam segini?"
"Hallo, kenapa?"
Agak malas-malasan, dia sama sekali tidak sadar jika yang menyebabkan dia uring-uringan adalah Sean. Pria itu mendengar suara Sean yang sedikit tidak jelas, suasana di seberang sana tampak ricuh dan Zean bisa mendengar ada keributan yang mungkin melibatkan Sean.
"Zean, orang-orang di sini banyak sekali ... demi Tuhan aku tidak menyentuhnya, tapi mereka menyalahkanku, Zean!! Bagaimana ini?"
Dia terdengar panik, tapi Zean masih bingung apa yang Sean utarakan sesungguhnya. Tidak biasanya Sean sampai bergetar begini, dia juga meminta tolong beberapa kali.
"Katakan yang jelas Sean apa yang terjadi!!"
"Aku dituduh berzina!!"
"Hah? Bukannya memang sering?"
"Badjingan, jaga bicaramu!! Aku serius, Zean ... ays help me please!! Aku diperlakukan persis penjahat kelamin di sini, datang ke sini ajak Papa. Sumpah aku dalam masalah."
Gelas teh Zean pecah begitu saja usai mendengar penuturan saudara kembarnya. Syila kini semakin bingung menatap Zean bak tertimpa musibah, dia takut dan khawatir terjadi sesuatu tentu saja.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Sean? Kau sekarang dimana?" tanya Zean serius saat ini, dadanya berdebar dan takut menjadi satu.
"Bandung, di dekat pondok Pesantren Al-Hidayah datang besok pagi bersama Papa ... aku butuh kalian, Ze."
Bandung? Dekat pesantren? Dan dia dituduh berzina. Pikiran Zean sudah macam-macam, bagaimana jika Sean justru dirajam. Sesaat dia mengingat sosok kiyai Hasan yang juga berada di Bandung, siapa tahu dia mengetahui pesantren tersebut.
"Yudha ... mana Yudha," ucap Zean panik seraya mencari nomor ponsel Yudha.
Segera pria itu menghubungi Yudha dan menjelaskan apa yang terjadi pada Sean. Yang lebih mengenal kiyai Hasan adalah Yudha, jelas saja Zean kembali butuh calon adik iparnya itu.
"Yud, hubungi kiyai Hasan ... aku butuh bantuannya besok pagi."
Zean menggigit bibirnya kini, wajar saja perasaannya sama sekali tidak nyaman. Syila yang memang selalu menunggu waktu yang tepat untuk bertanya masih diam usai membersihkan pecahan gelas di lantai.
"Sayang, kenapa kamu yang bersihkan?"
"Tidak masalah, lagi pula mudah ... ganti baju, celana kamu basah," tutur Syila menatap celana tidur Zean yang tampak basah, kekhawatirannya begitu besar hingga tidak sadar kala teh hangat itu tumpah di celananya.
"Hm, iya."
"Ada apa? Kenapa Sean?"
"Digrebek, messum katanya," jawab Zean kemudian masih dengan wajah paniknya.
"Hah?"
"Sudahlah, besok aku harus ke sana, semoga selesai masalahnya ... Sean ada ada-ada saja, kenapa juga bisa ketahuan begitu."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -