
Waktu bergulir begitu cepat, kehidupan seorang Zean Andreatama kian sempurna dengan kehadiran malaikat kecil yang kini sudah berusia 16 bulan. Buah cintanya bersama Syila yang terlahir sebagai penenang jiwa itu diberi nama Hudzaifah Malik Abraham.
Seperti yang Syila ketahui, sang suami benar-benar menyayangi mendiang kakeknya. Hingga tidak tersemat nama Zean sendiri, melainkan Ibra. Lebih baik menggunakan nama itu karena jika tidak, sudah tentu Mikhail akan cemburu.
Sejenak menepis tentang namanya, Hudzaifah tumbuh menjadi balita yang menggemaskan dan untuk saat ini benar-benar menjadi pengobat kerinduan keluarga Megantara pada sosok Ibra.
Tumbuh sebagai anak tunggal tanpa saingan, jangan ditanya bagaimana keluarga memanjakannya. Terlebih lagi, kehadiran Hudzaifah adalah yang paling ditunggu oleh kedua saudara Zean, kerap kali Lengkara dan Ameera bahkan bertengkar hanya karena memerebutkan anak itu.
Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan benar-benar membuat suasana di rumah itu hidup. Tidak jarang Zean kehilangan putranya setiap pulang kerja lantaran dibawa pergi tanpa izin oleh keluarganya.
Ditambah lagi, anak itu bukan balita yang hanya bisa menangis, jelas saja mereka betah. Hudzaifah yang banyak bicara meski belum benar-benar sempurna adalah penghilang stres yang paling berguna.
Namun, hari ini Zean dibuat kesal lantaran pulang untuk makan siang dia mendapati putranya tidak ada di rumah. Syila yang melihat frustrasinya sang suami hanya bisa menghela napas pelan. Dia tidak bisa menolak kala Mikhail menjemput putranya beberapa jam lalu.
Ditambah lagi, putranya juga seolah menginginkan dan tidak bisa menolak jika sudah melihat Mikhail. Ikatan batin antara keduanya terkadang membuat Zean iri. Padahal, yang kerap uring-uringan sejak Syila hamil adalah dirinya.
"Papa kebiasaan, kamu juga kenapa tidak larang, Sayang?"
Belum apa-apa Zean sudah mendengkus kesal siang ini. Naffsu makannya pergi, sungguh dia mendadak kenyang dadakan lantaran tidak ada sang putra yang menyambutnya.
"Mana bisa, kamu saja tidak berhasil apalagi aku," ucap Syila membela diri.
Dia memang berada di posisi sulit, hendak melarang mertuanya dia tidak mampu, tapi jika dipersilahkan Zean tidak setuju.Terpaksa, Syila hanya merestui kepergian putranya seraya menyiapkan susu dan makanannya ketika Mikhail sudah datang.
"Kan bisa mereka yang datang ke sini, kenapa harus Hudzai-ku yang dibawa lari," gumam Zean memijit pelipisnya, demi Tuhan dia benar-benar ingin marah lantaran mereka kerap membawa pergi sang putra tanpa basa-basi.
Tidak ingin membuang waktu, Zean beranjak pergi meninggalkan Syila yang kini menatapnya penuh tanya. Sempat dia tahan lantaran belum sempat makan siang, tapi Zean memilih pergi dengan alasan masih kenyang.
__ADS_1
"Huft, apa dia tidak lelah selalu begitu?"
"Kenapa, Syila ... apa Zean marah, Nak?"
Zulia yang kini sudah benar-benar membaik tetap menjadi penenang dalam rumah tangga putrinya. Meski memang Syila dan Zean tampak romantis seperti biasanya, tetap saja ada kekhawatiran setiap kali sang menantu meninggalkan Syila usai berdebat kecil semacam itu.
"Tidak, Bu, sudah jangan khawatir ... dia cuma mau jemput Hudzai, aku lupa bilang kalau tadi pagi Papa datang."
Makan siang kali ini mungkin hanya berdua bersama Zulia. Besar kemungkinan Zean akan lama karena jika sudah ada di kediaman Mikhail, bukan hanya putranya yang ditawan, melainkan Zean juga demikian.
Suasana hati Zean tengah panas akibat sang putra diculik seenaknya begini. Sepanjang jalan dia menggerutu dan mengumpat keluarga besarnya. Sudah dia tegaskan pada Yudha segera nikahi Lengkara karena hanya dengan cara itu, keluarga mereka tidak haus bayi.
Namun, dengan alasan belum siap dan khawatir Sean amplas akibat mendahuluinya, Yudha memilih sabar lebih dulu. Sementara di sisi lain, Sean juga sama kerasnya dan bahkan tidak memiliki keinginan untuk menikah dengan alasan belum menemukan tipe idealnya, memang tidak dicari tepatnya.
"Hudzai di sini, Om?" tanya Zean begitu dia tiba di kediaman Mikhail.
Meski paham wajah Zean sama sekali tidak bersahabat, Bastian tetap menjelaskan baik-baik apa yang Mikhail lakukan hari ini. Dia akui setelah kehadiran putra Zean, pria itu tampak lebih segar bahkan tidak lagi langganan masuk rumah sakit.
"Papa benar-benar minta didenda sepertinya," umpat Zean sebelum kemudian melangkah, memasuki rumah utama dengan suara yang kini menggema.
"Hudzai!! Pulang, Nak!"
Kedatangan Zean yang belum apa-apa sudah berteriak sedikit membuat telinga Lengkara sensitif. Dia yang sejak tadi mempercantik kuku-kukunya sontak berdecak dan meminta Zean menurunkan suaranya sedikit.
"Dia masih kecil, mana mempan diteriakin begitu."
"Kenapa sepi ... papa sudah pulang atau belum sebenarnya?" tanya Zean beruntut dan mendadak kesal pada Bastian yang kemungkinan besar telah menyampaikan informasi palsu padanya.
__ADS_1
"Papa ada di kamar, tidur siang mungkin."
"Terus Hudzai dimana? Mana mungkin dia tidur jam segini," ucap Zean masih berkacak pinggang di hadapan adiknya.
"Mana kutahu, tadi di situ nonton televisi. Mungkin ke rumah kak Mikha kali ... dia kan memang sudah bisa jalan," jawab Lengkara enteng sekali dan kembali duduk dengan santainya.
"Kalian gila?! Kenapa dibiarkan berkeliaran, sudah tahu dia baru bisa jalan! Kalau sampai ke kolam bagaimana?!"
Jelas saja Zean murka hingga menarik rambut Lengkara singkat sebelum kemudian kembali mencari keberadaan putranya di rumah super luas itu. Lengkara yang baru tersadar akan hal itu jelas mendadak khawatir, apalagi terakhir dia melihat keponakannya beberapa menit lalu di depan televisi.
"Aduh, tapi beneran tadi masih nonton, Kak ... apa mungkin dia masuk guci itu ya?"
"Jangan becanda, Kara ... sampai terjadi sesuatu pada putraku, jangan harap calon suamimu bisa tidur nyenyak," ancam Zean menatap tajam adiknya yang kini juga tengah berusaha mencari keberadaan si kecil itu.
"Kenapa mas Yudha yang jadi sasarannya?"
"Sudah ceat cari!! Harus ketemu, aku tidak mau tahu."
"Iyayayayayaya!! Datang-datang nyusahin."
.
.
- To Be Continue -
Hai-hai, aku mau tanya nih ... apa kalian sudah bosan dengan cerita yang berasal dari keturunan Ibra? Mikhail terutama 🙂
__ADS_1