
"Keadaannya masih sama, pergilah ... kamu hanya ingin memastikan Tante Zulia masih hidup, 'kan?"
Hati Syila terhenyak, niat baiknya untuk melepas kerinduan Nyayu patahkan begitu saja. Sama sekali tidak diberikan kesempatan melihat, sekalipun dari luar ruangan. Kebencian Nyayu pada Syila benar-benar tidak dapat ditawar, meski Zean sudah mengambil alih tetap saja wanita itu tetap dengan pendiriannya.
"Syila ... Mbak tidak habis pikir, bisa-bisanya kamu menjadi istri simpanan. Tidak belajar dari masa lalu? Bagaimana ibumu mengorbankan segalanya setelah rumah tangga beliau hancur akibat orang ketiga."
"Mbak ...."
"Kamu boleh bersenang-senang saat ini, Syila ... silahkan!! Tapi kamu ingat, yang namanya perebut itu tidak akan pernah tenang seumur hidupnya. Kamu ingat bagaimana Ayahmu? Setelah memilih wanita lain, dia tetap kembali pada ibumu sampai akhirnya tutup usia."
Nyayu sejenak menarik napas, kemarahannya semakin membuncah ketika menyadari pakaian yang syila kenakan. Yah, dari pakaian yang digunakan sepupunya ini, wanita itu yakin betul Syila tengah hamil.
"Kamu tidak takut, Syila? Berapa lama pria itu mengenalmu sampai akhirnya dia memutuskan menikahimu ... sementara pernikahannya yang empat tahun saja bisa dia khianati."
"Apa yang kamu harapkan dari pria yang tidak setia dan penjahat kela-min seperti dia?"
"Mbak stop!! Mbak hanya melihat dari satu sudut pandang saja ... yang tahu bagaimana suamiku adalah aku sendiri, berhenti mengatakan hal semacam itu!! Suamiku tidak seburuk yang Mbak katakan!!"
Sejak tadi dia diam, sekalipun dianggap murrahan Syila tetap diam. Akan tetapi, dia meradang ketika Zean yang Nyayu anggap seburuk itu.
"Buktikan sendiri, kita lihat seberapa lama kamu bertahan? Setahun? Dua tahun? Paling juga setelah melahirkan anak pertama kamu akan merasakan apa yang istri pertamanya rasakan."
Prinsip hidup Nyayu, apapun keadaannya menjadi istri dari seorang pria beristri adalah sebuah keasalahan dan sangat hina. Tidak peduli serumit apaun hubungan sebelumnya, yang jelas orang ketiga tetap salah.
Tangan Syila bergetar, tidak bisa dipungkiri perasaan seperti itu memang ada. Terlebih lagi dia yang kini tengah hamil, wajar saja dia berpikir demikian. Syila tidak ingin hatinya semakin sakit, wanita itu merogoh amplop berisikan uang tunai yang jumlahnya tidaklah kecil.
"Terima kasih Mbak sudah bersedia merawat Ibu, maaf kalau keputusanku mengecewakan kalian."
__ADS_1
"Oh jelas!! Enak ya sekarang, hidup kamu dipermudah segalanya ... tapi jangan lupa, kamu menyakiti hati ibu kamu ... ada berapa banyak wanita di luar sana yang melahirkanya dipersulit akibat membuat orang tuanya menangis."
Nyayu menekan setiap kata-katanya, percayalah hati Syila seakan ditercabik begitu mendengar kalimat terakhir Nyayu. Dia memang bersalah, bahkan bukan hanya membuat ibunya menangis, melainkan tidak sadarkan diri.
"Mb-mbak?"
"Berhenti drama, Syila ... pergilah, ambil uang itu."
Dia sama sekali tidak drama, entah kenapa Nyayu justru mengatakan jika dia sedang drama. Tidak ingin hatinya semakin sakit, Syila berlalu keluar dan menemui Zean yang menunggunya.
Syila pikir, dengan datang sendiri Nyayu akan sedikit berbaik hati. Nyatanya, tidak hanya air cacian yang dia dapat, tapi ketakutan kini menjalar dalam dirinya. Syila mengelus perutnya berkali-kali, katakannya dia tengah menenangkan bayi dalam kandungannya.
Dari kejauhan dia menatap Zean berdiri menunggunya, pria itu melangkah cepat dan Syila berusaha menenangkan diri. Tidak ingin terlihat sesedih itu, padahal air matanya membasah di kedua pipinya.
"Apa yang dia katakan?"
"Selain itu?"
"Aku disuruh jaga kesehatan, dia tahu aku hamil," jawab Syila seratus persen berbohong..
"Lalu?"
"Sudah_ it-itu saja."
Tanpa menunggu Syila berucap lagi, Zean meninggalkan sang istri dan hendak menemui Nyayu. Satu hal yang perlu Syila ketahui, Zean tidak sebodoh itu dan dia sangat mengerti penyebab istrinya bisa menangis begitu.
Syila berusaha mengejar langkah Zean, pria itu cepat sekali hingga Syila perlu berteriak untuk menghentikannya. Akan tetapi, pria itu sudah tiba lebih dulu hingga pada akhirnya Syila dibuat menganga kala menyadari Zean mendaratkan telapak tangan di wajah Nyayu begitu kerasnya.
__ADS_1
"Minta maaf pada istriku!!"
"Ya Tuhan, Zean stop!!"
Syila menahan tangan Zean yang hendak mendaratkan tamparan untuk kedua kalinya. Dia menggeleng dan menatap Zean tak suka, bukan begini caranya dan tidak seharusnya Zean melakukan hal semacam itu pada orang yang lebih tua.
"Cih, ini suami yang kamu bela mati-matian, Syila? Lihat dia berani tampar Mbak loh, tidak takut dia melakukan KDRT nantinya, Syila?" tanya Nyayu yang kembali cari perkara dan Zean benar-benar muak mendengarnya.
Sudah dia duga, tidak mungkin wanita ini menyambut istrinya baik-baik. Untuk pertama kalinya, Zean tidak menyesal memukul wanita. "Apa yang kau katakan pada istriku?"
"Oh banyak, tanyakan saja pada istrimu ... ah tapi aku lupa, dia pembohong ya, ibunya saja dibohongi apalagi suaminya."
"Jaga mul_"
"Zean sudah, kita pergi saja ... aku mohon."
.
.
Tanpa Syila ketahui, sejak tadi air mata Zulia mengalir mendengar isak tangis putrinya. Dia ingin bicara, ingin menghentikan pertikaian mereka. Zulia ingin menggapai sang putri, sayangnya sejak Tuhan memberikan kesempatan untuk membuka mata, lidah dan anggota tubuhnya seakan tidak berfungsi.
"Masuk, Syila ... jenguk ibu, tatap mata ibu, sebelum benar-benar berakhir."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -