
Tidak sedikit yang mengatakan, beda istri beda rezeki. Mungkin begitulah yang Zean rasakan semenjak menikahi Syila. Meski Syila memang jelas kalah jika dinilai dari materi dibandingkan Nathalia, akan tetapi semenjak dia menikahi Syila, pria itu merasa hidupnya lebih mudah.
Bukan hanya secara materi, tapi hati Zean seakan lebih kaya. Pikirannya tidak sesempit dahulu, dia juga lebih mampu menjaga sikap dan tidak semena-mena seperti dahulu. Banyak sekali yang merasakan perbedaan, tidak ada lagi drama karyawan menangis darah akibat dipecat ataupun potong gaji karena masalah sepele seperti dahulu.
Perubahan Zean semakin membuat mereka yakin jika pernikahannya bersama Nathalia sangat menyiksa pria itu. Zean yang berada di posisi ini tentu tidak bisa lepas dari Yudha dan juga Sean. Jika tidak ada mereka, maka bukan hal mudah untuk membuatnya lepas dari penjara Halim lewat Nathalia.
Sebagai pria yang diajarkan untuk selalu mengingat jasa, Zean sengaja mendatangi saudaranya siang ini. Dia yang tidak mungkin lagi tinggal di rumah utama setelah Zulia ditemukan, terkadang ada kerinduan yang menyeruak dalam benak Zean.
Sedikit sebenarnya, tapi tidak bisa dia pungkiri ikatan batin saudara kembar tidak bisa berbohong. Kedatangannya kali ini mungkin akan sedikit mengejutkan, sama sekali Zean tidak memberikan kabar terkait kedatangannya.
Benar saja, ketika Zean turun dengan membawa makan siang, Rudi yang merupakan bos Sean tidak dapat menutupi keterkejutannya. Rasanya baru beberapa menit lalu dia melihat Sean begitu kotor, kenapa kini sudah sebening ini, pikir pria berkumis tipis itu.
"Selamat siang, Pak Rudi, Sean mana?"
"Hah? Bisa ... di sana toiletnya."
Zean tertawa sumbang, tampaknya otak pria itu berhenti bekerja hingga dia bisa salah mendengar seperti itu. Beruntung saja, sebelum Zean mengulang pertanyaannya, Sean muncul dengan keadaan masih dekil seperti biasa.
"Ckckck ... Pak Rudi, tolong naikkan gaji karyawan Anda, terkadang saya tidak tega melihat kakak saya kerja keras seperti ini," ucap Zean menatap datar pemilik bengkel itu.
__ADS_1
Sebagai seseorang yang pernah di posisi Sean, jelas saja dia mengerti betapa sulitnya kerja kasar begitu. Meski memang sedikit lebih tenang, tapi percayalah tangan Zean bahkan terkelupas dan terbakar selama menjadi karyawan gadungan di bengkel Rudi.
"Zean? Maaf, Pak, adik saya memang agak terbiasa asal bicara. Jadi jangan dipikirkan ya, Pak."
Sean yang tidak enak hati, padahal semenjak posisinya digantikan Zean, sudah berapa banyak pelanggan yang lari. Akan tetapi, Rudi yang dahulu mengira Sean sebagai anak baru masih butuh belajar hingga tidak memecatnya walaupun sudah berapa banyak ban meletus di tangan Zean.
"Salah dimananya? Memang gajinya kecil ... makan beli sendiri, kerjaan berat, angkat ini, angkat itu, sampai nyapu dan siram debu di jalanan juga jadi tugas karyawannya ... Itu adalah pekerjaan yang seharusnya dikerjakan lima atau enam orang, sementara Bapak hanya punya dua karyawan."
"Ah iya, satu lagi. Ehm tolong jam kerjanya dikurangi setidaknya sampai matahari terbenam saja ... mereka juga manusia, jadi butuh istrirahat."
Tidak hanya Sean yang menganga, Rudi juga demikian. Dari mana pria berjas ini mengetahui tentang seluk beluk bengkelnya seakan orang dalam. Rudi menatap Sean penuh tanya, tapi secepat mungkin Sean berusaha agar Rudi tidak semakin curiga.
"Kau bisa membangun bengkel yang lebih besar dari ini gila, aneh sekali hidupmu."
"Ck, diam kau ... kau tahu bagaimana sulitnya aku diterima di sini, bengkel lain menganggapku kriminal semua."
Entah bagaimana cara Sean menjelaskan, mungkin saudaranya ini tidak akan paham bagaimana sulitnya mencari pekerjaan baik-baik sebagai orang yang tidak memiliki kuasa dan juga ijazah. Sebenarnya kesalahan Sean sendiri yang pergi tanpa membawa benda sepenting itu, yang dia pikirkan hanya pergi dari keluarga Megantara kala itu.
"Salahmu sendiri tidak pulang, Sean, padahal security di kantor kurang satu."
__ADS_1
"Siallan, kau mengejekku atau bagaimana."
"Terserah kau saja, ini makan siang ... gajimu simpan saja, lumayan jadi tidak perlu beli makan siang ini."
"Gajiku sangat cukup, Zean," bantal Sean benar-benar ingin memukul ubun-ubun saudaranya saat ini juga.
"120 ribu sehari tidak begitu besar, Sean."
Dia benar-benar sedang bercanda atau bagaimana, Sean tidak ingin berdebat dan khawatir jika nanti identitasnya terbongkar di hadapan Rudi. Kehadiran Zean saja sudah pasti dicurigai. Sejak kemarin-kemarin memang Rudi sudah menyadari dan mengatakan Sean mirip mantan suami Nathalia Velova.
Namun, dengan polosnya Sean menjawab jika mereka hanya mirip wajahnya, tapi tidak dengan nasib. Susah payah Sean meyakinkan Rudi jika dia bukan siapa-siapa, kini Zean datang dengan penampilan mencolok dan menegaskan jika dia memang pria kaya.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1