Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 46 - Hampir Gila


__ADS_3

Setelah pertemuan singkat bersama Mikhail, keduanya sepakat untuk benar-benar menjaga batasan. Sudah syila katakan sejak awal, Zean jangan terlalu berlebihan padanya. Akan tetapi, tetap saja pria itu terlampau santai bahkan kerap memeluk Syila tidak sesuai tempatnya.


Untuk saat ini, keduanya terpaksa menahan kerinduan dan Syila tidak mau asal masuk jika Zean memintanya ke ruangan hanya demi alasan yang tidak jelas. Sudah Syila tekatkan, status istri hanya berlaku ketika mereka di rumah.


Siang ini, syila dipercayakan untuk mendampingi Zean bersama Yuda. Demi memastikan semuanya aman, Mikhail meminta Yudha selalu ada di antara mereka. Bukan karena dia tidak suka Zean bahagia akan tetapi lebih baik menghindari karena dia tahu bagaimana rasanya jika sudah berada di sisi wanita yang dicintai.


"Ya Tuhan, sudah tiga hari tidak tidur dengannya .... Aku bisa gila."


Zean memandangi sang istri yang kini tengah presentasi di hadapan rekan bisnisnya begitu lekat. Otaknya sama sekali tidak bisa diajak kompromi, pria itu menggigit bibirnya demi menghilangkan kegundahan yang sejak kemarin-kemarin menyiksanya.


Bersandiwara seakan semua baik-baik saja lantaran Nathalia mulai curiga sejak dia kembali dari Bandung ternyata benar-benar berat bagi Zean. Pria itu berdecak kesal hingga pria tampan yang tengah fokus memerhatikan Syila mengalihkan pandangan.


"Ada masalah, Zean?'


"Ti-tidak ada.'


Zean menarik napasnya dalam-dalam kemudian dia hela perlahan. Panas sekali jantung Zean kala menyadari Anggara, rekan bisnisnya ini menatap Syila penuh kekaguman.


"Ah, syukurlah."


Dia kembali menatap Syila dengan senyum mengembang dan bertopang dagu seakan penyampaian Syila teramat menarik hingga mengalihkan dunianya. Jika saja tahu begini, lebih baik Zean pecat saja Syila sejak kemarin.


"Cih, apa maksudnya senyum pada istriku?"


Zean terbakar api cemburu, Yudha yang mengerti bosnya tidak baik-baik saja bermaksud baik dengan memberikan air mineral pada Zean. Namun, bukannya diterima Yudha justru terhunus tatapan tajam Zean dalam sekejab mata.


Bencana tidak berhenti di sana, selesai Syila melaksanakan tugasnya, Anggara memberikan tepuk tangan sembari memuji Syila habis-habisan. Tidak hanya soal kemampuan yang dia miliki, melainkan juga kecantikan dan suara merdunya.


"Woah ... aku benar-benar terkejut dengan semua yang ada padamu." Pujian normal sebenarnya, akan tetapi berhasil membuat otak Zean mendidih.


"Terima kasih, Pak."

__ADS_1


Mau tidak mau Syila mengucapkan terima kasih atas pujian itu. Meski, dia paham wajah sang suami sudah merah padam ke arahnya sejak tadi.


"Sama-sama ... Ah Zean, dari mana kau dapatkan bidadari secantik ini?"


"Datang sendiri," jawab Zean singkat, tapi tampaknya Anggara tidak mengerti pria itu marah besar.


"Yang begini cocoknya dijadikan istri, Ze ... bukan sekretaris lagi, huft beruntung saja kau sudah menikah," ucap Anggara terang-terangan dan Yudha hanya bisa mengatupkan bibirnya erat-erat, entah sampai kapan tawanya akan mampu dia tahan.


"Hentikan bualanmu, pertemuan kita cukup sampai di sini, Anggara ... soal kerja sama kita, tunda saja minggu depan. Kau butuh waktu berpikir, 'kan?"


Kali pertama Zean pulang secepat itu, biasanya dia akan sejenak menghabiskan waktu bersama rekan bisnisnya. Akan tetapi, tampaknya hari ini berbeda dan suasana hatinya memang terlampau kacau hingga dia memilih mengakhiri perteuan ini.


Yudha tidak mampu menahan kepergian Zean, dia menundukkan kepala sebagai ungkapan maaf pada Anggara. Sementara Syila yang juga melakukan hal sama, hanya bisa mengikuti langkah Yudha yang tidak kira-kira dalam melangkah.


"Pak ... Pak Yudha tunggu, jangan terlalu cepat."


"Kita harus cepat, Syila ... Pak Zean kalau marah biasanya berulah, tidak lucu kan kalau kita balik ke kantor harus naik taksi," ucap Yudha masih terus berusaha mengejar Zean.


"Auh nyebelin banget sih, kenapa haus ada drama-drama begini."


.


.


Hampir terlambat, dugaan Yudha ternyata benar. Zean hampir saja meninggalkan mereka, pria itu berdecak sebal dan menatap Syila serta Yudha dengan tatapan permusuhan.


"Istriku yang di depan, Yudha!!"


Belum apa-apa sudah dibentak dan hal itu membuat mereka sedikit kesulitan. Syila tidak mungkin menenangkan sang suami di saat begini, dia hanya bisa diam dan berharap tidak ada kecelakaan lalu lintas sebentar lagi.


Hingga tiba di kantor, Zean masih memilih diam dan masuk ke ruangannya begitu saja. Sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata, dia terlanjur marah hanya karena Syila membalas senyum Anggara.

__ADS_1


"Gawat, dia benar-benar marah ... jangan dipikirkan, ini urusanku."


Syila mengangguk, dia tidak ikut masuk ketika Yudha menemui Zean. Khawatir pria itu berulah dan meminta hal macam-macam demi memaafkan kesalahannya. Yah, seburuk itu pikiran Syila saat ini tentang suaminya.


Suasana masih sama mencekam, bahkan dua kali lipat dari sebelumnya. Yudha menatap zean yang kini membuka jasnya sedikit kasar lu melemparkannya ke atas sofa.


"Mau apa? Jangan kemari jika hanya ingin membahas Anggara."


Tanpa menoleh, Zean bicara dan yakin jika yang dibelakangnya adalah Yudha, bukan Nasyila yang sejak tadi dia harapkan akan masuk dan menenangkannya.


"Bukan, pak ... tapi ini soal istri Anda."


"Syila kenapa memangnya?" tanya Zean datar sebelum kemudian duduk di sofa empuknya.


"Maksud saya Nona Nathalia, saya yakin setelah ini ... bonus tahun baru saya pasti ditambah dua kali lipat."


"Nathalia? Kenapa baru sekarang, sillan!! Kau sengaja? Hah?!"


Zean bangkit dan hampir saja mendaratkan pukulan tepat di wajah Yudha. Sudah dia duga asisten pribaeinya ini mengetahui sesuatu dan memilih menundanya.


"Maaf, Pak ... seharusnya tadi pagi, tapi Anda datang terlambat dan siangnya kita harus bertemu pak Anggara."


"Cepat katakan," titah Zean menurunkan itonasinya, sejak tadi menyalak-nyalak memang sedikit membuat Zean tersiksa.


"Dugaan Anda salah."


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1



__ADS_2