Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 117 - S2 - Sangat Sakit


__ADS_3

Mengulang masa lalunya, Mikhail sudah lama tidak berkendara dengan kecepatan tinggi. Dia yang panik tidak peduli dengan kendaraan lain, mungkin ada beberapa di antara mereka yang marah besar akibat cara Mikhail menguasai jalanan.


"Pa bisa cepat sedikit tidak? Nanti melahirkan di mobil gimana?" desak Zean tidak paham keadaan.


Sudah tahu Mikhail berjuang mati-matian menahan sakit perut yang melilit sampai ke pinggangnya. Aneh sekali, padahal yang dia makan juga sama seperti yang Zia makan, tapi entah kenapa sakitnya luar biasa bahkan belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tidak akan, baru juga dua menit kita di jalan."


"Ayolah, Pa ini bukan waktunya untuk berdebat ... tidak lucu kalau sampai benar-benar lahir di mobil."


"Berisik! Perut Papa mules."


"Tunda dulu, Pa ... nanti di rumah sakit bisa."


Meski sebenarnya ingin marah, tapi Mikhail tetap berusaha fokus. Sudah telanjur, jika harus bergantian dengan putranya makan jelas akan semakin lama. Sebenarnya Syila terlihat cukup tenang, hanya rintihan kecil saja. Namun, yang justru membuat Mikhail panik adalah putranya sendiri.


Perjalanan ke rumah sakit benar-benar mampu Mikhail persingkat hanya beberapa menit saja. Satu keluarga besar memang memiliki skill mengemudikan ambulance sepertinya.


Tiba di rumah sakit, ketiganya turun lebih dulu sementara Mikhail justru merasakan sakit di bagian perutnya kian menjadi. Keringat mulai membasah di keningnya, pria itu menggigit bibir seraya menekan perutnya.


Sejenak dia melupakan menantunya, tanpa perlu meminta pasti Syila akan ditolong banyak orang. Saat ini, dia berusaha keluar dan mencari toilet segera, mungkin sejenak akan lega.


Sama sekali tidak terpikirkan akan marah pada Zia yang juga meninggalkannya siang ini. Mikhail bergegas dengan langkah yang dia tahan, khawatir jika terjadi hal yang tidak diinginkan.


Sementara di sisi lain, Zean yang kini dalam keadaan panik mengiring begitu Syila sudah siap dibawa menuju ruangan bersalin. Bersama Febrian yang siap berjuang menyelamatkan bayinya hari ini.


Tidak ada kecemburuan atau hal bodoh yang hinggap dalam diri Zean untuk saat ini. Walau memang sejak awal dia ingin sekali menusuk bola mata Febrian dengan garpu, dalam keadaan darurat istilah cemburu tidak seharusnya Zean terapkan.


Kenapaa bisa? Bukannya minggu depan?" selidik Mikhayla yang tiba-tiba sudah berada di sisi adiknya.


"Mana kutahu, pagi tadi dia belum begitu sumpah."


"Mencurigakan, pasti karena ulahmu, 'kan?" tanya Mikhayla lagi dan dia merasa jika Zean melanggar nasihatnya beberapa hari lalu.

__ADS_1


"Ngaku!!"


"Ck, apa pentingnya pertanyaan semacam itu ... nanti saja, Mikhayla!!"


Mikhayla bertanya di saat yang sangat tepat, Zean tengah dibuat was-was akan masa depan sang istri, Mikhayla justru bertanya hal demikian. Dia sedikit menjauhi Mikhayla dan kini menggenggam tangan Syila, Zean terus melangkah panjang mengikuti kemana arah yang Febrian tuju.


Sama seperti Zean yang tenggelam dalam kekhawatiran, Sean juga demikian hingga tanpa sadar dia ikut masuk dan membuat Febrian bingung mana yang harus diusir.


"Maaf, hanya suaminya yang boleh ikut ... suaminya yang mana?"


Keduanya benar-benar mirip, wajar saja jika Febrian bingung suami Syila yang mana. Terlebih lagi yang tadinya memeluk Syila adalah pria dengan kaos oblong hitam dan celana pendek ini, sementara yang menggunakan kemeja hitam baru mendampingi Syila dari dekat beberapa saat lalu.


"Sean kau? Kenapa ikut masuk?"


"Astaga, maaf ... aku lupa."


Bukan tanpa alasan Sean ikut masuk, sejak tadi Syila memang menggenggam jemarinya. Mungkin sedikit tidak sadar sampai dia menggenggam kedua tangan pria di kedua sisinya.


"Zean, kalau aku tidak bisa bagaimana?" tanya Syila lirih ketika Zean mengecup keningnya berkali-kali.


"Bisa, buatnya bisa ... selebihnya pasti lebih bisa, Sayang."


Manis sekali ucapan Zean, calon bayinya mungkin tersedak ketuban. Febrian yang mendengar saja susah payah menahan tawa dibalik masker yang menutupi wajahnya. Sejak menemani istrinya rutin ke rumah sakit, memang ucapan pria itu teramat membekas di benak siapapun.


"Tapi rasanya beda, sakitnya melebihi malam pertama."


"Hanya sebentar, setelah itu selesai ... ayo, banyak yang menantikan hasil kerja keras kita, Sayang."


Mereka memang pasien paling romantis sepertinya. Dalam keadaan begini, Syila masih berusaha tenang walau tidak dapat dipungkiri memang tetap sakit.


Nikmatnya melahirkan adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan untuk seorang perempuan. Erangan dan rintihan yang terdengar menyayat benak Zean. Istrinya sesulit ini, sementara Mikhail memberikan saran untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya.


Dasar tidak ber-prikeibuan

__ADS_1


Bermandikan keringat dan air mata, perjuangan Syila dalam memberikan kesempurnaan hidup untuk Zean benar-benar luar biasa. Tidak peduli meski rambut Zean mungkin akan segera lepas dari akarnya, sama sekali pria itu tidak protes dan pasrah begitu saja.


"Sedikit lagi, Syila ... jangan berhenti." Berkali-kali Zean membisikkan kalimat itu agar istrinya tidak berhenti.


.


.


Hidup memang selalu tentang perjuangan, jika Syila tengah bertaruh nyawa demi benih yang tumbuh di rahimnya. Kini, Mikhail justru tengah terbaring lemas seakan terkena penyakit kronis.


"Papa makan apa sebelumnya?"


"Ayam bakar sama seperti Mama, sudah Papa katakan bukan salah makan ... Papa sudah ke toilet berkali-kali tapi sakitnya bukan karena itu."


"Terus kenapa kalau bukan salah makan? Masuk angin juga tidak," ucap Mikhayla bingung sendiri dengan kondisi kesehatan papanya.


"Entahlah, intinya mules dan pinggangnya agak sakit," keluh Mikhail juga bingung kenapa dia mendadak begini, padahal tadi pagi dia benar-benar sehat bahkan masih sempat menyiram bunga milik menantunya.


"Mungkin ginjal, Pa," celetuk Sean serius, dia tengah khawtair dan bukan asal bicara.


"Sembarangan!! Kamu berdoa Papa cepat mati, Sean?"


"Astaga, aku serius!!"


"Tapi bisa jadi, Pa ... atau mungkin tulang ekor Papa yang bermasalah," sahut Khayla semakin membuat Mikhail sedikit menyesal memaksa putrinya menjadi dokter, sungguh.


"Ah sudahlah, Papa mau tidur saja ... tolong bangunkan kalau cucuku sudah lahir," ucapnya lama-lama kesal dengan dugaan asal kedua buah hatinya.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2