
Waktu seakan begitu lambat dan hari-hari Zean terasa amat berat selama tiga bulan terakhir. usahanya untuk meminta restu Zulia sama sekali tidak membuahkan hasil. Kondisi wanita itu semakin memburuk, bahkan koma setelah dia meminta maaf untuk kedua kalinya.
Hendak menyalahkan Nyayu juga percuma, Zean memang salah tidak mengantisipasi wanita itu sejak awal. Kondisi Zulia benar-benar membuat Zean merasa bersalah, meski Syila berusaha baik-baik saja di depan Zean tetap saja percuma.
Hari ini, di hadapan hakim, Zean tengah terpejam kala mendengar putusan. Salah satu beban paling beratnya akan selesai beberapa saat lagi, secara hukum ikatan anatara dia dan Nathalia berakhir.
Suasana di ruangan tampak begitu tenang, hanya ada suara majelis hakim yang menelusup masuk ke telinga Zean. Dia dengarkan jelas-jelas, tanpa satupun terlewati. Hingga, pria itu bernapas lega kala ketukan palu yang dia rindukan sejak lama akhirnya terdengar juga.
"Akhirnya."
Zean menghela napas penuh kelegaan, sementara wanita yang duduk tidak jauh darinya kini tengah mengepalkan tangan. Tampak jelas siapa yang menginginkan perceraian ini sebenarnya.
Tatapan Nathalia sejak tadi tertuju ke arahnya, tampak jelas wanita itu membenci kebahagiaan Zean. Sama sekali tidak ada sandiwara, Nathalia merasa benar-benar Zean buang tanpa sisa. Sungguh, dia datang di persidangan ini tanpa memedulikan rasa malu yang membelenggunya.
Untuk kali terakhir, Nathalia ingin menatap wajah Zean. Pria yang telah menghancurkan dirinya dengan segala cara. Karir dan cinta Nathalia hancur dalam waktu singkat dan dia marah lantaran pria itu mengingkari janjinya.
Keduanya keluar dengan perasaan berbeda. Zean seakan bebas dari neraka sementara Nathalia merasakan kian terperosok dalam penjara dengan statusnya saat ini.
"Zean, aku ingin bicara."
"Lepas, Nath ... katakan saja di sini," ucap Zean menepis kasar tangan Nathalia yang lancang menarik pergelangan tangannya.
"Ini yang kamu mau, 'kan?"
"Iya, sejak lama dan terima kasih sudah bersedia menggugatku," ucap Zean datar, karena memang bukan hal mudah untuk membuat wanita itu menyerah.
"Puas kamu? Dasar pembohong!! Aku sudah mengikuti apa maumu, tapi kenapa kamu sekejam itu? Karirku hancur, Badjingan!!"
__ADS_1
Kuasa hukumnya mulai panik kala Nathalia justru menuai keributan, padahal sejak tadi dia sudah berusaha menjaga agar pandangan publik tidak seburuk itu padanya. Akan tetapi tetap saja, kehancuran yang Nathalia rasakan membuat wanita itu tidak bisa menahan diri.
"Kamu yang pengkhianat!! Selama menikah kamu tidak pernah menyentuhku, tapi justru mencari wanita lain!!"
Zean menghela napas panjang, di saat seperti ini Nathalia masih berusaha mencari perkara dengannya. Hendak dia hadapi saat ini, tapi terlalu rumit dan Zean khawatir lantaran hari mulai gelap sementara Syila sendirian di rumah.
"Terlambat, Nathalia!! Keterangan semacam itu tidak lagi ada gunanya, berhenti bersikap seolah tersakiti."
Yudha yang memang memiliki dendam terpendam memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Nathalia. Selama ini selalu Yudha pendam lantaran memandang status Zean, akan tetapi kini tidak lagi.
"Aku tidak bicara denganmu!!"
"O."
Jawaban Yudha terlalu singkat, padat dan berhasil membuat Nathalia memekik hingga dirinya kembali menjadi pusat perhatian.
"Jika aku berakhir, maka kamu juga harus berakhir, Zean," gumam Nathalia menatap tajam kerumunan wartawan yang tengah mengulik informasi dari Zean seorang.
.
.
Di hari persidangan sang suami, Syila hanya bisa menunggu pria itu kembali. Zean hanya miliknya, berdosakah dia bahagia? Rasanya tidak. Syila berulang kali memastikan yang datang adalah suaminya. Namun, dia harus menelan kekecewaan lantaran deru mobil tersebut bukan milik suaminya.
Hembusan angin mulai terlihat tidak biasa, daun kering yang gugur kini beterbangan mengikuti arah angin. Syila khawatir, dia takut jika suaminya justru terjebak kali ini. Tidak lama berselang, hujan yang dia khawatirkan akan megguyur ibu kota benar-benar terjadi.
Entah pertanda buruk apa, yang jelas kini Syila hanya bisa berdiam diri di sofa. Cuaca semakin memburuk, hujan lebat disertai kilatan petir semakin membuat Syila merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Dalam diamnya, dia berharap Zean kembali dengan segera. Hingga, pintunya diketuk beberapa kali dan Syila segera beranjak dari duduknya. Hal yang sedikit aneh, biasanya Zean tidak pernah mengetuk pintu jika pulang.
"Iya sebentar."
Betapa terkejutnya Syila kala mengetahui siapa yang kini berdiri di hadapannya. Tanpa mempersilahkan tamunya masuk, Syila justru hendak menutup pintu dan menyisakan sedikit celah agar dia bisa bicara.
"Sean?"
"Bersiaplah, Zean menunggumu," ucapnya serius tanpa peduli meski Syila tidak mengajaknya masuk.
"Mau kemana? Kenapa dia tidak pulang ke rumah?" tanya Syila khawatir, dia membuka pintu lebar-lebar dan menuntut penjelasan dari Sean segera.
"Nanti kamu tahu sendiri ... cepat, Syila waktu kita tidak banyak."
Syila bergegas mengikuti Sean segera, tidak lagi dia pedulikan pria ini hendak membawanya kemana. Yang jelas, saat ini dia hanya bisa menurut saja. Ini adalah kali kedua Sean datang setelah sempat mengantar Zean pulang beberapa waktu lalu.
Baru beberapa menit berlalu, Sean melemparkan jaket tepat di pangkuan Syila hingga wanita itu menatapnya penuh tanya.
"Pakai."
Sama sekali Syila tidak sadar jika pakaiannya sedikit terbuka. Hendak menolak anjuran Sean, tapi tidak bisa dipungkiri akan lebih berbahaya. Hingga, Syila menerima jaket denim warna hitam yang Sean berikan itu tanpa protes.
Kenapa juga harus aku yang menjemputnya, Zean.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -