
Fakta bahwa Syila adalah menantu kesayangan tidak dapat dibantah. Bukan hanya Zia saja, tapi juga Mikhail. Kemarin tidak diizinkan pergi bersama menantunya, bukan berarti Mikhail tidak punya cara. Keesokan harinya, mereka sudah berada di kediaman Zean pagi-pagi sekali.
Ketulusan Syila membuat Mikhail benar-benar menyayangi menantunya seperti putri kandung. Bahkan, tidak jarang Zean cemburu dengan perlakukan Mikhail pada Syila. Terlebih lagi kelahiran cucunya tinggal menghitung hari, jelas saja Mikhail tidak ingin ketinggalan.
Meski sebenarnya tujuan Mikhail adalah memastikan keadaan menantunya, tetap saja pria itu hanya memantau di teras depan seraya membaca surat kabar. Susu hangat dan biskuit menemani paginya, pemandangan di depan sana memang begitu menenangkan.
Sementara sang istri kini tengah menemani Zulia duduk di depan, mereka justru terlihat seperti ibu dan anak. Sayangnya Mikhail tidak diberikan kesempatan untuk mengenal sosok Prabu, ayah kandung Syila.
Sepertinya nasib Mikhail memang sedikit menyedihkan. Meski dua anaknya sudah menikah, tapi seseorang yang bisa dia sebut besan saat ini hanya Zulia seorang. Selebihnya, Mikhail hanya bisa melihat wajahnya di foto saja.
"Sayang, ini susu apa?"
"Susu Zean, minum saja lah."
Pria itu tidak lagi protes meski sedikit bingung kenapa susunya terlalu manis begini, dia hanya membenarkan kacamata sebelum kemudian kembali fokus membaca berita hangat yang terjadi di negeri tercinta ini. Melihat judul-judulnya, Mikhail berdecak heran dan merasa bingung kenapa dunia semakin kejam.
Seorang pria di Jember menjandakan istri demi janda.
"Ckck, dasar tidak bersyukur."
Viral, ibu muda lecehkan 20 remaja karena suami jarang pulang.
Pria di Depok membunuh istri dan anaknya yang masih SD hanya dem_
"Astagfirullah!! Kemana otaknya orang ini?"
Suaranya heboh sendiri, Zia yang mendengar teriakan Mikhail jelas saja bingung. Sedikit menyesal dia mengikuti kehendak suaminya untuk bertamu sepagi ini jika hanya membuat Zulia jantungan.
"Kenapa sih, Mas? Biasa saja kan bisa?!"
"Kamu harus lihat berita ini, Sayang ... aduh mirisnya, kenapa orang-orang semacam ini hidup di dunia," ucapnya seraya berlari dengan membawa surat kabar ke hadapan istrinya.
"Mana? Astaga!! Ini serius?"
"Hm, miris bukan?"
__ADS_1
"Ini koran kapan sih, Mas?" tanya Zia sedikit bingung karena di televisi dia tidak mendengar berita semacam itu.
"Entahlah, mana tanggal_"
"Nih, ini mah koran tahun kemarin, Mas ... buat apa dibaca lagi astaga," ucap Zia menghela napas panjang, untung saja dirinya cepat sadar jika sama bodohnya seperti sang suami.
"Apa iya?"
"Iya lah, ini koran bekas sepertinya."
Zia yang tadi sudah panik mendadak biasa saja kala mengetahui jika berita mengejutkan itu sudah berlalu sekitar enam bulan lalu, tepatnya pertengahan tahun kemarin.
Mikhail yang salah menduga hanya berdecak sebal dan melempar koran bekas itu ke kotak sampah. Dalam hati dia mengumpat, menyebalkan sekali seseorang yang menata surat kabar itu di atas meja depan.
Kehadiran mertuanya memang membuat Syila merasa lebih aman selama di rumah. Hadirnya Mikhail juga membuat suasana rumahnya lebih hidup, setidaknya tugas menyiram bunga akan selesai di tangan sang mertua jika dia tengah bertamu.
.
.
"Pa!!"
"Sayang!!"
Belum kering bibir Sean, detik berikutnya Zean masuk dengan wajah cemas yang tidak dapat diartikan. Sudah jelas Mikhail terdampar di sofa, tapi Zean justru meniti anak tangga dengan langkah cepatnya.
Mereka yang ada di ruang keluarga jelas bingung bukan kepalang, mereka saling menatap dengan pertanyaan bertebaran dalam benak masing-masing. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Syila? Jika benar demikian, kenapa menantunya itu tetap diam bahkan tidak bersuara apa-apa.
"Ma? Ada apa sebenarnya?"
"Entahlah, Mama juga tid_"
"Sean!! Cepat kemari!!" teriakan Zean terdengar menggema di atas, sontak hal tersebut membuat Sean dan Zia berlari ke atas.
.
__ADS_1
.
"Zean ada apa?"
Sean melangkah masuk, sementara Zia sudah pucat pasi melihat menantunya yang duduk lemas di lantai dengan keringat di sekujur tubuhnya.
"Istriku berdarah, bisa tolong angkat, Sean?"
"Ya Tuhan, Syila!! Kenapa diam saja?" pekik Zia panik hingga membuat hati Zean semakin tak tenang.
"Jangan dibentak, Ma ... dia sudah berusaha menelponku saja sudah cukup," tutur Zean tidak bisa menyalahkan Syila saat ini, bagaimanapun dia berteriak mungkin tidak terdengar oleh Zia yang sibuk menenangkan Mikhail.
Sedikit canggung, tapi ini kali terakhir Syila harus berakhir di tangan Sean lagi. Tatapan keduanya sempat terkunci, kejadian beberapa bulan lalu masih saja menjadi alasan Syila malu di hadapan kakak iparnya.
"Maaf, Syila ini terdesak ... suamimu lemah iman, cuma naffsu saja yang kuat," ucap Sean kemudian sebelum membopong tubuh Syila yang sedikit membuat lututnya bergetar.
"Apa katamu?!!"
"Tidak ada, ayo cepat! Jangan lupakan Papa," ucap Sean turun dan berusaha menahan meski cengkraman Syila cukup menyakitkan punggungnya.
Setibanya di sana, baik Zia maupun Zean lupa apa kata Sean. Mikhail ingin marah sebenarnya, tapi kondisi sang menantu membuat Mikhail berusaha sabar sejenak.
"Kalian bertiga kenapa duduk di situ? Yang pangku Syila itu Zean, kenapa jadi kau?!"
Mikhail yang ketinggalan berita jelas saja bingung melihat apa yang terjadi saat ini. Dimana-mana, suaminya yang memeluk istri ketika hendak melahirkan, bukan kakak iparnya.
"Ah sama saja, Pa!! Cepat jalan," titah Zean meminta Mikhail segera melaju lantaran merasa tidak mungkin mereka berpindah posisi saat ini juga. Terlebih lagi, Syila yang kini terus merintih menahan rasa sakit yang bisa saja merenggut nyawanya dalam waktu sekejab.
"Anak kurang ajar ... berani memerintahku?!"
"Udah cepat, Mas!! Katanya sayang menantu, lihat Syila sudah begini."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -