Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 115 - S2 - Terhalang Restu


__ADS_3

Usai resepsi pernikahannya digelar, status Syila jelas saja berubah. Tidak jarang Syila diminta ke kantor hanya karena Zean enggan makan siang sendirian. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali. Meski sedikit sulit dengan perutnya yang kian membesar, Syila tetap mengikuti kehendak Zean yang kerap seenaknya.


Beberapa orang yang dahulu mungkin merasa iba akibat Syila menjadi sasaran amarah sang presdir setiap harinya, kini hanya bisa berdecak kagum kala melihat Syila yang hendak menuju ruangan Zean. Termasuklah Rona, satu-satunya rekan kerja Syila yang peduli akan penampilan wanita itu lantaran khawatir membuat mata Zean sakit.


"Suami saya ada, Bu Pau?"


"Ada ... silahkan masuk, Anda sudah ditunggu."


Paula yang sejak dulu penasaran dengan sosok wanita yang kerap menemani Zean selama bekerja di layar ponselnya, kini hanya membatin lantaran paham apa alasan bosnya takluk pada wanita itu.


Tiba di ruangannya, Syila justru disambut dengan pemandangan tak biasa yang memperlihatkan Zean tengah menindih tubuh Yudha di sofa. Lebih menyebalkannya lagi, posisi mereka persis pasangan yang tengah memadu kasih.


"Sa-sayang? Kamu sudah datang, kenapa tidak ketuk pintu dulu?" tanya Zean yang ternyata mengundang amarah dan membuat Syila berpikir jika Zean dan Yudha tengah menyembuyikan sesuatu.


"Kalian sedang apa?"


Yudha kembali merapikan kemejanya akibat ulah brutal Zean yang hendak merebut dompetnya. Memang dasar tidak tahu diri, andai saja dia yang diperlakukan semacam itu, jelas saja marah, pikir Yudha.


"Tidak ada, kami sedang pemanasan ... tadi Yudha ingin mengasah kemampuannya," jawab Zean asal dan menarik sang istri untuk bergabung si sisinya.


"Kemampuan apa?"


Rasanya aneh jika Zean mengatakan mereka tengah mengasah kemampuan. Karena di matanya saat ini, Yudha tertekan bahkan tangannya terlihat gemetar entah apa yang dilakukan suaminya pada Yudha.


"Judo, tanya saja padanya kalau tidak percaya."


Judo apanya, sejak kapan judo ada gerakan semacam itu. Yudha mendengkus kesal dan sama sekali tidak dapat pura-pura tenang kali ini, Zean sungguh membuatnya seakan gila. Bagaimana bisa Yudha bisa kuat menghadapi calon ipar menyebalkan seperti Zean.


Hanya karena mimpi tak bermakna tadi malam, Zean tiba-tiba merebut paksa dompet Yudha. Sementara Yudha yang merasa terancam akibat menyimpan foto Lengkara di sana jelas saja melawan.

__ADS_1


"Apa iya, Yud?"


"Tidak, Pak Zean hanya penasaran isi dompetku, padahal dari dulu dia selalu mengatakan bahwa dompet adalah privasi!!" tegas Yudha benar-benar tidak terima lantaran Zean memaksanya hingga lelah seperti tadi.


"Kau menyimpan sesuatu di dompetmu, cepat perlihatkan padaku!! Aku yakin mimpiku tidak salah, buang benda itu, Yudha ... percaya dukun artinya musyrik, ingat itu!!" Zean frustrasi lantaran tidak berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


"Musyrik apanya? Sudah saya katakan tidak punya jimat!!" tegas Yudha untuk terakhir kali.


"Ada!! Aku yakin tidak salah ... cepat perlihatkan, atau gajimu kupotong bulan depan," ancam Zean dengan kekuasaan tak terbantah, tapi kali ini pendirian Yudha lebih mantap dan memilih rela sekalipun gajinya harus dipotong.


"Potong saja, maka saya cuti mulai besok pagi."


"Yudha, kau!!"


Pertarungan mereka hendak berlanjut sebenarnya, tapi Syila secepat mungkin menahan pergelangan tangan Zean hingga pria itu kembali duduk. "Kenapa begitu? Yudha sakit hati bagaimana?"


"Sekalipun iya, kan tidak masalah. Itu haknya, Sayang," tutur Syila lembut demi memberikan penjelasan pada sang suami, dia sendiri bingung sebenarnya kenapa Zean kerap kali tidak jelas hanya karena mimpi buruk yang dia alami.


"Iya tahu, tapi_"


"Stop, ini makan siangnya ... aku mau pergi lagi setelah ini," ucap Syila memotong pembicaraan Zea lantaran khawatir akan semakin memanjang dan Syila tidak mampu menghentikannya nanti.


"Pergi? Kemana lagi?"


"Beli perlengkapan untuk bayi kita, yang kemarin belum lengkap ... masih ada beberapa yang belum aku beli," jelas Syila seraya merapikan rambut Zean yang sedikit acak-acakan.


"Sama siapa?"


"Sama Mama sama Papa juga," jawab Syila berterus terang, memang mertuanya yang menawarkan diri sejak tadi malam, sudah Syila iyakan hingga Zean mengerutkan dahi pada akhirnya.

__ADS_1


"Memangnya Papa kuat keliling? Pinggangnya encok bagaimana? Aku saja, tapi dua jam lagi."


Zean memang terbiasa sesuka hati, tidak hanya di mulut dia bicara melainkan segera menghubungi Mikhail. Belum apa-apa mereka sudah berdebat serius dan sepertinya Zean tidak mau kalau kali ini.


"Tidak, Papa!! Ini adalah tanggung jawabku, Papa tolong diam saja di rumah ... okay!!"


"Yang benar saja, Papa sudah siap loh, Zean."


"Pa, nanti kelelahan, nanti saja kalau anakku lahir Papa boleh ajak jalan-jalan, kalau bawa istriku tidak boleh."


Selain khawatir akan kesehatan sang papa, Zean juga khawatir tentang Syila. Sejak kejadian buruk yang menimpa Syila kala itu, Zean sama sekali tidak mengizinkan Syila berkeliaran tanpa dirinya. Meski Nathan memang sudah mendekam di penjara, tetap saja dia tidak boleh lengah seperti beberapa bulan lalu.


.


.


Jauh dari sisi Zean, saat ini Bastian dibuat bingung dengan Mikhail yang mendadak murung dan wajah sedihnya. Penampilan sudah serapi itu, bisa dipastikan Mikhail tengah kecewa saat ini.


"Jadi Bos?"


"Tidak jadi, Tidak Zean izinkan."


Susah payah dia memilih celana, tapi justru tidak diizinkan begini. Zia yang sudah menduga hal itu akan terjadi hanya terkekeh pelan, sudah dia duga jika Zean tidak akan tinggal diam. Mikhail saja yang pembangkang dan mengatakan tubuhnya kuat sekalipun harus keliling berjam-jam.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2