
Usai menimbulkan segudang tanya di benak kedua adik dan sang mama, di kantor Zean juga melakukan hal yang sama. Pria itu terlihat lebih manusiawi, bahkan ketika seorang karyawan tidak sengaja menginjak kakinya, Zean santai saja.
"Hati-hati, sarapan dulu sana."
Salah satu staff di kantornya beruntung sekali pagi ini. Padahal, biasanya seorang Zean tidak segan membuat karyawannya menangis darah. Jika tidak potong gaji, tentu saja pecat tanpa hormat.
"Maaf, Pak ... say-saya akan bersihkan sepatu Anda."
Zean mundur dan menahan tubuh pria yang hendak berlutut dan membersihkan sepatunya. Jelas saja hal itu membuat yang melihat mereka tengah menerka, kejutan apa yang sebenarnya Zean rencanakan untuk Boby.
"Tidak perlu, lakukan pekerjaanmu dengan baik hari ini."
Tidak ada drama, tidak juga ada mulut pedas yang menekan mental seseorang hingga menangis. Pria itu berlalu usai menepuk pelan pundak Boby, hal yang berhasil membuat Boby mengucap syukur tanpa henti.
Diiringi Yudha di belakangnya, Zean masih betah diam tanpa mengucapkan apa-apa. Paham betul jika saat ini mungkin Yudha tengah menebak-nebak isi otaknya, akan tetapi sama sekali dia tidak peduli.
"Yudha, jadwalku minggu ini bagaimana?"
"Padat sekali, anda menunda banyak pekerjaan kemarin-kemarin."
Zean memejamkan mata, dia sudah tahu resikonya akan seperti ini. Akan tetapi, tidak mengapa selagi alasannya juga jelas. Sama sekali dia tidak merasa buang-buang waktu, apalagi hal itu karena Syila.
Yudha mulai menjelaskan jadwal Zean selama beberapa hari ke depan. Semua tampak biasa saja, tapi Zean baru ingat bahwa dia harus ke luar kota demi mengisi sebuah seminar di salah satu kampus besar di sana.
"Harus aku yang ke Bandung? Apa tidak bisa mereka saja yang datang ke sini?" tanya Zean tanpa menatap ke arah Yudha.
"Ehm sepertinya tidak." Dasar aneh, sejak kapan konsep seminar jadi berubah begitu, pikir Yudha.
"Kalau begitu, sekretarisku saja yang mendampingiku ... kau tetap di kantor."
Yudha sudah menduga, basa-basinya berujung ke sana. memang sebenarnya bukan hal aneh, Syila kerap mendampingi Zean untuk beberapa pekerjaannya. Akan tetapi, tidak sampai ke luar kota begini.
"Biasanya saya, Pak."
"Perusahaan butuh kau, Yudha ... Syila mana mungkin mampu, kau tahu sendiri otaknya bagaimana."
__ADS_1
Yudha mengatupkan bibirnya, lagipula andai Syila tetap dikantor tanggung jawab perusahaan bukan pada wanita itu, dasar Zean saja yang berusaha mencari celah. Pria itu ingin membantah, akan tetapi percuma karena kemauan Zean sudah seperti itu.
"Tapi, apa tidak masalah Syila ikut ke Bandung? Nginep loh, Pak."
"Justru lebih masalah jika kau yang bersamaku ... lagipula lebih hemat, sewa kamar cukup satu," jawabnya santai sebelum meninggalkan Yudha yang masih terdiam membeku kala lift terbuka.
"Tahu, Pak ... tidak perlu dipertegas kalau alasannya karena ingin sekamar."
Baru juga memulai hari, Zean sudah membuatnya tertekan lantaran menyadari jika Syila sudah resmi menjadi milik Zean, tidak ada kesempatan untuknya sama sekali.
.
.
Sementara di sisi lain, Syila yang memang terbiasa datang lebih awal dari Zean sudah duduk manis dimeja kerjanya. Syila memoles wajahnya sedikit berbeda hari ini, entah kenapa setelah menjadi istri Zean dia justru baru terpikir akan ucapan Rona yang sempat mengomentari penampilannya.
"Rasanya tidak berlebihan, aih mataku sedikit berat rasanya," gumam Syila menatap wajahnya di cermin. Dia yang tidak terbiasa memberikan sentuhan bulu mata palsu sebelumnya, jelas saja sedikit tidak nyaman pagi ini. Padahal tidak terlalu kentara, bahkan rekan kerjanya tidak menyadari perubahan Syila.
Untuk siapa dia berdandan seperti ini, apa mungkin tengah menjadi penggoda suaminya sendiri. Entahlah, tapi sekali lagi Syila berpikir tidak ada salahnya dia menjaga penampilan. Ucapan Rona jika Zean marah akibat sakit mata melihat wajahnya adalah salah satu alasan dia sedikit berbeda kali ini.
.
.
"Selama pa_ aawww."
Sapaan yang sangat ramah dari sang presdir. Syila dibuat tidak bisa berkutik kala Zean menghimpit tubuhnya ke tembok usai pintunya tertutup.
"Hai."
Zean menatap kagum wajah sang istri, sebagai pria yang sudah menghapal wajah Syila dalam segala kondisi jelas dia paham ada yang berubah dengan istrinya.
"Cantik, berapa jam dandannya?" tanya Zean sedikit bercanda hingga Syila memerah, selalu saja ada hal yang membuat Syila seakan tidak punya kuasa di hadapan Zean.
Pria itu memajukan wajahnya, menghirup aroma tubuh Syila dalam-dalam. Ceruk leher sang istri adalah bagian favoritnya, memang salah Syila menyemprot parfum di sana pagi tadi.
__ADS_1
"Sudah makan?" tanya Zean usai puas menghirup aroma sang istri, hampir saja dia khilaf memberikan tanda kepemilikan di leher mulus Nasyila.
"Sudah."
"Semalam tidur jam berapa?" tanya Zean menarik istrinya untuk beralih ke sofa, tidak lupa mengunci pintu karena biasanya Yudha yang sangat perhatian itu akan membawakan bubur untuknya setiap pagi.
"Selesai video call langsung tidur," ucap Syila pelan dan merapikan kemejanya, entah kenapa pagi ini tangan Zean tidak bisa diam ketika berada di dekatnya.
Zean hanya mengangguk pelan, pria itu bersandar ke bahunya seraya memijat pangkal hidung. Syila yang terlanjur berpikir Zean panas, segera menempelkan punggung tangannya di kening Zean.
"Kamu kenapa?"
"Ngantuk," jawab Zean lesu dan dia benar-benar menguap setelahnya. Tadi malam, Zean tidak kembali ke kamar dan terus berada diruang kerja sampai subuh.
"Semalam begadang ya?" tanya Syila entah kenapa mendadak nyeri. Apalagi setelah dia mengingat apa yang Zean lakukan semalam ketika bersamanya. Pikiran Syila sudah tertuju ke arah sana, fakta jika pria yang kini ada di sisinya adalah suami orang masih membuat Syila tidak bisa bernapas lega.
"Hm, aku tidak bisa tidur ... mau telpon kamu khawatir ganggu, jadi main game sampai mataku sakit."
"Masa?" tanya Syila memberikan ekspresi tidak percaya.
"Serius, Sayang ... untuk apa aku berbohong."
"Bukan begadang yang lain?"
Pertanyaan macam apa itu, Syila menggigit bibirnya tiba-tiba. Memang dasar bodoh, sekalipun memang begadang untuk alasan itu sah-sah saja, Nathalia istri sahnya. Sungguh, Syila merutuki kebodohannya menanyakan hal semacam itu pada Zean.
"Begadang yang gimana maksudnya?" Jurus pura-pura bodoh, Zean menatap lekat sang istri yang kini tengah menyesali perkataannya.
"Tidak ada, aku salah bicara."
Zean terkekeh melihat reaksi Syila, pria itu sudah paham sejak tadi sebenarnya. Hanya saja, semburat merah di wajah Syila terlalu lucu untuk dia akhiri. "Game, sumpah ... aku tidak macam-macam di belakangmu."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -