
Semudah itu dunia berpihak kepada Nasyila, orang ketiga yang memang Zean inginkan dalam pernikahan. Terkuaknya kebusukan Nathalia jelas membuat Syila akan diterima dengan baik di keluarganya.
Sayangnya, hal itu hanya sebatas mimpi belaka karena detik ini Nasyila tengah meraung di dalam kamar usai mengunjungi Zulia ke rumah sakit. Hal ini membuktikan, bahwa tidak semua mata bisa membenarkan keputusannya.
Mau serapi apapun dia menyimpan rahasia, fakta bahwa Zean adalah suami orang Zulia ketahui juga pada akhirnya. Kekecewaan begitu jelas di mata sang bunda, bahkan ketika Syila hendak memeluknya Zulia berontak dan mengusir putrinya detik itu juga.
"Syila."
Sudah lima belas menit Zean menunggu di depan pintu, membiarkan istrinya yang memilih menangis dalam kesendirian. Zean yang khawatir jelas saja tidak mungkin hanya diam.
"Syila keluar! Atau aku dobrak pintunya," ancam Zean sebagai pilihan terakhir, dia tidak bisa sesabar itu menunggu istrinya tenang.
"Satu ... dua ... dua setengah!!"
Baru saja hendak mundur, Syila membuka pintu, ancaman Zean berhasil. Wajah sembab dan mata sang istri memerah, jelas dia menangis berlebihan hari ini.
Tanpa bertanya, Zean memeluk istrinya begitu erat. Memberikan ketenangan sejenak sekalipun kesedihannya tidak akan berkurang secepat kilat. Dianggap sebagai orang ketiga, bahkan Zulia menyatakan kekecewaannya jelas membuat hati Syila hancur begitu saja.
"Menangislah, sebelum aku memintamu berhenti," tutur Zean sembari mengusap pelan pundak sang istri.
Pergilah, dari awal Mbak memang curiga ... dan ternyata, kamu tidak lebih dari perebut suami orang, Syila.
__ADS_1
Begitu jelas terbayang, ucapan Nyayu ketika mereka bicara empat mata. Syila yang awalnya ingin marah lantaran Nyayu menjelaskan siapa Zean pada ibunya, berakhir menerima cacian Nyayu yang memang begitu membenci orang ketiga dalam pernikahan.
Hina, seakan tidak punya harga diri sampai menggoda milik orang lain ... aku tidak tahu kenapa kamu jadi semurah ini, padahal dulu om Prabu mendidik kamu susah payah, Nasyila.
Hendak membantah, tapi Syila tetap sulit membela diri di saat posisinya memang salah. Sekalipun dia katakan bahwa tidak menggoda Zean, tetap saja Nyayu mencercanya bahkan menganggap Syila pelakor paling sukses di abad ini lantaran berhasil membuat rumah tangga Nathalia dan Zean hancur dalam waktu singkat. Hingga, Zean hadir dan menghentikan Nyayu yang terus bicara.
Lima menit berlalu, dada Zean bahkan basah karena tetesan air matanya. Giginya bergemulutuk dan kebencian akan sosok Nyayu sebagai penyebab utama kekacauan ini muncul begitu saja.
"Berhenti, waktumu sudah habis, Syila."
Bukannya berhenti, tangisannya kian menjadi dan Zean memejamkan mata kali ini. Jika saja mulut wanita itu bisa dijaga, dan tidak menjadi pemicu api kian membesar maka istrinya tidak akan seperti ini.
Napasnya bahkan sesak, Zean menghapus air mata Nasyila berkali-kali. Kali pertama dia melihat betapa lemahnya Syila akibat penolakan sang ibu. "Ibu membenciku."
"Tidak, ibu hanya butuh waktu ... jangan dipikirkan, nanti aku yang akan bicara," ucapnya lembut, dia berusaha meyakinkan sang istri meski pada nyatanya mereka berdua sama-sama mendapat penolakan dari Zulia.
Terlalu lama menangis, membuat tubuhnya mendadak lemas. Awalnya, Zean pikir istrinya tidur. Namun, jika sudah selemas ini beda cerita. "Syila?"
Panik, khawatir dan ketakutan berpadu dalam diri Zean. Tanpa pikir panjang, Zean membawa Syila ke rumah sakit terdekat. Zean melaju dengan kecepatan tinggi, hal itu adalah akibat dari terlalu khawatir.
Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah sakit tujuan. Kebetulan suasana hampir larut, jadi tidak terlalu ramai. Syila mendapat penanganan segera, kehadiran mereka disambut seorang dokter yang terlihat begitu muda yang tengah bingung menatap Zean.
__ADS_1
"Siapa?"
"Periksa dulu, itu tugasmu," ucap Zean yang saat ini masih belum bisa bernapas lega jika belum mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya.
Mendengar jawaban dari Zean, wanita itu menepis rasa penasaran yang sejak tadi hinggap dalam benaknya. Begitu serius dia melakukan tugas, memeriksa dengan teliti wanita yang kini tampak pucat pasi.
"Gimana? Dia sakit apa?" tanya Zean penasaran dan menuntut penjelasan segera.
"Kita perlu bicara, Zean."
"Kak ayolah!! Atau aku ganti dokter saja," kesal Zean tidak bisa menahan kesabaran lebih lama kala Mikhayla, sang kakak mengajaknya bicara empat mata.
"Mau tahu hasilnya tidak? Tidak mungkin aku jelaskan di sini."
Dasar pemaksa, sudah jelas Mikhayla tidak hanya akan membahas penyakit Syila, tapi juga hal lainnya. Sorot mata sang kakak sangat muda terbaca, tapi Zean tidak punya pilihan lain saat ini.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1