Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 70 - Sama Liciknya


__ADS_3

"Kau memang pemberani, Sean ... tapi sayang, kedatanganmu ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa."


Nathan bergerak cepat, tangannya meraih senjata api yang sempat terlempar akibat serangan Sean beberapa saat lalu. Dalam hitungan detik, dia akan menarik pelatuk dan bisa dipastikan kepala Sean yang menjadi sasarannya.


"Ada pesan terakhir, Sean? Setidaknya saudaramu itu bisa melihat pengorbananmu untuk terakhir kalinya."


Mendengar ucapan Nathan, Sean hanya tertawa sumbang. Sama sekali tidak ada ketakukan yang dia perlihatkan, sekalipun takdirnya akan berakhir malam ini.


"Yakin sekali kau bisa membunuhku, lakukanlah ... aku penasaran, apa kau sudah mampu menarik pelatuknya dengan sempurna?"


Dalam hal memancing kemarahan, Sean tidak perlu diragukan lagi. Keadaan terancam tidak membuatnya gentar untuk mengejek kemampuan Nathan. Merasa diragukan, Nathan benar-benar gelap mata hingga dia menarik pelatuk tersebut tanpa aba-aba.


Sialnya, peluru pertama terbuang sia dan Sean mampu menghindar segera. Nathan yang geram dan merasa dipermainkan mencoba untuk kedua kalinya, hampir kena tapi tidak berefek apa-apa. Hingga, ketika percobaan ketiga senjata yang dia gunakan menyisakan angin belaka.


"Benar dugaanku, kemampuanmu masih kurang mumpuni, Nathan."


Merasa dirinya benar-benar terhina, Nathan kembali menghajar Sean dengan cara yang berbeda. Keduanya kembali bergulat hingga sama-sama lelah, tapi belum juga berhenti sampai ketika Halim dan beberapa penjaga menghampiri mereka.


"Nathan hentikan, biar jadi urusan Papa."


Kehadiran Halim yang kini turut serta untuk membantu putranya membuat Nathan menghempas tubuh Sean begitu kasarnya. Terlalu nekat memang, Sean terjebak keadaan dan Halim yang tengah dikuasai amarah jelas saja tidak tinggal diam.


"Atas perintah siapa kau datang kemari? Papamu yang serakah itu?"


"Ada baiknya Anda berkaca, tua bangka."


Tidak ada rasa takut dalam diri Sean, mendengar respon Sean sontak Halim dapat menyimpulkan siapa yang ada di hadapannya. Tanpa pikir panjang, dia meminta para penjaga untuk meringkus Sean.

__ADS_1


Sejak dahulu Halim ketahui, betapa Mikhail menyayangi keluarganya. Maka dengan menawan Sean, bukan tidak mungkin Mikhail akan mengembalikan perusahaannya.


"Bawa dia."


Tiga orang yang meringkusnya terlalu kuat untuk Sean yang hampir kehilangan tenaga, meski berusaha berontak tetap percuma. Tanpa terduga, langkah mereka justru terhenti kala pasukan berseragam lengkap dengan senjata mengepung mereka dari segala penjuru.


Nathan berpikir ini jebakan, tapi Sean justru bingung dengan kehadiran mereka yang datang walau dirinya hampir kehilangan tenaga. Mata sean menatap fokus ke depan, sosok yang dia rindukan sejak kemarin tampak berada di antara mereka.


"Om Babas?"


"Kau menjebak kami? Apa maksudmu dengan mendatangkan mereka semua?"


Halim mendadak pucat, dia bergetar kala menyadari mereka terkepung pasukan bersenjata tersebut. Pria itu menatap Sean penuh tanya, tatapan tajam Halim menegaskan jika Sean benar-benar mencari masalah dengannya.


"Licik kalian? Dia yang seharusnya kalian tangkap!! Lihat, pria itu menyusup masuk dan menyerang putraku ... cepat, kalian kenapa kalian diam?!!"


Bastian menuntun Sean untuk dapat berjalan dengan baik. Namun, Sean menepis tangan Bastian dan memilih berjalan mendahuluinya.


Di depan pintu masuk, Keyvan sudah menyambutnya dan membukakan mobil. Ketiga pria itu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Setelah berhasil mendesak polisi agar bergerak cepat begitu mendapatkan petunjuk, kini mereka menjemput pangeran yang rela babak belur tanpa tahu resiko yang akan dia dapatkan.


"Masuklah."


"Aku bisa pulang send_"


"Masuk, Sean!! Jangan pembangkang, kau tahu bagaimana paniknya kami malam ini?"


Dia belum selesai bicara, Keyvan tidak mampu menahan amarah lantaran tindakan Sean memang sangat salah. Sudah dia katakan sejak awal, Sean hanya perlu menjaga diri dan keluarganya dari serangan, bukan justru melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Van sudah, jangan dibentak kasihan."


Wajah Sean yang babak belur, membuat hati Keny tecubit hingga merasa tidak tega kala Keyvan membentak pria itu. Walau jujur saja memang menyebalkan, akan tetapi Keny khawatir jika diperlakukan dengan cara kasar, Sean akan lebih gila dari ini.


"Diam, Ken, kau tidak tahu seberapa keras kepalanya Sean," ujar Keyvan kala Sean sudah duduk manis di sisinya.


"Dia sudah dewasa, Van, bukan anak SMP lagi."


"Jangan dibela, Ken ... ngelunjak nanti," bisik Justin sebelum melajukan mobilnya.


"Saat ini tidak ada salahnya, Just, kau lihat wajahnya lebam semua persis ubi rambat, kan kasihan."


"Hahah benar juga, mereka bertengkar berapa lama sampai begitu," balas Justin pelan sekali, dia bahkan menyalakan musik demi bisa menghangatkan suasana yang suram ini.


"Kau tertawa? Astaga, dimana letak lucunya?"


"Kalimatmu yang lucu bodoh."


"Kalian bisa diam? Berhenti bicara atau turunkan aku di sini." Sean mendengkus kasar lantaran risih dibicarakan tepat di depannya, bingung sendiri kenapa pertemanan mereka lebih berisik dari kaum hawa.


"Benar-benar duplikat kakak iparnya." Sudah mendapat teguran secara langsung, tetap saja Keny lanjut membicarakan Sean.


.


.


- To be Continue -

__ADS_1


__ADS_2