Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 104 - Sangat Manis


__ADS_3

Meski dia tidak baik-baik saja pasca baku hantam bersama Nathan, bukan berarti Zean bisa bermanja-manja bersama sang istri. Masih ada Zulia yang harus Syila rawat, pagi ini dia mengalah dan memantau sang istri yang menemani Zulia berjemur di bawah cahaya matahari.


Sementara dia, jelas tidak bisa hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Khawatir jika sang istri justru hanya fokus memandangi Sean yang kini memperbaiki mobil di halaman rumahnya, dia ikut mencari kesibukan yang menurutnya lebih bermanfaat.


Tidak lain dan tidak bukan, jelas saja menyiram bunga. Bentuk baktinya pada seorang Zulia, dia hanya ingin mertuanya merasa bersyukur setiap hari memiliki seorang menantu seperti dia.


Sama sekali Zean tidak pernah melakukan hal semacam ini di rumahnya, semua bunga yang Zia tanam tidak lebih dari rumput liar di mata Zean. Semua ini dia lakukan demi cari muka, dan memastikan mata istrinya tidak tergoda tentu saja.


Jujur saja Zean tidak bisa memahami apa keinginannya, hati pria itu seakan berontak tiada henti hingga menganggap Sean benar-benar ancaman. Padahal, sejak lama Sean katakan tidak perlu khawatir dan Syila hanya sebatas adik ipar di matanya.


"Lucu ya, Bu ... mereka manis aslinya."


"Jadi mereka terpisah lama, empat tahun sebelum suamiku menikah, kini mereka sama-sama lagi."


Seakan mengerti jika Zulia tengah bertanya, Syila menjelaskan tanpa diminta. Wanita itu tersenyum tipis seraya memandangi dua pria yang tengah memperlihatkan jika saudara kembar memang tidak begitu sama.


"Syila jadi pengen, kalau punya versi kecilnya pasti menyenangkan."


Mereka yang saling melindungi dan ada di setiap saat membuat Syila berpikir nasihat Mikhail memang benar. Melihat keduanya yang sudah dewasa dan masih kerap bertengkar adalah hal yang tidak mungkin Syila lewatkan begitu saja.


Bagaimanapun interaksi mereka, di mata Syila sangat romantis. Bukan berarti dia juga suka Sean, tapi hubungan mereka yang membuat Syila merasakan kehangatan.


Padahal, segala sesuatu memang tidak seindah bayangan. Romantis di mata Syila, tapi yang terjadi tidak demikian. Zean kembali mengundang kemarahan dengan sengaja menyiram tubuh Sean layaknya tanaman tanpa sedikitpun merasa bersalah.


"Basah!!" teriak Sean tidak terima ketika menyadari bajunya menjadi korban tidak jelasnya suasana hati Zean.


"Tidak sengaja, aku mau siram anggrek ibu," jawabnya santai dan melewati Sean begitu saja.

__ADS_1


"Tidak sengaja kepalamu!! Kau bisa lewat sana, lagipula bisa kenapa harus disiram dari jarak sejauh itu."


Zean dulu memang sangat menyayanginya, bahkan dia tidak terima seseorang menganggaonya bodoh. Akan tetapi, entah kenapa ketika dia dewasa, lebih tepatnya setelah Syila hamil Zean tidak bisa dia kendalikan lagi.


Bukan hanya karena cemburu dan marah ketika sengaja digoda, melainkan setiap saat dan dia memang selalu mencari cara agar Sean naik darah. Mungkinkah ini pengaruh dari kehamilan istrinya seperti kata Mikhayla? Ah rasanya tidak mungkin. Bagi Sean itu aneh dan tidak ada hubungannya sama sekali.


"Sean jangan emosian, ingat kata Papa ... marah itu adalah sebagian sifat iblis."


Lihat siapa yang bicara, padahal dirinya juga tidak berbeda. Bahkan, saksi yang bisa menjelaskan betapa banyak dosa Zean akibat mulut pedas dan emosinya yang tidak karu-karuan itu mungkin sudah lebih dari satu kelurahan.


"Terserah kau saja, Zean, jika aku sebagian dari sifat iblis lalu kau apa?!!"


Jika saja tidak ada Syila dan Zulia di sana, mungkin Sean akan melempar kepala saudaranya ini dengan batu bata. Namun, akal Sean masih waras hingga dia berpikir seribu kali walau batinnya semakin tersiksa karena sifat Zean yang kian menjadi-jadi.


"Aku? Hm ... kalau kata istriku malaikat."


"Sean, kau punya rencana tinggal di sini berapa tahun lagi sebenarnya?" tanya Zean tidak pada makna yang sebenarnya, padahal belum juga tiga hari Sean di sini. Itupun dia lakukan lantaran khawatir Nathan kembali menyerang dengan membawa orang lain.


"Kau mengusirku?"


"Tidak, bukan begitu ... kalau memang ingin lama, bengkel pak Rudi kita beli saja supaya nanti pindah ke depan sana."


Saran terburuk yang pernah Sean dengar, otak pebisnis mana yang menyarankan membangun bengkel di tempat sesunyi ini. Motor yang lalu lalang bahkan bisa dihitung, begitupun dengan mobilnya. Itu pun bukan pengguna jalan umum, melainkan penghuni yang tinggal di lingkungan sekitar ini.


"Tidak, aku tidak bercita-cita akan lama di sini ... bahaya, nanti istrimu salah peluk lagi," jawabnya sengaja menyinggung masalah kemarin.


"Hampir, belum sampai dipeluk."

__ADS_1


Beruntung saja dia sudah mengetahui hal itu dari Syila lebih dulu, Zean tidak terbawa emosi walau niat Sean sebenarnya ingin membuat Zean naik darah.


"Karena aku menolak, kalau sampai aku terima bagaimana? Bayangkan, Zean bayangankan!!"


"Terserah, Syila salah sangka karena gelap ... jika terang begini jelas dia bisa membedakan dengan mudah."


"Apa hubungannya?" Sean mengerutkan dahi, baginya tidak ada perbedaan sekalipun gelap ataupun terang.


"Ya jelas ada, dia tidak bisa melihat dengan jelas jadi warna kulit kita jadi terlihat sama."


"Kau menghinaku?" tanya Sean tak terima dengan Zean yang selalu menganggap warna kulit sebagai alat untuk menyerangnya.


"Tidak, memang faktanya begitu."


"Luarnya saja, ingin lihat bagian dalamku? Mari kita buktikan jika aku lebih bening darimu."


"Siallan, kau mau apa, keparat?" tanya Zean panik lantaran Sean hendak membuka ritsleting celananya.


"Aku ingin kau membuka matamu, Zean." Kesal saja dari dahulu Zean kerap menyentil warna kulitnya, padahal tidak jauh berbeda sebenarnya.


"Sean cukup, ada istri dan mertuaku di sana, gila!!"


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2