Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 54 - Harus Adil


__ADS_3

Satu minggu mereka bertukar peran, semua berlangsung sangat amat baik. Sean tidak hanya berhasil membuat Nathalia menangis dengan sikap dingin tak terduganya, melainkan Yudha juga. Dia yang memang tidak betah di perusahaan, kerap kali membuat Yudha mengurut dada karena harus membangunkan Sean setiap beberapa jam sekali.


Awalnya Yudha kira mungkin efek bulan madu, akan tetapi sudah satu minggu berlalu dan hobi tidur bosnya justru melekat. Melihat kejadian ini, Yudha sontak berpikir apa mungkin sekretaris yang baru ini terlalu monoton dan dewasa hingga Zean ngantuk setiap saat.


Sementara di sisi lain, Syila mengajak Zean pulang lantaran khawatir dengan kondisi Zulia. Sebagai wanita normal yang masih menggunakan akal sehat dan dia tidak tahu apa-apa tentang sandiwara sang suami, jelas saja khawatir rekan kerjanya akan curiga.


Minggu sore, mereka terbang ke ibu kota. Setelah memastikan sang istri baik-baik saja, Zean tidak ingin menunda kepulangannya. Apalagi, Nasyila yang mulai tidak nyaman di sana. "Kita naik taksi tidak masalah ya," tutur Zean lembut kala mereka keluar bandara.


"Tumben bukan Yudha." Kening Syila berkerut, biasanya asisten serbaguna itu selalu ada untuk Zean dengan alasan apapun.


"Dia ada kerjaan."


Tujuan kali ini sedikit berbeda, Zean sudah menyiapkan hunian baru dan tentu tidak akan drama bocor lagi ketika hujan. Sebagai wanita biasa, Syila tentu saja dibuat terpana dengan apa yang terlihat jelas di depan matanya.


Sama sekali tidak ada kecurigaaan dalam diri Syila malam itu, semua terasa sempurna. Meski keduanya belum bisa mnejalani kehidupan normal sebagai pasangan suami istri di luar sana, Syila sama sekali tidak masalah.


.


.


Namun, keesokan paginya dia merasa Zean sedikit berbeda. Pria itu bangun lebih siang dari yang seharusnya, dia berpikir mungkin saja Zean lupa jika pagi ini harus ke kantor. Jika hanya terlambat dalam hitungan menit tidak masalah, tapi kali ini Zean sudah hampir satu jam.


Perlahan Syila menepuk pipi sang suami, mau tidak mau mereka harus melakukan rutinitas seperti biasa. Syila sendiri sudah begitu rapi, bahkan sentuhan make-up tipis semakin mempertegas kecantikannya.


"Zean ... bangun, sudah siang."


Khawatir suaminya sakit kepala, Syila membangunkannya dengan begitu halus. Akan tetapi, entah kenapa pagi ini Zean seolah tengah mati suri. Syila sudah membisikkan untaian kata manis demi membuat Zean terbangun, sayangnya usaha Syila hanya membuat Zean berdecak karena merasa tidurnya terganggu.

__ADS_1


"Sayang kerja!!"


Kesabarannya mulai menipis, suara Syila naik satu oktaf dan memang berhasil membuat Zean membuka mata. Namun, sejenak kemudian hal itu menjadi bencana lantaran Zean justru menariknya dalam pelukan.


"Bisa bentak ya sekarang."


Zean tertawa sumbang seraya menghujani sang istri dengan kecupan. Sebenarnya sejak kali pertama Syila mencoba, Zean sudah terbangun. Namun, dia hanya ingin melihat sesabar apa sang istri. Nyatanya, kesabaran Syila tidak jauh berbeda dari Zia. Lembut diawal, bertahan paling lama sepuluh menit pada akhirnya menyerah juga.


"Stop ... bajuku berantakan," tolak Syila lantaran tangan Zean mulai tidak bisa diajak kompromi, memang benar-benar sesigap itu jika berurusan dengan tubuhnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Zean dengan suara seraknya, suara yang kerap kali membuat Syila berdesir sejak pertama menjadi istrinya.


"Kerja," jawab Syila santai sembari mengancingkan kemeja akibat ulah Zean beberapa saat lalu.


"Masa berlakumu sudah habis Syila ... sekretaris baruku sudah kerja dari satu minggu lalu," ucap Zean enteng sekali, tanpa berpikir bagaimana kesalnya sang istri kala mengetahui dia dipecat tanpa alasan.


Sebagai seseorang yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun, jelas saja dia merasa hal semacam ini tidak adil. Wanita itu menatap Zean kesal hingga menepis tangan sang suami yang masih melingkar di pingangnya.


"Iya kupecat."


Mudah sekali dia bicara, padahal untuk menjadi seorang sekretaris Zean bukanlah hal mudah dan begitu banyak yang Syila korbankan demi bisa berada di posisi itu. Sayangnya, kontrak kerja Syila terputus begitu saja.


"Salahku dimana?"


"Tidak ada, saat ini kamu sudah jadi tanggung jawabku ... tidak perlu bekerja, aku bisa menghidupimu, Syila."


Bukan masalah itu, Zean begitu mudah mengambil sebuah keputusan. Sekalipun memang benar tidak dizinkan bekerja, tidak seharusnya mengambil keputusan sendiri, pikir Syila.

__ADS_1


Hendak marah, tapi percuma karena tidak ada gunanya. Beruntung saja Syila kehilangan pekerjaan ketika sudah menjadi istri Zean, jika saja belum mungkin dia akan menjual organ dalamnya demi pengobatan sang ibu.


"Jangan marah, aku hanya khawatir kamu kelelahan ... cukup diam di rumah dan lakukan tugasmu sebagai istriku, lagipula kamu tahu sendiri pernikahan kita harus terjaga sebelum aku resmi bercerai."


Alasannya logis sekali, Syila menerima jawaban Zean dan berpikir jika memang begitu adanya. Padahal, alasan sesungguhnya dia memecat Syila jelas saja karena khawatir saudara kembarnya berbuat ulah. Yah, sebesar apapun kepercayaan Zean pada Sean, jika sudah tentang Syila dia tetap warus waspada. Terlebih lagi, pria itu terang-terangan mengatakan jika Syila adalah wanita idamannya.


"Terus kamu gimana? Hampir jam sembilan."


"Kerja nanti, jam sepuluh aku berangkat."


Zean tidak suka bagian ini sebenarnya, entah Sean sungguh-sngguh atau memang hanya ingin membuat dia merasakan kerasnya kehidupan. Pria itu meminta Zean menggantikannya di bengkel lantaran Sean mencintai pekerjaan itu dan khawatir dipecat karena terlalu lama tidak masuk.


Padahal, Zean mampu mendirikan bengkel yang jauh lebih besar dibandingkan tempat Sean bekerja. Akan tetapi, pria itu menolak dengan seribu alasan. Zean hanya berpikir apa mungkin dia mampu bertahan di tempat semacam itu, melelahkan sudah pasti.


"Nanti pulangnya jam berapa?"


"Entahlah, aku tidak bisa janji, Sayang," jawab Zean pelan, dia sudah memikirkan ini dan memang kata Sean jam pulangnya tidak pasti, tapi biasanya malam hari.


"Apa kamu harus pulang ke rumah Nathalia?"


"Bu-bukan, jangan salah paham, Syila ... aku kerja sumpah." Entah sejak kapan Zean selalu khawatir Syila sakit sedikit saja jika dia memihak Nathalia. "Aku harus kerja keras, Sayang ... demi kamu, aku rela sekalipun harus bertukar dengan tukang selingkuh itu."


.


.


- To be Continue -

__ADS_1



__ADS_2