Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 103 - Ingin Seperti Pria Lain


__ADS_3

Seseorang yang mencintai kita dengan ketulusan, tidak akan menjadikan kita bahan perbandingan.


Sebuah kalimat yang dulunya Zean gunakan untuk menyemangati Sean yang kerap murung perkara pencapaian di sekolahnya. Secepat itu keadaan berubah, semua berbalik dan kini justru Zean yang butuh kalimat semacam itu.


Mereka sarapan bersama saat ini, Syila memantau kedua pria dewasa ini tanpa berkedip. Khawatir jika mereka bertengkar usai Zean mengetahui apa yang terjadi semalam, tapi sepertinya tidak begitu karena sejak tadi keduanya terlihat baik-baik saja.


"Gajimu bagaimana?"


"Naik, jadi 150 ribu ... itupun karena aku berhasil dapat nomor teleponnya Mba Riris," jawab Sean santai dan membuat Syila merasa dia kehilangan berita.


Keduanya membahas sesuatu yang tampaknya serius hingga melibatkan asisten rumah tangganya, Riris. Entah apa yang telah mereka lakukan di belakang Syila hingga hal semacam ini bisa terjadi.


"Pak Rudi serius?"


"Iya serius, tapi kata pak Rudi ditolak ... Riris marah-marah, bahkan sampai diblokir."


Sean membocorkan lara sang bos yang saat ini memutuskan liburan ke labuan bajo akibat kecewa ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.


"Kasihan, Riris sepertinya perlu aku nasihati. Kenapa dia begitu? Bukankah pak Rudi cukup kaya?"


Zean mengerutkan dahi, rasanya seorang Rudi cukup mudah menaklukan seseorang. Lantas kenapa Riris justru enggan, pikirnya kemudian.


"Aku juga tidak mengerti, padahal sewaktu aku minta nomor teleponnya ... Riris dengan senang hati memberikannya padaku, setelah dihubungi pak Rudi malah menolak, aneh, 'kan?".


Pembicaraan mereka makin serius, keduanya bahkan terlihat sama sekali tidak ada masalah. Meski semalam hampir mati, tapi Zean benar-benar lupa itu hingga membuat Syila bingung sendiri.


"Astaga, itu karena dia salah sangka!! Mungkin, Mba Riris mengira kau yang meminta nomor teleponnya, maka dari itu ketika dia sadar bukan kau yang menghubunginya, jelas saja dia marah."

__ADS_1


"Apa iya begitu?"


Sean mengerutkan dahi, dia merasa tindakannya tidak salah. Akan tetapi, jika dia ingat-ingat lagi, tadi malam Riris sedikit menghindarinya bahkan tidak menyapa seperti biasa. Tampaknya, Sean telah membuat sepotong hati wanita tulus itu berharap padanya.


"Hm, kau tidak sadar sudah memberikan harapan padanya? Kau tahu, Riris itu janda sudah delapan tahun ... dia tidak bisa melupakan suaminya yang meninggal di perantauan."


Zean sejenak membuat Sean merasa bersalah, apalagi sebelum dia berhasil mendapatkan nomornya, Sean merayu dengan kata-kata manis andalannya.


"Jadi ketika hatinya sudah dibuat berharap pada laki-laki dan kecewa dia jadi marah," tambah Zean kemudian, dia merasa tindakan Sean tidak benar, terkhusus bagi mental Riris.


"Maaf, aku benar-benar tidak tahu kisahnya begitu ... kupikir dengan dikenalkan bersama pak Rudi mereka bisa cocok, Zean. Menyesal aku sampai merayunya kemarin kalau tahu begini," sesal Sean bahkan merasa naffsu makannya mendadak hilang.


"Apa? Merayunya?"


"Hm, bukankah cara meminta nomor telepon wanita memang harus begitu?" tanya Sean sama sekali tidak merasa bersalah, tanpa dia sadari jika kini meraka tengah menjadi pusat perhatian Syila.


"Ays, Sean kau memang belum berubah ya ... kalau hatinya terluka bagaimana?"


"Menurutmu? Setidaknya minta maaf. Ingat kata Papa, Sean ... jangan pernah mempermaikan wanita, karena suatu saat nanti kau akan punya istri dan anak perempuan."


"Aku tidak mempermainkan dia, jangan sejauh itu pikiranmu," kesal Sean tidak terima lantaran Zean justru semakin membuat masalahnya jadi rumit.


Sepanjang pembicaraan mereka, Syila hanya menyimak dan tidak berani ikut campur. Selain karena belum terlalu dekat pada Sean, dia juga tidak mengerti permasalahan yang benar bagaimana. Tapi setahu dia, Riris murung karena anaknya sedang sakit.


.


.

__ADS_1


Siang ini, tidak ada rencana Zean pergi keluar. Obat dan vitamin Syila bahkan diantar oleh Mikhayla, lukanya Zean kembali menjadi pusat perhatian. Hanya saja, untuk yang kali ini Mikhail tidak boleh tahu lantaran khawatir terlalu dia pikirkan.


Sama sekali Zean tidak terganggu dengan kehadiran Mikhayla dan Sean yang duduk manis menonton televisi di sana. Mungkin sama-sama menjadikan kediaman Zean sebagai tempat istirahat.


Pria itu tetap bersikap manis bahkan tidak ragu berbicara dengan bayi dalam kandungan sang istri. Jangan ditanya perasaan Syila bagaimana, jelas saja sedikit malu.


"Sayang, kamu kenapa tidak seperti ibu-ibu hamil yang lain?"


"Maksudnya?"


"Kandunganmu sudah empat bulan, kenapa belum ngidam sama sekali? Bahkan seperti tidak punya keinginan, apa sengaja kamu tutup-tutupi?"


Pertanyaan Zean adalah pertanyaan dia juga. Wanita itu tampak berpikir keras dan dia juga butuh jawaban itu secepatnya. Mikhayla yang penasaran dengan pembicaraan pasangan baru itu sengaja mengecilkan volume televisi demi menguping pembicaraan Zean.


"Ehm, memang tidak, mungkin belum ya."


"Aneh, sesekali aku juga ingin seperti calon Papa yang lain, sepertinya menyenangkan."


Mikhayla mencebik mendengar ucapan adiknya, seakan paling mampu mengabulkan semua yang Syila mau andai nanti benar-benar terjadi. Sementara Sean sedikit sebal mendengar pembicaraan mereka hingga merampas remote televisi dari tangan Mikhayla tanpa aba-aba.


"Ck, ngomong apa susahnya?!"


"Ribet!! Telingaku sakit, Mikhayla," balas Sean yang kini kembali menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Kalian berdua kenapa? Aneh sekali."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2