Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 120 - S2 - Dia Sudah Besar


__ADS_3

Dugaan Zean dan Lengkara tentang Hudzaifah sedikit berlebihan. Sebenarnya wajar saja jika dia merasakan hal demikian, hanya saja yang terjadi justru berbeda saat ini. Langkah kecilnya mendekati Sean yang kini masih berada di atas tempat tidur, sejak pagi pria itu belum beranjak lantaran tubuhnya kurang fit.


"Astaga, Bi!! Dia naik tangga sendiri?" tanya Sean yang kini tengah mengumpulkan nyawa karena memang terkejut dengan kehadiran keponakannya secara tiba-tiba.


Sean yang menyadari kehadiran Rida di depan pintu segera memastikan bagaimana bisa dia naik ke lantai dua. Khawatir saja jika benar-benar naik sendiri, bisa dipastikan Mikhail jantungan nantinya.


"Tidak, Tuan ... hampir naik sendiri, tapi saya yang gendong ke atas."


Napas Sean sejenak lebih lega, dia berdecak sebal seraya menatap keponakannya yang kini terus mendekat. Sejak awal Hudzai datang memang Sean sama sekali belum menyapanya, hanya sebentar bermain bersama Ameera dan juga Lengkara. Mungkin dia hanya merindukan keberadaan pria yang serupa dengan papanya.


"Ini susunya, Tuan ... masih banyak, sepertinya tuan kecil belum kenyang."


"Terima kasih, Bi."


Jika anak itu sudah masuk ke dalam kamarnya, maka bisa dipastikan Sean tidak mungkin bisa tidur lagi. Meski demikian, Sean tetap enggan beranjak dari pembaringan dan memilih memantau kegiatan anak Zean dari kejauhan.


Mata sean yang memerah dia paksa tetap terjaga demi memastikan semua benda-benda berharganya aman. Celotehan tanpa henti yang sebenarnya tidak terlalu Sean pahami terdengar merdu mengalahkan suara musik di kamarnya.


"Dia sudah besar ternyata," gumam Sean sembari memandangi bagaimana bentuk kamarnya saat ini.


Kamar yang dulunya hanya didominasi warna hitam dan minim barang, bahkan pajangan saja tidak punya kini seakan berubah menjadi kamar bayi. Hal ini terjadi akibat Mikhail kerap kali ikut masuk ke kamar Sean dengan membawa serta mainannya lantaran Hudzai lebih nyaman berada di kamar Sean.


Tentang alasannya Sean sendiri tidak tahu, dia bukan seseorang yang sangat pandai menjaga bayi. Jika tidak akibat Hudzai menangis, maka Sean akan membiarkan anak itu bermain dengan bebas tanpa mengusiknya.


Selagi tidak membahayakan dirinya sendiri, bagi Sean tidak mengapa. Lagipula anak sekecil itu wajar saja bertindak semaunya. Contohnya saja hari ini, belum selesai lamunan Sean dia kembali dibuat tergelitik degan tingkah keponakannya.


"Lihat seberapa lama dia berusaha."


Wajah Hudzai yang memerah kala berusaha mengangkat dumbbell di hadapannya membuat Sean tertawa. Tidak ada yang tidak lucu di mata Sean, dia yang biasanya sulit tertawa seketika berbeda jika sudah berada di dekat anak ini.


"Hudzai, kenapa?" tanya Sean masih dengan gelak tawa yang sejak tadi tidak bisa berhenti.


"Yat ... Yat, Om Yat aaaaaaaah."


Dia berteriak seakan mengungkapkan penderitaannya, tapi hingga detik ini Hudzai sama sekali tidak berhenti memperjuangkan benda itu. Walau sebenarnya mustahil anak sekecil itu mampu megangkat beban seberat 5 Kg.

__ADS_1


"Berat?" tanya Sean kini menghampirinya, walau sudah memerah usaha Hudzai tidak berhenti di situ saja.


"Masih berat?"


Hudzai tersenyum lebar kala Sean membantunya mengangkat beban ini. Jelas merasa berhasil dan dia tengah membanggkan diri. Sungguh, Sean benar-benar tidak mampu menampik pesona putra Zean. Mungkin karena sejak dalam kandungan sudah direpotkan hingga ketika dia balita, Sean merasa anak ini benar-benar pelipur laranya.


"Sudah ya? Latihannya cukup dulu hari ini ... nanti otot Om kalah dong."


.


.


Tanpa protes ataupun menangis ketika Sean menyingkirkan alat itu, Hudzai beralih ke tempat tidur Sean dan berbaring layaknya seseorang yang baru saja melakukan pekerjaan berat.


"Mau minum?"


Tentu saja, setelah melakukan olahraga berat semacam tadi dia butuh nutrisi. Hudzai menerima susu yang diberikan Sean dengan senang hati. Melihat Hudzai minum dengan begitu nikmat, mendadak Sean ikut haus juga.


"Hudzai, boleh om minta susunya?"


Dia yang tengah lupa diri, tampaknya tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Hingga baru saja hendak merasakannya, teriakan Zean membuat pria itu berhenti seketika.


"Papa!!" teriak putranya yang kembali turun dari tempat tidur dan belari ke arah Zean begitu cepatnya.


"Sial, mereka tidak melihat apa yang aku lakukan, 'kan?"


Sean merasakan malu menjalar di sekujur tubuhnya kala menyadari kedua saudaranya kini berdiri dengan mata yang sama besar. Masih dengan gaya sok cool, Sean menatap keduanya dengan tatapan tak suka lantaran masuk tanpa sopan santun itu.


"Sean kau gila?!!"


"Bisa sopan sedikit? Ketuk pintunya, bicara baik-baik atau apa," kesal Sean berkacak pinggang masih dengan dot yang kini berada di tangan kanannya.


"Apa yang kau lakukan barusan?"


"Hm apa, Kak? Ngaku!!" desak Lengkara ikut memanaskan suasana lantaran memiliki kecurigaan yang sama pada Sean.

__ADS_1


"Apa memangnya? Hudzai masuk dan aku menemaninya bermain sebentar ... hal itu sudah biasa, apa masalahnya?" tanya Sean dengan dahi yang berkerut seakan hidupnya penuh dengan masalah.


"Dasar keparat!! Kau mau apakan susunya? Minum? Itu ASI bodoh!!" sentak Zean menghela napas kasar.


"What?!"


Kini, keadaan berbalik dan mata Sean yang seakan hendak keluar. Sungguh, sama sekali niatnya tidak begitu. Namun, tubuhnya yang memang kurang fit dan ikut haus ketika melihat Hudzai minum adalah alasannya. Mata pria itu sontak membola seraya menatap susu yang kini sisa setengah.


"Sudah berapa kali, Sean?"


"Tidak pernah sumpah!! Yang kali ini juga belum sempat kuminum, percayalah."


"Mencurigakan," ucap Zean yang tampaknya benar-benar salah paham.


Sean mengusap wajahnya kasar dan menghampiri Zean cepat-cepat. "Demi Tuhan, setetes pun tidak aku minum ... aku tidak sadar, Zean maaf. Kalau kau tidak percaya tanya saja pada Hudzai," ucap Sean panik dan baru kali ini dia khawatir Zean kubur hidup-hidup.


"Benar begitu, Sayang?" tanya Zean yang kemudian mendapat anggukan dari putranya, entah sebenarnya mengangguk mengerti atau asal saja.


"Percaya, 'kan?"


Tidak ingin memperpanjang masalah, Zean memilih berlalu meninggalkan Sean. Lagipula tidak mungkin pria itu kurang akal, pikir Zean.


"Halah, Kak mana mungkin Hud_ hmmmpp!!"


"Diam, Kara ... atau mau kutambal pakai karet mulutmu ini hah?"


.


.


- To Be Continue -


Beberapa menit sebelum kejadian :


__ADS_1


__ADS_2