
Tidak ada kata yang lebih pantas untuk Zean sandang, kecuali sempurna. Syila mendampinginya sebagai pembicara pagi ini, setelah drama menyebalkan di kamar hotel Syila kembali menatap sang suami begitu berbeda. Dia adalah Zean yang berwibawa, tampan, mapan dan sukses tentu saja.
Pria itu adalah suaminya, akan tetapi saat ini satu gedung hanya mengetahui pria tampan yang berjarak beberapa meter dari Syila adalah suami Nathalia, aktris papan atas yang kabarnya akan segera membintangi sebuah darma bersama aktor papan atas yang sama terkenalnya, Nicholas.
Dia pintar sekali, wawasannya luas serta latar belakang pendidikan yang memang bergengsi jelas sangat pantas menjadi pasangan dari seorang Nathalia. Sementara dirinya, hanya wanita biasa yang jika dibandingkan dengan Nathalia mungkin pantas disebut dayangnya.
Semakin serius bahasan Zean sebagai pembicara, semakin jauh pikiran Syila berlabuh. Dia hanya mampu tersenyum getir kala seorang mahasiswi tingkat akhir bertanya pada Zean, pertanyaan menyebalkan yang pada akhirnya membahas value diri seorang perempuan agar memiliki pendamping hidup seperti Zean.
"Woah, pertanyaannya sedikit menyimpang dari tema kita ya teman-teman ... tapi tidak masalah, saya akan menjawabnya pertanyaan dari siapa tadi namanya?"
"Indari, Kak."
Begitulah cara Zean berinteraksi dengan para audiens. pria itu memang berbeda, dia mampu menempatkan diri sebagaimana mestinya.
"Ehm, sederhana saja sebenarnya ... jadilah wanita yang bisa menghargai pasangan, buat pasangan kalian jatuh cinta dengan apa yang ada dalam diri kalian, tidak hanya bicara soal fisik, tapi juga nuraninya.
Jawaban pertama sontak mendapat sorak kegembiraan dari kaum hawa yang tidak mengira Zean mau menjawab pertanyaan semacam itu. Belum lagi, dia yang menampilkan senyum di sela pembicaraannya membuat hati mereka porak-poranda bahkan seperti ingin nekat lari ke depan dan minta dilamar sebagai istri kedua.
"Masih ada lagi ... jadilah wanita yang memiliki prinsip. Jangan pernah mau diinjak laki-laki, tapi jangan pula lupa cara menghargai," lanjut Zean yang kemudian kembali mendapat tepuk tangan dari para peserta yang sebentar lagi akan merasakan pahitnya dunia luar.
"Kakak sudah menemukannya?"
Pertanyaan kedua Indari sontak membuat wanita itu mendapat teriakan seketika. Bisa-bisanya dia bertanya sedemikian rupa padahal sudah jelas Nathalia Velova adalah istri dari seorang Zean Andreatama.
__ADS_1
"Hahaha, ada-ada saja pertanyaanmu ... Hm yeah, aku sudah menemukannya. Wanita bernilai tinggi dan membuatku jatuh cinta dengan apa yang dia miliki, istriku sangat hebat dalam segala hal dan aku dibuat jatuh cinta setiap detiknya," jawab Zean memecah keheningan dan lagi-lagi seminar motivasi ini membuat para mahasiswi mendadak ingin mendapat pendamping hidup sesegera mungkin.
"Cih, dasar tukang bohong ... ngaku ke mereka cinta setiap detik, tapi padaku ngakunya bermasalah sejak awal."
Syila tidak henti-hentinya menatap ke arah Zean. Wanita itu terdiam seraya terus berpikir, kenapa bisa Zean sepandai itu menata kata, sementara kehidupannya berbanding terbaik dari apa yang dia bicarakan.
Selang beberapa lama, seminar dengan nuansa berbeda hari ini usai juga. Tentu saja selesai dari sana, beberapa dari mereka masih ada yang meminta foto sekaligus tanda tangan Zean. Syila sebal sendiri, dia benar-benar ingin marah mendengar jeritan para mahasiswi itu.
"Baru juga bahas value diri, tapi ganjennya tetep."
Syila mencebik bahkan tidak menjawab kala mereka mengucapkan terima kasih lantaran Syila sudah bersedia menjadi Photographer dadakan. Jika saja statusnya sebagai istri Zean bukanlah rahasia, sudah sejak tadi dia usir mereka dari sisi suaminya.
"Mbak, tolong sekali lagi do_"
"Maaf, kami harus kembali ... mohon pengertiannya," jawab Zean segera berlalu mengajak Syila ke mobil yang tersedia di depan gedung tersebut.
"Jalan, Pak."
Zean tetap menahan diri, pria di depan adalah orang asing, bukan Yudha. Tentu saja dia tidak bisa membujuk Syila sekarang, untuk sementara dia biarkan sang istri menikmati diamnya. Walau jujur saja Zean sudah berdegub tak karuan, dia bingung sang istri marah karena dia yang terlalu ramah atau lainnya.
.
.
__ADS_1
Tiba di hotel juga sama, Syila kembali diam dan Zean mengekor di belakangnya. Sesaat, Syila lupa jika dia masih berperan sebagai sekretaris, bukan istri. Zean yang sebal diperlakukan sedemikian rupa sontak berdehem dan membuat Syila menoleh segera.
"Sejak kapan bos jalan di belakang begini?"
Syila menghela napas pelan, dia menunduk sebagai ungkapan kata maaf dan mengubah posisinya di belakang Zean. Entah kenapa dia sampai melupakan hal ini.
"Di sampingku," titah Zean tak terbantakkan, tapi untuk kali ini Syila menolak perintah Zean.
"Sekretaris memang di belakang," ucap syila tanpa menatap Zean yang kini mengerutkan dahi karena kesal dengan tingkahnya.
"Yang namanya istri di samping, cepat maju," titah Zean tanpa sedikitpun khawatir ada yang mendengar ucapan mereka. Beruntung saja tempat ini sepi dan rasanya tidak akan ada yang menyadari ucapan Zean barusan.
"Ribet banget, tinggal jalan juga ... dasar anak Mama."
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Zean yang menyadarai jika sang istri bergumam amat pelan bahkan terdengar sedikit berbisik.
"Ti-tidak ada."
"Jangan meremehkan anak Mama kalau tidak mau kubuat menangis lagi nanti malam," ucap Zean yang membuat Syila mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Indera pendengarannya tajam ternyata."
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -