
Musibah yang menimpa Zean dan Yudha sebagai akibat dari kejahatan Halim seketika membuat redup kabar perceraiannya. Semudah itu publik berpaling, nama Halim yang awalnya begitu diagung-agungkan kini mendadak hina bahkan tidak sedikit yang menganggap pria itu sebagai monster.
Nathan yang baru saja pulang terpaksa menemani sang Papa di balik jeruji besi nantinya. Pagi ini suasana di kediaman Mikhail diawali dengan berita penting terkait kebangkrutan dan kasus kriminal Halim.
Sesekali dia menatap anak-anaknya bergantian. Pria itu seakan kembali ke masa lalu, masa dimana Sean dan Zean masih remaja. Lengkap sekali, ditambah lagi satu wanita cantik yang duduk di sisi Zean membuat suasana sarapan pagi ini semakin hangat saja.
"Sean, kau mau kemana?"
Di antara mereka, hanya Sean yang terlihat hendak punya rencana. Pria itu sudah mandi, sementara anaknya yang lain msih setia dengan baju tidur dan wajah ngantuk mereka masing-masing.
"Bengkel, Pa."
Mikhail tersedak, susu hangat yang dia minum bahkan keluar dari hidung. Sontak hal itu membuat Sean menepuk pundak sang papa, padahal nada bicara Sean tidak tinggi. Akan tetapi, kenapa dia justru terkejut begitu.
Tidak hanya Mikhail yang terkejut, Zia dan kedua adiknya juga sama. Mereka membeliak, dan menatap Sean penuh tanya.
"Bengkel? Untuk apa? Mobilmu rusak?"
"Balik kerja, Pa ... aku sudah tidak masuk satu minggu, bisa dipecat sama pak Rudi."
Mikhail menatapnya datar seketika, pria itu seakan tidak percaya dengan ucapan putranya. Sean belum sempat cerita, dia hanya mengatakan jika selama ini menjadi karyawan biasa di sebuah tempat. Namun, sama sekali Mikhail tidak menduga jika yang dimaksud adalah sebuah bengkel.
"Ta-tapi wajahmu masih belum sembuh, Sean ... besok-besok saja."
Sejak dahulu Mikhail sangat egois perkara masa depan putranya. Akan tetapi, untuk saat ini tampaknya berbeda dan Mikhail sama sekali tidak protes kenapa Sean bekerja di sana.
"Mendingan, Pa. Aku lelah cuma diam di kamar."
__ADS_1
Wajar saja dia sedikit hitam begitu, tangannya juga tampak kasar dan Mikhail merasakan bagaimana keras kehidupan putranya. Jika sudah berhadapan dengan posisi ini, Mikhail kembali merasa bersalah.
Tidak ada yang bisa dia lakukan selain membebaskan. Sejak awal berhasil membujuk Sean, pria itu sudah berjanji untuk tidak mencampuri kehidupan pribadinya.
"Serius, Kak?"
"Hm, sejak kapan aku berbohong, Ameera."
Ameera hanya mengangguk pelan pertanda dia mnegerti maksud Sean. Khawatir jika Sean akan marah seperti Zean semalam, mereka berdua menjaga mulutnya meski sangat ingin sekali membahas perubahan kulit Sean.
"Zean bagaimana? Apa sudah lebih baik?"
Tidak ingin salah satunya cemburu, Mikhail juga memastikan putranya yang satu itu. Terlebih lagi, keduanya sama-sama terluka dan memang keadaan Zean lebih mengkhawatirkan. Dia takut otak putranya bermasalah setelah kecelakaan itu.
"Sedikit lebih baik, tapi masih sakit, Pa."
"Ah tidak perlu, Pa, aku hanya belum bisa melakukan banyak hal."
Syila yang mendengar ucapan Zean hanya memaki sang suami dalam hati. Di hadapan Mikhail dia terlihat selemah itu, padahal nyatanya apapun bisa Zean lakukan jika sedang bersamanya.
"Baiklah istirahat saja di rumah kalau begitu."
Pandangan ketiga saudaranya sama, mereka membuang pandangan dalam waktu bersamaan. Ingin mengejek, tapi khawatir Zean melemparkan gelas ke arah mereka. Terpaksa, mereka menahan lidah masing-masing meski ingin sekali mengeluarkan isi hati.
Sebenarnya rencana Zean pagi ini tidak hanya akan berdiam diri di dalam kamar seperti yang dipikirkan saudaranya. Kabar baik terkait Yudha yang sadarkan diri membuatnya akan segera ke rumah sakit.
"Saat ini utamakan kesehatan kalian berdua, jangan terlalu memaksakan diri ... paham kalian?"
__ADS_1
Meski lidahnya gatal ingin melakukan yang sebaliknya untuk sang papa, Zean berusaha menjaga karena saat ini sedang serius dan tidak mungkn dia kacaukan suasana hati mikhail.
.
.
Usai sarapan, Ameera sempat mencuri kesempatan untuk dapat bicara bersama Syila. Kemarahan Zean pada adik-adiknya berlangsung serius, dia bahkan tidak menjawab ketika Lengkara minta uang jajan tambahan untuk pergi pagi ini.
Syila yang melihat adik iparnya begitu tulus, mana mungkin setega itu. Lagipula, Syila sama sekali tidak marah dan menganggap hal itu sebagai hal biasa, entah kenapa Zean justru berbeda.
"Masih marah ya? Mereka masih kecil, jangan terlalu dianggap serius."
"Kecil? Kecil dari mana? Lengkara dan Ameera 21 tahun bulan depan, mereka sudah bisa buat anak, Syila."
Jawabannya terdengar sangat indah masuk di telinga, Syila sampai tidak bisa berkata-kata usai Zean menjawabnya. Pria ini memang keras kepala, jika dia enggan maka tidak seorangpun bisa membujuknya.
"Jangan terlalu mudah memaafkan, kalau kamu hanya diam maka mereka tidak akan bersikap sopan ... aku tidak suka mereka menganggap hubungan kita selucu itu, sesekali mereka butuh pelajaran."
Syila tidak lagi menjawab, dia kembali memoles wajahnya dengan riasan tipis. Zean tidak melarangnya, pria itu menghargai apapun yang Syila lakukan dengan dirinya. Bukan berarti dia rela kecantikan Syila dilihat orang lain, akan tetapi dia paham jika istrinya tengah berusaha menjadi istri yang baik secara sempurna.
"Gimana?"
"Cantik, tapi sepatunya jangan itu ... ganti," titah Zean begitu sadar dengan sepatu Syila. Tidak terlalu tinggi, tapi bagi Zean lebih baik diganti mengingat istrinya tengah hamil.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -