Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 118 - S2 - Tangisan Pertama


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Syila melewati semua ini, yang jelas alam bawah sadarnya mengatakan sudah sangat lama. Dia hampir menyerah, semua ucapan yang Nyayu lontarkan kala itu terbayang amat nyata. Terlebih lagi, kemarahan Zulia, hanya saja semua itu seakan musnah kala Zean memohon untuk tidak berhenti setelahnya.


Hingga, secercah cahaya kehidupan benar-benar tampak jelas di mata Syila kala tangisan dari makhluk mungil itu menembus indera pendengarannya. Dia tidak salah dengar, suara itu benar-benar milik buah cintanya bersama Zean.


Mata Syila yang sendu masih mampu melihat dengan jelas bagaimana anak sekecil itu benar-benar nyata di depan matanya. Beberapa saat kemudian, tangisan Zean ikut memecah suasana hingga tangis bayi itu tergantikan.


"Dok? Kenapa dia berhenti?" tanya Zean panik kala menyadari buah hatinya mendadak diam.


Dokter yang menangani hanya berharap Zean tenang sedikit saja. Beruntung, tidak lama setelahnya, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu kembali menangis layaknya bayi baru lahir.


"Syukurlah, kaget ya, Sayang?"


Mungkin, karena tangisan Zean cukup memekakan telinga. Dia terharu, beberapa detik lalu dia terancam akan kehilangan Syila, jelas saja ketika bayi itu menangis dia turut menangis juga.


Zean kembali merengkuh tubuh lemas istrinya, drama semacam ini mungkin tidak akan terjadi lagi. Kecuali, Zean berubah pikiran dan menginginkan buah hati lebih dari satu.


"Kamu berhasil, bidadariku ... hidup kita akan benar-benar sempurna setelah ini."


Setelah drama cukup panjang, keduanya berhasil di puncak kebahagiaan. Nyawa buah hatinya hampir terenggut Nathan, tapi itu hanya sebagai ujian Zean dalam mencintai istrinya.


Bukan hanya Zean yang diselimuti kebahagiaan lahir batin hari ini, keluarganya juga sama. Mikhail yang sebelumnya tidur, kini terbangun dan sontak turun dari pembaringan kala mendengar kabar baik dari Mikhayla.


"Benarkah? Papa telat tidak, Khay?"


"Tidak, Pa ... ayo cepat."


Menurut Mikhayla dia tidak telat, tapi jika Mikhail lihat dia sangat terlambat karena di ruangan hanya ada dia sendiri. Tentu istri dan putranya telah lebih dulu menemui cucunya.


"Memang dasar perut sialan, kenapa juga harus sakit seperti tadinya."


Dia mengumpat seraya mengekor di belakang Mikhayla. Apa yang dia alami saat ini sedikit membuat Mikhail kembali ke masa lalu. Masa dimana dia yang ketinggalan informasi sewaktu Zia melahirkan putrinya bahkan hampir terlambat mengazani Mikhayla.


.


.


Sama sekali tidak menyangka Zean bisa berada di titik ini. Berawal dari keputusan Zean yang menyeret orang ketiga dalam pernikahannya, kini dia bisa merasakan lidah yang terasa amat berat ketika mengumandangkan azan untuk putranya.


Bukan karena Zean tidak bisa, hanya saja saat ini tubuhnya saja seakan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri tanpa disertai kaki yang turut bergetar. Semua hanya karena sang pewaris yang Tuhan hadirkan di hadapannya.


"Ya, Tuhan dia menggemaskan, Sean lihat aku punya bayi."


Dia pamer? Anggap saja begitu, mungkin memiliki seorang anak adalah harapan Zean sejak lama. Sejak pernikahan pertamanya, hanya saja memang hanya Syila yang Tuhan takdirkan sebagai malaikat untuk buah hatinya.


"Sean lihat."


"Iya aku lihat."


Sejak tadi dia berucap, tapi Sean hanya mengangguk pelan, jelas saja Zean tidak bisa mengerti jika memang sudah Sean tanggapi. Sebenarnya Sean sedikit kaku berada di sini, terlebih lagi jika dia bertatap muka dengan Syila yang tampak malu padanya.


"Aku melihat diriku di matanya," ucap Zean seakan tengah melayang di awang-awang.


"Sama," sahut Sean asal dan lupa jika kalimat semacam itu bisa memutus tali persaudaraan.


"Maksudmu?" Zean mengerutkan dahi lantaran ucapan Sean sedikit ambigu sebenarnya.

__ADS_1


"Bukankah papa selalu mengatakan kita berdua sama, jika kau melihat dirimu di mata putramu maka aku juga ada di sana ... iya, 'kan?" Sean menautkan kedua alisnya seolah sengaja mencari keributan.


"Siallan, kontribusimu apa memangnya?"


"Oh banyak, bukankah aku yang paling berjasa membuat jalanmu mulus-mulus saja? Ngidam Syila dan lainnya, terakhir istrimu hendak melahirkan juga tetap aku yang turun tangan."


Mata Zean membola kala mendengar ucapan panjang lebar Sean, sungguh pria ini perhitungan yang pantas masuk jahanam. Sama sekali tidak dia duga jika Sean akan mengungkit semua jasanya.


"Kau tidak ikhlas?"


"Bukannya begitu, aku han_"


"Cucuku mana?"


Belum selesai Sean bicara, suara Mikhail terdengar menggema. Tidak ada tujuan lain kecuali buah hati Zean. Matanya yang memerah akibat tertidur beberapa saat kini berbinar kala menghampiri cucunya.


"Laki-laki, Zean?" tanya Mikhail yang kini menatap lekat wajah mungil cucunya, bayi itu terlalu menggemaskan. Ukurannya bahkan hampir sama dengan lengan Mikhail, tepatnya dia yang terlalu besar.


"Iya, Pa ... laki-laki."


"Satunya?" tanya Mikhail lagi, dia mengharapkan memiliki sepasang cucu kembar sejak lama.


"Satunya?"


"Iya satunya apa? Laki-laki juga? Atau perempuan? Papa mau lihat, Zean."


Tampaknya dia memang tidak mengetahui, selama ini Zean tidak mengatakan hasil pemeriksaan bagaimana. Mikhail hanya menunggu cucunya lahir ke dunia, itu saja.


"Ada, ari-arinya maksud papa?" tanya Zean sontak membuat Sean terbahak, dia yang sulit tertawa mendadak kehilangan kendali usai mendengar ucapan saudara kembarnya.


"Hahaha putraku lahir sendiri, Pa ... maaf jika papa kecewa."


Mikhail mendadak mengatupkan bibirnya, dia menatap Syila yang kini terdiam bersama Zia. Khawatir jika menantunya tersinggung Mikhail sontak meluruskan dugaan orang-orang ini.


"Kecewa? Mana mungkin Papa kecewa, cuma tanya saja ... wah sendiri ya? Cucu Opa maunya jadi putra tunggal dulu ya, nanti jadi teman Opa lari pagi ya."


Memiliki buah hati yang cukup banyak, membuat Mikhail benar-benar terlatih dihari tua. Dia bahkan mampu mneggendong bayi baru lahir itu tanpa sedikitpun rasa takut seperti Zean.


"Zean, sudah berapa jam dia lahir?"


"Hm mungkin empat jam yang lalu, kenapa, Pa?"


"Kenapa Papa tidak dibangunkan? Sean juga diam saja," omel Mikhail menatap Sean murka.


"Katanya Papa sakit perut, salahku dimana?"


"Tapi sudah sembuh sekarang," jawab Mikhail tidak mau kalah, menurutnya tetap saja mereka yang salah karena sejak awal sudah berpesan sebegitu jelasnya.


"Kenapa selalu aku yang kena? Itu anak Zean, harusnya marah ke Zean bukan aku."


.


.


- To be Continue -

__ADS_1


Hai, buat yang belum mampir ke pendahulunya silahkan dikunjungi jika berkenan ya.


Kanaya - Ibrahim (Belenggu Cinta Pria Bayaran)



Blurb :


Bosan dengan pertanyaan "Kapan nikah?" dan tuntutan keluarga perihal pasangan hidup lantaran usianya kian dewasa, Kanaya rela membayar seorang pria untuk dikenalkan sebagai kekasihnya di hari perkawinan Khaira. Salahnya, Kanaya sebodoh itu dan tidak mencaritahu lebih dulu siapa pria yang ia sewa. Terjebak dalam permainan yang ia ciptakan sendiri, hancur dan justru terikat salam hal yang sejak dahulu ia hindari.


"Lupakan, tidak akan terjadi apa-apa ... toh kita cuma melakukannya sekali bukan?" Sorot tajam menatap getir pria yang kini duduk di tepi ranjang.


"Baiklah jika itu maumu, anggap saja ini bagian dari pekerjaanku ... tapi perlu kau ingat, Naya, jika sampai kau hamil bisa dipastikan itu anakku." Senyum tipis itu terbit, seakan tak ada beban dan hal segenting itu bukan masalah.


Mikhail - Zia (Gairah Cinta Sang Presdir)



Blurb :


Dikhianati sang kekasih dan melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dia cintai tengah bercinta dengan pria yang tak lain sahabatnya sendiri membuat Mikhail Abercio merasa gagal menjadi laki-laki. Sakit, dendam dan kekacauan dalam batinnya membuat pribadi Mikhail Abercio berubah 180 derajat bahkan sang Mama sudah angkat tangan.


Hingga, semua berubah ketika takdir mempertemukannya dengan gadis belia yang merupakan mahasiswi magang di kantornya. Valenzia Arthaneda, gadis cantik yang baru merasakan sakitnya menjadi dewasa tak punya pilihan lain ketika Mikhail menuntutnya ganti rugi hanya karena hal sepele.


"1 Miliar atau tidur denganku? Kau punya waktu dua hari untuk berpikir." -Mikhail Abercio


Syakil - Amara (My Possessive Billionaire)



Blurb :


Menjadi pengantin tanpa mempelai, Syakil Agha Mahendra menelan pil pahit di hari pernikahannya. Sakit, malu dan bingung menjadi satu kala calon istrinya menghilang tanpa kata beberapa saat sebelum akad.


Sejak hari itu, Syakil memandang dunia begitu berbeda. Tidak ada kehangatan dalam dirinya, yang ada hanya kerja, kerja dan kerja. Sibuk meniti karir dan mengepakkan sayap di dunia bisnis hingga dirinya berhasil menjadi miliarder ternama di usia muda.


Tanpa terduga, takdir justru mempertemukannya dengan seorang gadis yang begitu mirip dengan kekasihnya. Pertemuan yang merupakan awal muculnya obsesi Syakil untuk mendapatkan kembali wanita itu.


"Lepaskan!! Aku bukan wanita yang kamu maksud!!" - Amara Nairy


"Sampai mati kau adalah milikku, jangan coba-coba pergi jika ingin hidupmu baik-baik saja." - Syakil Agha Mahendra.


Mikhayla - Evan (Tawanan Cinta Pria Dewasa)



Blurb :


Menjadi penyebab utama kecelakaan maut hingga menewaskan seorang wanita, Mikhayla Qianzy terpaksa menelan pil pahit di usia muda. Tidak pernah dia duga pesta ulang tahun malam itu adalah akhir dari hidup manja seorang putri Mikhail Abercio.


Keyvan Wilantara, seorang pria dewasa yang baru merasakan manisnya pernikahan tidak terima kala takdir merenggut istrinya secara paksa. Mengetahui jika pelaku yang menyebabkan istrinya tewas adalah seorang wanita, Keyvan menuntut pertanggungjawaban dengan cara yang berbeda.


"Bawa wanita itu padaku, dia telah menghilangkan nyawa istriku ... akan kubuat dia kehilangan masa depannya." - Keyvan Wilantara.


...****************...

__ADS_1


Buat yang klik profile aku, aku nggak saranin baca novel lama😆 Gausah ya, karena hancur banget.


__ADS_2