Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 72 - Jauh Dari Harapan


__ADS_3

Zia juga pernah muda, tentu saja memaklumi apa yang dilakukan putranya. Akan tetapi, bagi Syila hal itu sungguh memalukan, bahkan dia tidak memiliki keberanian untuk menatap mertuanya saat ini. Lebih memalukan lagi, Kakak iparnya juga mengetahui hal itu hingga Mikhayla mengejek Zean habis-habisan.


“Adikmu sudah boleh pulang, Khay?”


“Boleh, kemarin-kemarin aku khawatir otaknya bergeser, tapi ternyata baik-baik saja … lama-lama di sini bahaya, Ma. Fasilitas rumah sakit bisa rusak karena Zean,” ucapnya santai sekali, sementara Syila yang kini merasakan malu sampai ubun-ubun hanya bisa pura-pura tidak mendengar ucapan kakak iparnya.


“Maksudnya?”


Zean mengerutkan dahi dan melayangkan tatapan tajam ke arah Mikhayla, sadar dirinya tengah menjadi bahan candaan sang kakak, dia melakukan pembelaan segera.


“Dengar ya, apa yang kalian lihat tadi tidak seperti yang dipikirkan.”


“Ah masa? Kalau memang tidak, kenapa Mama sampai lari?”


Memang benar-benar cari masalah, Zean menghela napas kasar. Mendadak nafssu makannya hilang. Bukan hanya karena makanan orang sakit itu bukan selera Zean, tapi semua ucapan yang terlontar dari mulut manis seorang Mikhayla.


“Zean-Zean, tidak kuduga kamu segila itu … padahal jahitan di kepalamu belum kering, istri hamil muda, lebih parahnya lagi, di rumah sak_”


“Mikhayla!! Ma, tolong usir dokter gadungan ini.”


Sejak awal Zean sudah katakan ingin ditangani dokter yang lain saja, akan tetapi Mikhayla yakin jika sang adik akan sembuh ditangan ajaibnya. Kini, kenyataan justru berbeda dan kemungkinan besar Zean akan menderita beberapa penyakit setelah keluar dari rumah sakit, salah satunya hipertensi.


Zia yang kali ini lebih setuju dengan pendapat Mikhayla hanya terkekeh melihat kelakuan Zean. Melihat Zean yang kini bisa marah, dia yakin pria itu memang sudah diperbolehkan pulang. Walau mungkin luka di kepalanya belum sembuh total, setidaknya di rumah jauh lebih tenang dibandingkan di rumah sakit.


“Sudahlah, Zean … Mikhayla benar, ada baiknya kamu pulang saja, kaki kamu juga baik-baik saja.”


Memang tidak ada alasan Zean menetap lebih lama, selain dia akan semakin sakit, Zia khawatir kondisinya akan dimanfaatkan demi meminta Syila melakukan ini dan itu. Yah, sebagai wanita yang memiliki Zean dengan versi yang lain, dia paham sekali bagaimana pria itu jika merasakan kesakitan dalam hidupnya.

__ADS_1


“Tapi Yudha dan Sean bagaimana, Ma?”


Tampaknya hidup Zean memegang prinsip harus bersama dalam keadaan apapun, akan tetapi jelas saja bukan berarti harus tetap bersama di rumah sakit untuk waktu yang lama. Hanya karena Sean ikut masuk rumah sakit, Zean justru menjadi betah dan hal ini tidak dibenarkan Zia.


“Di sini ada dokter, Zean … tanpa kamu juga mereka tetap akan keluar jika sudah waktunya,” sahut Mikhayla yang lagi-lagi menyambung padahal Zean tidak bertanya padanya.


Apa yang Mikhayla katakan memang tidak salah, Zean mengalah dan sama sekali tidak akan membantah. Lagipula dengan dia diizinkan pulang, bukankah ini adalah hal baik? Meski hanya sekali dia ingin menemui Nathan yang kini berstatus sebagai kriminal mendampingi Halim.


Hukuman apa yang akan Halim terima? Zean tidak muluk-muluk atau melakukan hal yang diluar batas kemanusiaan, Sebagaimana yang Mikhail katakan, biarkan berjalan sebagaimana perjanjian awal, terkait kejahatan yang baru dia lakukan, maka akan dia serahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib.


.


.


“Papa yang jemput?”


Zean memejamkan mata kala mendengar permintaan sang mama, kebahagiaannya beberapa saat lalu hilang sudah. Zean sudah berpikir bagaimana dia akan bermanja dalam pelukan sang istri di kediamannya tanpa perasaan was-was seperti sebelumnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya dan dia harus merasakan bagaimana hidup dengan kedua makhluk berisik itu.


Kedua adiknya yang diketahui tengah berada di luar negeri bersama teman-temannya hanya bisa mendengar kabar baik dari Zia terkait kakak ipar mereka. Hingga saat ini mereka belum berjumpa secara langsung, dan sejak tadi Syila sudah berdebar begitu mendengar nama kedua adik Zean.


“Ck, kalau tahu begini lebih baik aku di rumah sakit saja, Ma.”


Zean mengomel, hal itu terdengar jelas oleh Mikhail hingga pria itu terbahak dan menangkap maksud ucapan sang putra. Mereka memang tampaknya terlahir sama, sebagai pria yang tidak bisa lepas dari wanita yang dicintainya.


“Heh Zean mulutnya, kenapa kamu males pulang?”


“Bukannya males, Ma … istriku anak tunggal, aku hanya khawatir Syila tertekan nanti di sana,” jawab Zean menjual nama istrinya, Syila yang tidak terima menatapnya penuh tanya dan bingung kenapa Zean justru mengatakan hal semacam itu.

__ADS_1


“Oh iya? Benar begitu, Syila?” tanya Zia kemudian menoleh ke arah menantunya, jika dari penampilan tampaknya tidak mungkin Syila akan tertekan hanya karena terlalu ramai.


“Ti-tidak, Ma ….”


Jika selama ini dia selalu patuh terhadap sang suami, tapi untuk kali ini izinkan Syila sejenak pembangkang sedikit. Ucapan Zean sedikit mencoreng dirinya yang mampu menyesuaikan diri di manapun. Apalagi, jika keluarga suaminya begitu menerima bahkan tidak sekalipun mempertanyakan latar belakang pendidikan ketika mengetahui statusnya sebagai istri Zean.


“Tuh bohong kamu, Zean … Mama yakin Syila penyayang, pasti Lengkara dan Ameera akan senang jika sudah mengenalnya. Benar, ‘kan, Mas?”


“Benar, Sayang, Zean jangan kebiasaan menjual nama istri, padahal istrimu tidak begitu,” celetuk Mikhail kemudian diiringi gelak tawa, Zia yang juga merasa ini adalah hal yang lucu jelas saja ikut tertawa dan meninggalkan wajah datar Zean yang kini menatap kesal kedua orang tuanya.


"Pokoknya, untuk sementara kalian berdua pulang ke rumah utama titik."


"Tapi, Ma_"


"Tidak ada tapi-tapi, Mama mau mengenal menantu Mama," ucap Zia tak terbantahkan hingga putranya hanya bisa pasrah seraya menatap nanar tak tentu arah.


“Kalau tinggal di rumah utama, artinya tidur di kamar lamaku … lalu Sean? Ck, kamarnya ada di sebelah kamarku, sementara balkon kami menyatu. Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika begitu?”


.


.


- To Be Continue -


Sean : Eits stop!! Stor vote dulu sama Abang sinih 👮‍♂


Zean : Bunga juga boleh 😗

__ADS_1


__ADS_2